Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 54 Mengurungkan


__ADS_3

Didalam mobil nampak keheningan diantara mereka. Gilang hanya bisa menatap Arumi lewat kaca spion didalam mobilnya. Gilang yang tadinya ingin membicarakan hal penting pada Arumi jadi minder. Karena Arumi memilih diam sedari masuk kedalam mobil.


Arumi duduk termangu sembari menatap keluar jendela mobil. Arumi memikirkan tentang dirinya yang hari ini belum berhasil mendapatkan pekerjaan.


"Bagaimana ini, uang tabunganku sudah menipis dan aku masih belum dapat pekerjaan," batin sedih Arumi.


Gilang tidak ingin larut dalam keheningan. Dia memberanikan diri untuk mulai ngobrol sama Arumi.


"Rumah kamu dimana?" tanya Gilang memulai percakapannya sembari mengemudi.


Arumi yang sedang larut dalam kesedihannya, tidak mendengar ucapan Gilang.


"Kenapa dia tidak menanggapi ucapanku," batin Gilang.


Gilang menghela nafas panjang, lalu menatap Arumi dari kaca spion. Nampak Arumi dengan raut wajah sedihnya.


"Ehem, ehem," Gilang berdehem untuk membuyarkan suasana hati Arumi.


Dan benar Arumi tersadar dari lamunan sedihnya. Arumi jadi salah tingkah sendiri.


"Kok mukanya sedih gitu?" tanya Gilang.


"Eeenggak kok biasa aja," ucap Arumi kikuk.


"Sedang ada masalah ya," ucap Gilang.


"Ada sih sedikit." Arumi jujur.


"Pasti Arumi sedih kareba duceraikan suaminya," batin Gilang.


"Masalah apa?"


"Kayaknya kamu nggak perlu tau. Kamu kan bukan keluargaku atau teman dekatku," ucap Arumi.


"Aku bisa kok jadi temanmu, walau bukan teman dekat," ucap Gilang.


"Maaf ya, aku nggak bisa berteman dengan seorang laki-laki, takut menjadi fitnah. Kamu tau sendiri kan, kalau aku sudah berkeluarga."


"Oh begitu, maaf ya kalau aku lancang menawarkan diri untuk menjadi temanmu," ucap Gilang.


"Nggak papa kok, nggak usah minta maaf gitu kamu nggak bersalah."

__ADS_1


"Ngomong-ngomong rumah kamu dimana?" Gilang kembali bertanya.


"Rumahku di jalan X," jawab Arumi.


"Sepertinya sudah dekat untuk sampai di rumah kamu. Tapi keadaan perutku sedang tidak bersahabat. Sudah keroncongan sedari tadi ingin makan. Gimana kalau aku berhenti dulu untuk makan, karena aku sangat lapar," pinta Gilang.


Gilang sengaja membuat ulah, supaya bisa lama bersama dengan Arumi. Gilang merasa nyaman berada didekat wanita seperti arumi yang cantik, berhijab, sopan dan lembut ucapannya.


Gilang tiada menyangka ternyata wanita seperti Arumi bisa membuka hatinya yang selama ini terkunci rapat untuk menerima kehadiran seorang wanita dalam kehidupannya.


"Silahkan saja kalau kamu mau turun untuk makan dulu. Aku juga akan turun disini saja, dan mencari angkot untuk sampai di rumahku," ucap Arumi.


"Jangan!" cetus Gilang.


"Jangan turun. Aku mohon. Aku sudah memberimu tumpangan dan berjanji akan mengantarkanmu sampai rumah. Jadi jangan turun ya," pinta gilang.


"Kamu nggak usah merasa terbebani olehku. Aku nggak papa kok, kalau harus turun disini," tegas Arumi.


"Kamu tidak akan turun disini. Laparku sepertinya sudah reda. Aku tidak jadi makan. Jadi aku akan mengantarmu sampai ke rumahmu seperti janjiku tadi," ucap Gilang yang tidak mau kehilangan kesempatan bersama Arumi.


"Terserah kamu, aku tidak memaksa. Maaf kalau aku menjadi beban bagimu," ucap Arumi.


"Kamu bukanlah beban untukku. Sebagai sesama manusia hidup di bumi ini kita harus saling tolong nenolong. Hanya itu saja yang bisa aku lakukan," ucap Gilang.


Arumi baru tersadar kalau dirinya baru saja diceraikan oleh Hendri suaminya. Arumi masih dalam masa iddah.


"Harusnya aku tidak bersama seorang laki-laki. Apa lagi dalam satu mobil dan tidak ada orang ketiga disini. Ya Allah kenapa aku baru sadar. Itu tidak boleh dilakukan," batin Arumi.


Arumi nampak gelisah didalam mobil. Arumi tidak mau berlama-lama dengan Gilang. Dia pun menyuruh Gilang untuk melajukan mobilnya supaya cepat sampai di rumahnya dan segera turun.


Gilang melajukan mobilnya sangat kencang karena desakan Arumi. Dan akhirnya sampailah di rumah Arumi.


"Jadi ini rumah kamu," ucap Gilang yang sudah menepikan mobilnya tepat di pintu pagar rumah Arumi.


"Iya ini rumahku," ucap Arumi.


Sebelum turun Arumi mengucapkan banyak terima kasih pada Gilang yang sudah memberinya tumpangan gratis untuk yang kedua kalinya.


Arumi mengatakan pada Gilang. Jika dilain waktu bertemu dengannya tidak usah bertutur sapa dengannya.


Gilang mempertanyakan apa sebabnya tidak boleh menyapanya.

__ADS_1


Arumi menjelaskan. Kalau dirinya saat ini dalam masa iddah karena baru saja diceraikan oleh suaminya. Arumi berharap Gilang mau mengerti.


Gilang menyanggupi permintaan Arumi.


Sudah mengatakan semuanya pada Gilang, Arumi akan turun dari mobil lalu segera masuk kedalam rumah. Arumi tidak ingin berlama-lama dengan laki-laki yang bukan muhrimnya.


"Tunggu sebentar," ucap Gilang.


Langkah Arumi terhenti yang sudah hampir membuka pintu mobil.


"Izinkan aku bertanya padamu, karena setelah ini kita tidak boleh saling bertutur sapa," ucap Gilang.


"Baiklah katakanlah," ucap Arumi siap mendengar pertanyaan Gilang.


"Apakah suamimu datang saat kamu melahirkan, karena saat itu dia tidak bisa aku hubungi."


Raut wajah Arumi berubah jadi sedih mendengar pertanyaan Gilang.


"Dia datang. Tapi tidak seperti yang kuharapkan. Dia datang untuk menceraikanku," ucap Arumi lirih.


"Suami macam apa dia? Kenapa menceraikanmu tepat saat kamu melahirkan?"


"Aku tidak tau alasannya, kenapa tiba-tiba dia menceraikanku." Tangis Arumi pecah.


"Hei jangan menangis. Maaf-maaf kalau aku lancang mempertanyakan ini semua," ucap Gilang merasa bersalah karena membuat Arumi menangis.


"Sampai sekarang pun aku tidak tau alasannya," imbuh Arumi masih dengan isak tangisnya.


Gilang menatap teduh kearah Arumi.


"Jadi kamu tidak tau alasannya. Aku tau Arumi alasan suamimu menceraikanmu. Dia menikah dengan adikku. Mereka berdua sama-sama kejam telah menyakiti hatimu," batin Gilang.


Melihat Arumi yang sangat sedih dengan isak tangisnya. Gilang tidak jadi memberitahu Arumi tentang alasan suaminya menceraikannya. Gilang mengurungkan niatnya. Gilang tidak mau Arumi semakin bersedih mengetahui penghianatan suaminya.


"Sudahlah jangan terlalu larut dalam kesedihan. Dia pasti lelaki yang tidak baik untukmu. Sudah jelas dia lelaki yang ingkar dengan janji sucinya. Dia tega menceraikanmu saat harus berjuang melahirkan seorang anak. Dia pantas dilupakan," ucap Gilang.


"Aku memang akan melupakan suamiku, karena dia juga sudah melupakanku dan tidak perduli pada kami," ucap Arumi.


"Kamu yang sabar ya. Aku ikut prihatin melihat keadaanmu. Kebahagiaan pasti akan datang untukmu. Kamu harus yakin itu, jadi jangan terlalu larut dalam kesedihan." Gilang mencoba menenangkan Arumi yang larut dalam kesedihannya.


Arumi menyeka air matanya.

__ADS_1


"Aku harus bisa melewati semua ini. Semua ini pasti akan berlalu. Aku akan kembali bangkit dan tidak akan memikirkan suamiku lagi. Mungkin benar ucapanmu dia tidak baik untukku," ucap Arumi menyemangati dirinya.


"Aku harus turun. Sekali lagi terima kasih atas semuanya," ucap Arumi, lalu turun dari mobil dengan air mata masih tersisa.


__ADS_2