
Dengan memakai jasa mobil pick up Arumi membawa semua barangnya ke rumahnya yang dulu. Arumi , Nenek dan juga Arsya ikut naik dalam satu mobil itu.
Setelah melalui perjalanan, sampailah di lokasi dekat rumah Arumi. Mobil pick up tidak bisa masuk gang sempit yang menuju rumah Arumi. Jadi barang-barang Arumi terpaksa diturunkan di depan gang.
Arumi pun ikut turun bersama Arsya dan neneknya.
"Alhamdulillah, sampai juga kita," ucap Arumi.
"Akhirnya kita akan kembali melewati gang sempit ini," ucap lirih nenek Suryati menatap ke jalan sempit yang dulu sering ia lewati.
"Maafkan aku nek, yang belum bisa membahagiakan nenek. Aku tau nenek sangat senang tinggal di rumah pembelian mas Hendri. Tapi setelah mengetahui semuanya aku tidak bisa nek harus tinggal disana. Dan setelah nenek tau, nenek juga lasti tidak ingin tinggal disana," batin Arumi menatap Nenek Suryati yang nampak dengan raut sedihnya.
Barang-barang Arumi terpaksa diturunkan disitu.
Arumi melewati gang sempit menuju rumahnya. Sebelum sampai di rumahnya, Arumi mampir ke rumah pak Heri orang yang biasa Arumi mintain bantuannya. Arumi akan menggunakan jasa pak Heri untuk membawa barang-barangnya ke rumah.
Pak Heri pun bersedia.
Arumi dan nenek Suryati sudah sampai di rumah. Arumi merasa senang hatinya bisa kembali tinggal di rumah yang ditinggalinya sedari kecil.
"Walau pun cuma rumah kontrakan. Rumah ini menyimpan banyak kenangan diwaktu kecilku," ucap Arumi menatap penuh keseluruh ruang rumahnya.
"Itu sebabnya kamu ingin kembali ke rumah ini?" tanya nenek Suryati.
"Ehm..., itu sebahian salah satu dari alasanku ingin kembali tinggal disini Nek."
"Apa cuma itu alasanmu?" tanya nenek lagi kqrena penasaran.
"Sebenarnya..."
Arumi tidak jadi melanjutkan ucapannya. Karena nenek Suryati masih berdiri sembari menggendong Arsya yang tidur terlelap. Biarlah Arsya tidur sendiri.
Arumi meminta nenek untuk meletakkan Arsya diatas kasur kecilnya yang Arumi taruh di lantai.
Setelah meletakkan Arsya yang tidur terlelap. Arumi meminta nenek Suryati untuk duduk bersamanya.
"Saatnya aku akan memberitahu Nenek tentang alasanku kembali ke rumah ini."
Nenek Suryati mendengarkan dengan seksama karena sebentar lagi rasa penasarannya akan tau.
"Cepat katakan Arumi, Nenek tidak sabar ingin mendengar alasanmu tidak ingin tinggal di rumah itu. Jika alasanmu tidak masuk akal, kita akan kembali ke rumah itu lagi," ucap nenek.
__ADS_1
"Iya Nek. Dengarkan dulu alasanku," ucap Arumi.
"Sebenarnya, aku sudah berpisah dengan mas Hendri," cetus Arumi.
"Berpisah? Maksud kamu apa Rumi?" tanya nenek tidak mengerti dengan kedua matanya melotot.
"Mas Hendri sudah menceraikanku Nek!" ucap Arumi lirih, tanpa terasa air mata di pelupuk jatuh mengalir di pipi.
"Apa? Hendri sudah menceraikanmu. Bagaimana bisa dia menceraikanmu. Apa salah kamu," ucap nenek dengan suara lantangnya. Nenek Suryati tidak percaya Hendri menceraikanya, setau nenek hubungan mereka baik-baik saja.
Arumi masih dengan isak tangisnya.
"Apa alasan Hendri menceraikanmu Arumi?" tanya nenek lagi.
"Alasannya karena mas Hendri memilih menikah dengan wanita lain Nek." Tangis Arumi semaki pecah.
"Hendri menikah dengan wanita lain." Nenek Suryati mengelus dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.
"Astaghfirullahal adzim..., Kenapa Hendri tega melakukan semua itu Arumi," ucap Nenek dengan nafas tersengal-sengal.
"Dia memang tega Nek, itu sebabnya sekarang aku sangat membencinya. Nenek tidak tau kan? kapan dia menceraikanku."
Nenek Suryati hanya menggelengkan kepala.
Tangis Arumi semakin mengharu.
"Apa? Hendri menceraikanmu saat di rumah sakit?"
"Iya Nek." Arumi mengangguk dengan berlinang air mata.
"Kenapa kamu tidak memberitahu Nenek, biar Nenek marahin si Hendri suami tidak tahu diri itu. Bilangnya dulu dia mencintaimu dan ingin hidup bersamamu. Kenyataannya malah menghianatimu. Lelaki macam apa si Hendri itu? Dia pantas dikasih pelajaran."
"Bukankah Hendri berjanji akan meresmikan pernikahanmu. Apa dia lupa dengan janjinya yang ingin meresmikan pernikahannya dengan setelah anaknya lahir. Tapi kenapa malah menikah dengan wanita lain." Nenek Suryati sungguh geram sama Hendri.
"Ya Allah. Kasihan sekali kamu Nak. Kamu menanggung derita itu sendirian. Kenapa waktu itu kamu tidak langsung memberitahu Nenek."
Nenek Suryati memeluk cucu tercintanya merasa kasihan padanya. Rumah tangganya kini telah hancur.
"Aku takut Nenek akan syok mendengarnya," ucap Arumi dalam pelukan neneknya.
"Nenek tidak selemah yang kamu kira Arumi. Nenekmu ini kuat dalam menghadapi kehidupan ini."
__ADS_1
"Sekarang dimana Hendri? Apa kamu tau dimana dia berada. Nenek akan pergi menemuinya."
"Dia sudah bersama istri barunya. Mas Hendri menikah kemarin Nek. Dan parahnya kue yang nenek buat dan yang aku antar itu untuk acara pernikahan mas Hendri."
"Ya Allah! Kenapa bisa kebetulan sekali. Kita membuat kue untuk pernikahan suamimu. Asataghfirullohal adzim."
Nek Suryati kembali mengelus dadanya yang sesak.
"Nenek tidak papa kan?" tanya Arumi yang menghawatirkan keadaan nenek.
"Nenek tidak papa." Nenek Suryati mencoba tegar dihadapan Arumi. Padahal dihatinya saat ini tengah gemuruh riuh memikirkan pernyataan Arumi. yang diluar dugaannya.
"Maafkan Nenek Arumi. Dulu nenek memaksamu untuk cepat menikah dengan Hendri. Pernikahan baru seumur jagung, dia sudah menceraikanmu. Mungkin jodohmu dengan Hendri hanya sampai disini. Maafkan Nenek ya Arumi."
"Ini bukan salah Nenek. Ini sudah tadir," ucap Arumi pasrah.
"Sudah terjadi, sebaiknya kamu cepat move on saja," pinta nenek Suryati.
"Iya Nek, mulai sekarang aku akan move on dari kehidupan mas Hendri. Itulah alasanku tidak ingin tinggal di rumah mewah itu lagi. Rumah yang di pilih mas Hendri menemaniku bersama Arsya dan Nenek. Sedangkan dia seenaknya meninggalkan kita."
"Hendri sungguh keterlaluan. Semoga dia mendapatkan pelajaran atas berbuatan buruknya," Doa nenek Suryati.
Nenek sungguh geram dengan Hendri. Tega-teganya dia menceraikan cucu tercintanya. Apa lagi saat melahirkan buah darinya.
Nenek Suryati menatap kearah Arsya.
"Jadi Arsya tidak punya seorang ayah, sejak lahir? Ya Allah, kenapa ini bisa terjadi. Kasihan Arsya," batin lirih nenek.
"Kamu yang sabar Arumi. Lupakanlah Hendri. Bukalah lembaran yang baru. Nenek akan selalu bersamamu, disampingmu menemanimu dalam suka dan duga," ucap nenek Suryati.
"Terima kasih Nek. Sudah menjadi Nenekku uang paling baik. Aku sayang sama Nenek."
Mereka berdua kembali berpelukan.
Tidak seperti dugaan Arumi. Nenek Suryati ternyata orangnya kuat dalam menghadapi permasalahan.
Arumi menghela nafas lega sudah bisa memberitahu neneknya tentang statusnya. Ternyata nenek Suryati bisa menerima dengan lapang dada.
Kini Arumi kembali bisa tersenyum lagi.
Barang-barang sudah datang. Saatnya Arumi akan menata semua barangnya kedalam rumah. Pak Heri ikut membantu menata barang Arumi.
__ADS_1
Dengan hati yang lapang Arumi menata semua barangnya. Nenek Suryati juga ikut membantu membereskan barangnya sendiri.