
Hendri sedari tadi belum sempat membuka hand phonenya karena pekerjaan yang banyak, jadi tidak tau kalau ada pesan dari Arumi istrinya.
Sementara Arumi sudah menanti kedatangan suaminya di jam pulangnya.
"Biasanya jam segini mas Gilwang sudah pulang, tapi kok sekarang belum pulang sih! Apa aku yang nggak sabar menanti kedatangannya," ucap Arumi sembari menutup jendela di ruang depan karena hari sudah sore.
Arumi menunggu kepulangan Hendri. Sudah sampai waktu maghrib, namun Hendri belum pulang juga.
Arumi memilih akan mengerjakan kewajibannya dulu, dan menunggunya di kamar saja sembari rebahan.
Tak terasa karena saking capeknya hari ini, Arumi tertidur pulas sampai malam. Dan dia tidak tau kedatangan Hendri yang sekarang menyusulnya tidur.
Sayang sekali? Padahal tadi Arumi sangat mengharapkan kedatangan suaminya dan ingin mengatakan semuanya kalau dia akan pindah ke rumah nenek saat sudah lahiran.
Sebelum menghempaskan tubuhnya diatas ranjang, Hendri mengelus perut besar Arumi yang lahirannya tinggal beberapa hari lagi.
Hendri menatap teduh ke wajah Arumi yang tengah tertidur lelap, berlanjut Hendri mengecup kening Arumi.
"Kasihan sekali Arumi pasti dia capek sekali, hingga tak berkutik saat aku kecup keningnya. Kamu tadi menungguku kan? Maafkan aku sayang yang selalu membuatmu menunggu tanpa kabar."
"Aku akan membuatmu bahagia Arumi, kamu yang sabar ya," ucap Hendri lalu menghempaskan tubuhnya di ranjang.
Hari sudah pagi saja. Usai subuh tadi Arumi memilih masih di dalam kamarnya. Tak seperti biasanya sudah stand by bersih-bersih rumah.
Di kehamilan yang sudah sembilan bulan berjalan Arumi merasa badannya gampang capek dan terasa pegal di sekujur tubuh. Beruntung Ami tidak protes kalau pagi ini Arumi belum bebenah rumah.
Ingin sekali tubuhnya di pijat, tapi sama siapa? Hendri selalu pulang larut, dan paginya harus kembali bekerja lagi.
Seoerti keinginannya kematin, Arumi akan bicara sama Hendri yamg masih duduk santai di tepi ranjang sembari melihat gadjetnya. Arumi ikut bergabung duduk bersamanya.
Arumi membenamkan kepalanya di pundak suaminya, dan mulai bicara sama Hendri.
"Mas, kamu kemarin baca pesanku kan?" Tanya Arumi.
"Ya aku baca, tapi saat aku sudah mau pulang bacanya," jawab Hendri.
"Pantesan, kamu aku tungguin nggak pulang-pulang. Mas sibuk ya kemarin?"
"Sibuk banget sayang! Karena kemarin Mas cuti jadi pekerjaan numpuk."
"Oh gitu ya."
__ADS_1
"Gini lo Mas, aku pingin bicara serius sama kamu."
"Bicara serius apa? Katakan saja," ucap Hendri, tangannya berhenti memainkan gajednya.
Arumi menatap penuh harap pada suaminya.
"Mas, sebentar lagi aku lahiran. Bagaimana kalau aku setelah lahiran tinggal di rumah nenek?"
"Apa? Tinggal di rumah nenek? Kenapa harus tinggal disana Arumi. Disini lebih nyaman tempatnya."
"Aku tau Mas! Kamu tau kan bagaimana sikap ibumu padaku yang selalu menyuruhku bekerja dengan rentetan omelannya. Aku tidak mau sakit hati Mas, saat aku harus merawat bayiku dan menyehatkan badanku setelah lahiran mendengar ocehan ibumu yang menuntutku harus bekerja di rumah ini," ucap Arumi lirih.
"Bagaimana ya. Sebenarnya aku sangat keberatan kamu minta tinggal di rumah nenekmu. Tapi kamu menginginkannya. Baiklah aku izinkan kamu tinggal di rumah nenek setelah lahiran."
"Benarkah Mas!" Arumi membangkitkan kepalanya dan menatap wajah suaminya
"Iya sayang!" Arumi mengulas senyum leganya.
"Terima kasih Mas," ucap Arumi lalu memeluk suaminya.
Hati Arumi sungguh senang mendapat izin dari suaminya. Tiada henti dia memgulas senyum. Namun senyumnya terhenti saat mendengar teriakan dari balik pintu kamarnya.
Siapa lagi kalau bukan Mia yang memanggil Arumi untuk segera keluar dari kamarnya. Perutnya sudah lapar ingin dibuatkan masakan yang enak buatan Arumi.
Arumi menghela nafas berat, menunjukkan betapa beratnya memenuhi perintah mertuanya dalam situasi perut besarnya.
Arumi hendak beranjak keluar dari kamar, namun dihentikan Hendri.
"Kamu istirahat saja Arumi, biar aku yang menghadapi ibu."
Arumi menghentikan langkahnya, menatap heran kearah suaminya yang mendului jalannya.
Hendri merasa sangat kasihan sama istrinya yang terlihat seperti sudah lelah mengandung sembilan bulan.
"Ada apa Bu?" ucap Hendri saat membuka pintu kamarnya.
"Kok kamu yang keluar bukan Arumi," tanya,Mia.
"Arumi sedang istirahat Bu. Ada apa mencarinya?"
"Seperti biasa lah, Arumi harus membuat sarapan?"
__ADS_1
"Biar aku aja Bu yang bikin sarapan buat Ibu, kasihan Arumi. Perutnya sudah besar," elak Hendri.
"Kamu yang bikinin sarapan? Nggak-nggak. Ibu maunya masakan Arumi, karena sudah pasti sangat enak. Pokoknya Ibu maunya dibuatin sama Arumi." Mia menyunggingkan mulutnya.
Arumi yang mendengar omongan mertuanya dia beranjak keluar dari kamarnya.
"Akan aku masakin Bu. Aku nggak papa masih kuat kok ," ucap Arumi meyakinkan Mia supaya berhenti tak berdebat lama dengan suaminya.
"Arumi, Arumi, kamu sungguh istriku yang baik, dalam keadaanmu seperti ini masih saja bersedia memenuhi perintah ibuku." Hendri geleng kepala melihat sikap istrinya.
"Biar aku bantu ya," ucap Hendri menawarkan diri.
Arumi mengangguk tanda bersedia.
Hendri merasa bersalah sudah membawa Arumi ke rumah ini. Yang harus rela di perlakukan seperti pembantu oleh ibunya.
"Pantas saja Arumi ingin tinggal di rumah neneknya setelah lahiran," batin Hendri.
Hendri ingin mewujudkan kebahagiaan Arumi, dengan membelikannya rumah yang layak untuk bisa di huninya. Bukan seperti rumah nenek yamg tidak layak huni menurut Hendri karena hanya ada satu kamar. Hendri nggak bakalan nyaman tinggal disana.
Hendri harus membeli rumah sebelum Anaknya lahir. Dia ingin mewujudkan keinginan Arumi yang tidak ingin tinggal bersama ibunya yang cerewet itu.
"Aku harus punya uang yang banyak untuk membeli rumah. Caranya bagaimana ya?" Tanya hendri dalam pikirnya.
Hendri teringat dengan Melinda yang menjanjikannya perusahaan akan jadi miliknya setelah menikah dengannya.
"Apa aku harus menikah dengan Melinda, supaya mempunyai uang yang banyak dan bisa membelikan rumah untuk Arumi dan neneknya seperti yang dicita-citakan Arumi," ucap Hendri bingung. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk keningnya.
Hendri berpikir keras untuk menentukannya. Apakah harus bersedia menikah dengan Melinda.
"Kenapa kamu Mas, kok gundah gitu," tanya Arumi yang sedari tadi mengawasi tingkah suaminya.
"Nggak papa Arumi, Mas hanya memikirkan supaya kamu terbebas dari jeratan ibuku."
"Ya itulah Mas, yang membuatku ingin tinggal di rumah nenek saja setelah lahiran."
"Tapi aku tak sanggup Arumi kalau harus tinggal di rumah nenekmu," gumam Gilwang dalam hatinya yang tak berani mengungkapkannya pada Arumi.
"Bagaimana ini? Apa aku harus bersedia menikah dengan Melinda demi membahagiakan Arumi dan terbebas dari jeratan ibuku?"
"Sepertinya aku harus bersedia. Ini demi Arumi dan buah hatiku supaya hidup sejahtera," batin Hendri sembari menatap teduh ke Arumi yang sibuk menyajikan sarapan pagi di meja makan.
__ADS_1
Namun ada yang di lupakan Hendri kalau setelah lahiran akan memutuskan meresmikan pernikahannya.