
"Lucu banget dedeknya. Ih... gemes banget," ucap Salsa saat mendekati Arsya.
"Anak siapa sih ini. Duh cakep banget, lucu gemesin pula," Salsa menyolek pipi Arsya dengan perasaan gemas berlanjut mengecup keningnya.
Baby sister itu tersenyum menanggapi pujian untuk Arsya dari Salsa.
Salsa tidak tau kalau itu adalah Arsya keponakannya sendiri. Meski dulu Salsa pernah melihat Arsya waktu masih bayi merah. Dia tidak mengenali Arsya yang sekarang sudah bisa menyangga kepalanya sendiri dan berubah jadi imut dan ngegemesin.
Arsya tersenyum ramah seakan tau Salsa adalah tantenya.
Datang Mia memarahi Salsa.
"Kamu itu lo, kok nggak bantuin Ibu jalan. Sudah tahu pakaian Ibu ribet buat jalan nggak mau bantuin lagi." Mia nerocos marah.
"Salah Ibu sendiri. Kenapa memakai pakaian seperti itu?" Salsa menunjuk ke pakaian Mia yakni kebaya mewah dengan rok yang sempit sedikit susah buat berjalan, harus pelan-pelan.
Baby sister itu hanya menatap heran kearah Mia.
"Ni orang mau ngapain sih, rempong amat. Malam-malam juga," ucapnya dalam hati.
Mia menatap kearah Arsya. Dalam hati Mia dia gemas melihat Arsya yang tampan dan lucu.
Namun Arsya tak sedang menatapnya.
"Ni bocah lucu amat. Ini anak siapa?" Ucap Mia gemas sembari mencubit pipi Arsya.
Seketika dicubit gemas oleh Mia Arsya menangis. Membuat baby sister Arsya kaget dan bingung.
"Kenapa sayang," ucap baby sister itu, lalu menenangkan Arsya.
"Ibu! Kamu apain si baby lucu ini. Tuh lihat sekarang nangis kasihan lo." Salsa menyalahkan ibunya.
"Ibu cuman nyubit pipinya yang ngegemesin. Habis lucu banget, cakep pula. Nanti anaknya Melinda pasti cakep kayak gitu. Soalnya ayahnya tampan kayak artis korea," ucap Mia kepedean.
Salsa menyunggingkan mulutnya.
__ADS_1
"Ibu nggak ingat. Ibu itu sudah punya cucu pertama, anaknya kak Arumi. Ibu lupa ya."
Mia mengerjap-ngerjap matanya pura-pura mengingat.
"Iya, ya Ibu ingat. Salahnya sendiri Arumi tidak memperkenalkan Arsya pada Ibu. jadi Ibu nggak berasa punya cucu. Ah sudahlah nggak usah kamu ingat mantan kakak iparmu itu. Entah gimana sekarang nasibnya."
"Yah, Ibu emang mertua jahat. Ntar Ibu bakal dapet balesannya lo," ucap Salsa kesal.
"Eh kamu. Doain Ibu ya." Mia memicingkan matanya.
"Enggak Bu."
"Sudah-sudah ayo kita masuk. Sudah ditunggu sama kakakmu," ajak Mia.
Suasana diruang tamu hanya dipenuhi obrolan Pak Subroto dengan Gilang, dan Liliana mengobrol dengan Arumi.
Pak Subroto tidak protes dengan Gilang yang memilih wanita janda beranak satu sebavai calon istrinya Gilang. Pak Subroto yakin sepenuhnya pasti pilihan Gilang yang terbaik. Gilang tipe pemilih yang tepat. Dia selalu mempertimbangkan segala hal. Buktinya ia selalu berhasil dalam usahanya.
Liliana yang sudah mantap dengan pilihan putra tercintanya sangat senang dengan Arumi. Selain cantik, anggun Arumi wanita yang sopan. Tiada henti Liliana memuji Arumi. Ditambah sesekali Gilang memuji Arumi wanita yang kuat. Walau pun single parent, Arumi wanita karier yang hebat, bisa mendirikan perusahaan kuenya dengan sukses dalam hitungan bulan.
Sementara Hendri dengan perasaan kesal harus menyaksikan Gilang dan Arumi bertukar kata dengan mertuanya.
"Arumi. Apa kamu tidak tau Arumi. Aku masih mencintaimu. Aku berusaha untuk bisa kembali padamu. Tapi kenapa kamu malah memilih Gilang kakak dar istriku, itu sungguh menyakitkan hatiku Arumi," batin Hendri meronta-ronta sakit sembari menatap Arumi yang tiada pernah menatapnya.
Arumi sungguh muak dan kesal dengan Hendri. Melihat Arsya datang bersamanya tak mau menyapanya. Hendri benar-benar tidak perduli dengan Arsya putranya. Hendri sungguh mementingkan egonya.
Arumi semakin yakin pada Gilang, Kalau Gilanglah orang yang tepat sebagai calon ayah untuk Arsya.
Sementara Melinda nampak dengan raut wajah kesal. Sedari tadi tanpa berkomen. Melinda hanya menyunggingkan mulut. Apa lagi saat mendengar beberapa pujian dari Ayah dan ibunya untuk Arumi.
Sesekali mata Melinda melirik kearah Hendri yang yang saat ini menatap teduh penuh rasa simpati pada Arumi mantan istrinya. Membuat hati Melinda tambah semakin kesal dan cemburu.
"Kak Gilang tidak boleh menikah dengan Arumi. Itu tidak boleh terjadi. Masak mantan istri suamiku harus menikah dengan kakakku. Nggak, aku nggak rela," batin Melinda meronta-ronta seakan ia cetuskan.
Sudah tidak bisa ditahan. Melinda pun mencetuskannya.
__ADS_1
"Kak Gilang. Kenapa Kakak harus memilih wanita seperti Arumi seorang janda sudah punya anak pula. Dia tidak pantas untukmu," teriak Melinda tiba-tiba.
Bukan hanya Gilang saja. Semua tercenang mendengar ucapan Melinda.
Hendri pun sama tercenang melihat sikap Melinda. Mempertanyakan kenapa Melinda mengatakan hal seperti itu. Sama saja itu memancing Gilang untuk membongkar rahasianya. Hendri pun sangat bingung, takut Gilang membongkar rahasianya dihadapan mertuanya.
"Melinda. Kenapa kamu emosi gitu. Tenangkan hatimu Melinda," ucap Hendri menenangkan Melinda dengan pelukannya.
"Maaf ini hanya efek ibu hamil saja, jangan diambil hati," ucap Hendri mencoba menutupi.
"Aku rasa kamu tahu jawabannya Melinda, kenapa aku memilih menikahi wanita janda dan punya anak?" ucapan Gilang semakin membuat Hendri takut.
"Apa alasanmu Melinda tidak setuju dengan pilihan Kakakmu?" tanya pak Subroto.
"Iya, kenapa kamu seperti tidak suka dengan Arumi Melinda?" ucap Liliana.
"Ayah dan Ibu perlu tahu alasanku menikahi Arumi. Selain aku sangat mencintainya. Mungkin Allah juga sudah mengatur semua ini, telah mempertemukan Arumi denganku. Setelah Arumi disakiti hatinya oleh mereka berdua." Tangan Gilang menunjuk kearah Melinda dan Hendri.
Melinda dan Hendri terbelalak dengan ekspresi ketakutan.
"Apa maksudmu Gilang?" tanya pak Subroto serius.
"Ayah tidak tahu kebusukan menantu Ayah. Dia hanya memanfaatkan kekayaan Melinda. Dia menikahi Melinda demi uang. Dan menceraikan iatrinya saat melahirkan supaya bisa menikah dengan Melinda. Dan itu atas desakan Melinda yang sudah tergila-gila sama Hendri. Mereka sama-sama tidak tau diri Yah. Hendri menghianati istrinya, sedangkan Melinda perusak rumah tangga. Mereka sungguh kejam Yah, Bu?" terang Gilang.
"Apa? Jadi rumah tangga kalian terbangun dari hasil menyakiti hati seorang istri. Kalian sungguh kejam. Ala lagi menceraikan Arumi saat melahirkan. Itu sungguh miris rasanya bagi seorang wanita" ucap Liliana murka, matanya seakan mengintimidasi Melinda putrinya.
Melinda dan Hendri sungguh takut dan terpojok secara tidak langsung dia telah membongkar rahasianya sendiri.
"Jadi kalian berdua. Sudah membohongi Ayah. Kalian bukanlah pribadi yang baik. Kalian berdua sungguh tidak bermoral. Tega menyakiti hati seseorang. Ayah benci kamu Melinda. Ayah benci kalian berdua."
"Ayah! Maafkan Melinda Ayah."
Melinda berlari mendekati Ayahnya yang murka, lalu duduk bersimpuh dikakinya dengan berderai air mata. Hendri menyusul ikut duduk dibelakang Melinda.
"Kamu sungguh wanita jahat Melinda, kamu sama seperti merebut suami orang. Dan kamu juga Hendri laki-laki tidak tahu diri, penghianat. Laki-laki munafiq." Tangan pak broto menunjuk-nunjuk ke Hendri yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Aku tidak suka kalian. Kalian penghianat. Aku tidak ingin melihat penghianat di rumah ini. Kalian harus pergi dari rumah ini," teriak pak Subroto.
Pak Subroto benar-benar murka dengan Melinda putrinya yang berhati busuk tidak sebanding dengan kakaknya yakni Gilang.