Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Tak bisa menjelaskan


__ADS_3

Melinda merasa senang hatinya saat ini. Nampak Melinda tengah tiduran di ranjangnya yang belum bisa memejamkan matanya karena teringat dengan Hendri. Dengan mudah dia bisa menaklukkan Hendri untuk menjadi rekan kerjanya yang bisa membantunya menjalankan perusahaan.


 


Tak hanya rasa itu ada rasa lain yang membuat hatinya sangat senang. Rasa yang masih belum bisa Melinda pahami.


 


Setengah malam sudah berlalu berganti pagi yang cerah. Arumi sudah bangun sedari subuh. Seperti biasa Arumi mengerjakan perintah Tuhannya tapi tidak di kerjakan bersama suaminya. Hendri sudah di  bangunin sama Arumi sedari waktu subuh tiba tidak mau bangun.


 


Alasannya Hendri masih merasa lelah dan masih ngantuk. Arumi tidak mau memaksa suaminya bangun yang memang benar-benar sangat lelah sedari tadi malam.


 


Arumi memilih membiarkannya masih tertidur. Usai melaksanakan kewajibannya sebagai muslim, Arumi kembali bergulat dengan pekerjaan rumahnya. Arumi harus menyelesaikannya sebelum berangkat kerja.


 


Arumi kerja serabutan tanpa di bantu siapa pun. Arumi wanita yang kuat walau pun sedang hamil, Arumi tetap giat bekerja. Mia tiada berbelas kasihan pada Arumi yang kehamilannya sudah mencapai tiga bulan, Mia tak mau membantunya sedikit pun walau dia sedang nganggur.


 


Hendri di dalam kamarnya masih nampak tertidur lelap. Suara dering hand phonenya yang berbunyi berulang-ulang tak membuatnya bangun di hari yang mataharinya mulai bersinar.


 


Sementara Arumi sudah membereskan semua pekerjaannya. Dia akan membersihkan diri dan berdandan rapi setelah itu berangkat kerja. Saat masuk kamarnya Arumi masih melihat suaminya tertidur. Dia mendekatinya hendak membangunkannya lagi karena hari ini masih hari kerja bukan hari libur.


 


Dengan lembut Arumi berbisik di telinga Hendri. Masih tak di respon sama Hendri. Berlanjut Arumi mengecup kening suaminya yang seharian kemarin tak ia dapatkan. Sudah di kecup berulang-berulang Hendri masih tak merespon belaian istrinya dan masih saja dengan tidurnya yang lelap.


 


"Mas Hendri bangun, ini sudah siang lo," ucap Arumi dengan suara keras.


 


Di respon sama Hendri, namun Hendri hanya  bergumam saja dan hanya mengubah posisi tidurnya. Tiba-tiba suara dering hand phone Hendri berdering lagi.


 


"Tu ada telfon Mas, ayo cepat bangun kamu masuk kerja nggak?"


 


"Ada telfon, masuk kerja," batin Hendri dan mengingatnya.


 


Hendri pun teringat kalau saat ini dia harus bekerja, Hendri harus menjemput Melinda di rumahnya. Dan telfon itu pasti dari Melinda. Hendri pun sontak membangunkan badannya membuang selimut yang semalam sudah menghangatkan tubuhnya.


 


"Mana hand phone ku?" Tanya Hendri pada Arumi yang menyaksikan tingkahnya tengah gusar.


 


"Nggak tau," jawab Arumi santai, sembari melihat tingkah Hendri yang sedikit lucu.


 


Hendri tengah bingung mencari hand phonenya. Dia mencari di tempat biasa menaruhnya tapi nggak ada. Arumi pun ikut membantu mencarinya tapi tak menemukannya juga.


 


Saat keduanya serius mencari di semua tempat di kamarnya, terdengar lagi suara dering hand phone Hendri. Dan itu terdengar dari saku celana Hendri.

__ADS_1


 


"Ini dia hand phonenya," ucap Hendri merasa sedikit kesal ternyata hand phone yang di carinya ada di saku celananya yang sedari tadi malam belum ganti.


 


"Mas, Mas," Arumi geleng-geleng kepala . Arumi pun langsung masuk ke kamar mandi.


 


Hendri langsung mengangkat telfon dari Melinda. 


 


Melinda mengingatkan Hendri untuk menjemputnya.


 


"Iya Bu, saya akan berangkat setengah jam lagi," ucap Hendri mengakhiri percakapannya dengan Melinda di telfon.


 


Mia dan Salsa sudah ada di garasi mobil. Dengan pakaian joggingnya yang biasa di pakainya setiap pagi, Mia memperlihatkan pada Salsa kalau kakaknya sudah membeli mobil baru. 


 


"Wah..., mobilnya bagus banget. Ini mobil mewah Bu seperti milik orang-orang kaya. Wah..., kakak hebat. Di suruh beli mobil sama Ibu langsung beli. Aku salut sama kak Hendri," ucap Salsa merasa bangga sama Kakaknya sembari berjalan memutari mobil yang di kira milik kakaknya itu.


 


"Hendri memang anak lelaki Ibu yang bisa di andalkan. Ibu bangga padanya. Hendri tau selera Ibu dia membeli mobil yang bagus," ucap Mia munjunjung tinggi anaknya yang di kira sudah bisa membeli mobil, padahal itu mobil milik bos Hendri.


 


Di dalam kamar Hendri sudah selesai mandi dan cepat-cepat memakai baju kantornya yang sudah di siapkan Arumi di atas ranjangnya.


 


 


"Nggak sarapan dulu Mas, sudah aku siapkan loh," ucap Arumi yang masih memakai hijabnya di depan kaca rias.


 


"Aku buru-buru, aku harus sudah sampai tepat jam tujuh. Tu lihat sekarang sudah hampir jam tujuh. Aku berangkat dulu ya."


 


Hendri mengambil kunci di balkonnya dan melangkah dengan cepat keluar dari kamarnya. 


 


"Iya, iya Mas, buru-buru amat sih."


 


Hendri tak sempat menceritakan tentang mobil yang sudah di bawa pulang Hendri ke rumahnya pada Arumi. Arumi juga tak begitu menganggapnya penting itu mobil siapa.


 


"Itu Kakakmu sudah datang," ucap Mia saat melihat Hendri keluar dari rumah, dan berjalan menuju garasi mobil.


 


Mia memperlihatkan senyum rasa bangga pada Hendri. Begitu juga dengan Salsa.


 


"Ibu kok ada di sini ngapain? Kamu juga Salsa ngapain di sini pagi-pagi," tanya Hendri Heran.

__ADS_1


 


"Kakak hebat, baru di suruh beli mobil, kakak langsung membelinya. Kakak memang hebat, kedua jempol Salsa di acungkan.


 


Hendri tak merespon hanya menatap Salsa sembari mengerutkan kedua alisnya.


 


Mia mendekati Hendri yang masih bergeming melihat sikap Salsa yang tak di mengertinya.


 


"Ibu mau coba naik mobil baru, boleh dong!!" 


 


"Apaan sih Ibu, ini tu bukan mobil baru?" Tegas Hendri.


 


"His..., nggak usah merendah gitu sama Ibu. Kamu emang suka bikin kejutan sama Ibu. Mobil ini bagus dan mewah. Ibu suka banget, boleh dong Ibu ikut numpang ke tempat jogging," Mia menyenggol-nyenggol badan Hendri yang berdiri di sampingnya.


 


"Aku ini lagi buru-buru Bu, aku sudah di tunggu sama seseorang, aku harus cepat sampai."


 


"Halah, pokoknya Ibu mau ikut naik mobil. Kamu nggak tau ya semalam Ibu sampek mimpi naik mobil barumu ini."


 


"Sudah Hendri bilang, ini bukan mobilku Bu," jelas Hendri.


 


"Kamu selalu bilang seperti itu, cepat buka pintunya Ibu mau naik."


 


Mau tak mau Hendri terpaksa menuruti kemauan Ibunya yang tak bisa di nego lagi. Dengan muka kesalnya Hendri mulai melajukan mobilnya. Di lihatnya jam di tangannya sembari menyetir, dan terlihat sudah jam tujuh.


 


"Aku sudah terlambat, pasti aku bakalan di marahin bosku," gerutu Hendri.


 


Mia tak menghiraukan ucapan Hendri, dia sibuk menikmati suasana naik mobil baru milik anaknya yang membuatnya merasa senang dan bahagia karena itu impiannya.


 


Hendri makin susah menjelaskan pada Ibunya kalau itu bukanlah mobilnya. Saking susahnya Hendri memilih tak mau memberitahunya lagi biarkan saja menganggapnya seperti itu, lagian ini sudah hampir jam tujuh waktu Hendri tak cukup untuk menjelaskan panjang lebar pada Ibunya yang sudah meyakini kalau itu mobil yang di belinya.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2