Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 36 Jujur


__ADS_3

Untuk kali ini Hendri belum bisa menjawab pertanyaan Pak Subroto. Hendri meminta waktu untuk Berpikir dan berunding sama orang tuanya.


Meski sedikit kecewa, Pak Subroto dan Melinda yang belum mendapat jawaban dari Hendri, mereka masih bersedia menunggu jawaban Hendri.


Melinda berharap hanya jawaban bersedia yang keluar dari mulut Hendri.


Hari sudah siang meski terlambat, Melinda dan Hendri akan tetap masuk kantor.


Dan saat sampai di kantor mereka berdua disambut dengan banyak urusan kantor yang harus di tangani.


Hendri mengeluh kenapa banyak berkas yang menumpuk di meja Melinda.


Melinda menjawab karena kemarin dia tidak masuk kantor, dengan alasan karena Hendri juga tidak masuk kantor.


Hendri hanya geleng kepala mendengar jawaban Melinda yang seperti anak kecil.


"Jadi kemarin kamu nggak masuk kerja?" Tanya Hendri yang berhadapan dengan banyak tumpukan berkas di meja Melinda.


"Iya sayang. Seharian aku menghibur diri dengan jalan-jalan. Mana mungkin bisa konsen yang hanya memikirkan dirimu," jawab Melinda.


"Kamu tidak boleh seperti itu Melinda, seperti anak kecil saja. Urusan kantor itu urusan serius, kamu jangan main-main," tegas Hendri.


Melinda beranjak dari duduknya, mendekati Hendri yang masih berdiri didepan meja kerjanya.


"Mangkanya kamu harus bersedia menikah denganku dan jadi milikku, supaya hatiku tentram dan tidak gundah selalu memikirkanmu yang takut jadi milik orang lain." Melinda menatap tajam ke mata Hendri.


Hendri berpaling tak mau membalas tatapan tajam Melinda.


Hendri selalu teringat kalau dia sudah punya cinta yaitu Arumi yang sedang mengandung buah hatinya.


"Sudahlah, ayo kita mulai bekerja." Hendri mencoba mengalihkan pembicaraan tak mau membahas lagi.


Namun Melinda terus memgingatkan Hendri untuk segera memberi jawaban yang tepat untuk bersedia menikah dengannya dan akan mendapatkan semuanya darinya termasuk perusahaan yang sudah dijanjikan Ayahnya.


Arumi masih berada di rumah neneknya. Seharian ini Arumi akan menghabiskan waktunya bersama nenek Suryati di rumah. Rumah yang dulu di tempati Arumi sejak kecil.


Nenek Suryati dan Arumi saat ini tengah duduk santai lesehan sembari menikmati kue khas buatan nya yang sering di kirim ke kedai-kedai yang mau memesannya.


"Hem.., enak sekali Nek kuenya. Aku sudah lama tak menikmati kue Nenek," ucap Arumi saat melahab kue legedaris buatan neneknya.


"Makanlah! Makanlah yang banyak. Maaf kalau Nenek tidak pernah menyajikannya untukmu. Nenek sering kualahan karena pesanan pelanggan. Pelanggan selalu minta dilebihin karena peminatnya banyak."


"Nggak papa lah Nek. Aku bersyukur Nenek selalu dapat pesanan banyak. Tenang aja Nek, setelah aku disini aku akan membantu Nenek membuat kue yang banyak. Dan pelanggan Nenek pasti akan suka."

__ADS_1


"Iya, iya Arumi. Jadi kamu yakin akan tinggal disini setelah lahiran?" tanya nenek Suryati.


"Iya Nek. Apa Nenek keberatan?"


"Bukannya begitu Arumi. Rumah kita sempit apa nanti Hendri mau tinggal dirumah ini. Buktinya setelah menikah tidak mau tinggal disini."


"Aku akan bicara Nek sama Mas Hendri pasti dia mau mengerti. Aku serba susah Nek, disisi lain aku ingin tinggal di rumah mertua, tapi aku nggak enak setelah lahiran nanti bakalan menyusahkannya, dia mertua yang cerewet Nek. Aku selama ini bertahan karena ingin bersama Mas Hendri tinggal di rumah itu meski aku seperti seorang pembantu disana?" Arumi berkata jujur tentang dirinya selama ini.


"Dia menganggapmu seperti seorang pembantu. Orang tua macam apa dia, sudah tau menantu sedang hamil malah memperlakukan seperti pembantu," nenek Suryati murka memicingkan matanya.


"Iya Nek, maaf kalau selama ini aku tidak memberitahu Nenek tentang keadaanku disana. Tapi aku bahagia Nek karena bisa bersama mas Hendri terus."


"Andai Nenek punya uang yang banyak, Nenek akan membelikanmu rumah untuk kamu tinggali bersama suamimu, dan tidak tinggal di rumah mertuamu yang nggak tau diri itu," keluh nenek.


"Jadi nggak papa kan Nek, Arumi tinggal disini?" tanya Arumi lagi.


"Nggak papa Arumi, semoga saja suamimu mau juga tinggal disini."


"Terima kasih Nek." Arumi membenamkan tubuhnya di pelukan Neneknya.


Hari sudah sore, Arumi akan pulang dan pamit sama Nenek.


"Aku pulang dulu Nek, jaga diri baik-baik," ucap Arumi pamit sembari mencium punggung tangannya.


"Tunggu sebentar Nenek lupa."


Arumi sungguh terkejut melihat neneknya membawa kue untuknya.


"Ini kue untukmu, buat oleh-oleh keluargamu," ucap Nenek, tanganya menyodorkan satu box kue.


"Masya Allah Nek, terima kasih. Nenek udah repot-repot nyisain kue buat Arumi bawa pulang."


"Nggak papa Arumi kamu cucu Nenek."


"Terima kasih ya Nek," ucap Arumi dengan senyum sumringahnya.


"Assalamualaikum...," ucap Arumi beranjak.


"Waalaikum salam," jawab nenek Suryati sembari melambaikan tangan.


Nenek Suryati menatap teduh kepergian Arumi.


Nenek Suryati tiada menyangka nasib cucunya seperti itu di rumah mertuanya.

__ADS_1


"Yang sabar Arumi, semoga kamu bisa menjalaninya. Nenek hanya bisa mendoakanmu semoga kamu mendapatkan kebahagiaan seperti yang kamu inginkan," batin haru nenek Suryati.


Arumi dalam perjalanan pulang dengan naik ojek online. Dalam beberapa menit sampailah di rumahnya.


Sebelum masuk kedalam rumah Arumi akan mengirim pesan pada suaminya, untuk segera pulang karena dia sedang menunggu kepulangannya.


Sudah terkirim pesan yang ditulisnya. Namun belum dibaca oleh Hendri.


Arumi berharap suaminya cepat membaca pesannya dan segera pulang.


Arumi mulai masuk kedalam rumah.


"Assalamualaikum..," ucap Arumi saat memasuki rumahnya.


"Waalaikum salam...," jawab Mia yang sedari tadi sedang menunggu kepulangannya.


"Lama banget ke rumah nenekmu sampai jam segini baru pulang. Sudah tau hamil tua kok nggak pulang-pulang. Bikin Ibu khawatir," ketus Mia.


Arumi sedikit tercenang mendengar ucapan mertuanya yang menghawatirkannya.


"Maaf Bu, saya keenakan ngobrol sama nenek sampai lupa pulang," jawab Arumi.


"Itu apa di tanganmu, cepat kasih ke Ibu."


"Ini kue buatan nenekku Bu?"


"Apa? Cuman kue buatan nenekmu? Ibu kan mintanya dibeliin oleh-oleh seperti biasanya, bukan kue buatan nenekmu," pekik Mia.


Mia tidak terima hanya dibawakan oleh-oleh kue buatan nenek Arumi.


"Itu kue legendaris buatan nenekku. Coba saja dulu Bu, tidak kalah enaknya sama kue yang kemarin," ucap Arumi.


"Awas ya kalau nggak enak, bakalan aku buang."


Arumi menghela nafas mendengar ucapan mertuanya.


Mia mulai mencicipi kue itu. Setelah dirasakannya kue itu sangat enak di lidahnya. Membuatnya ingin terus memakan kue itu, tanpa berkata kue itu sangat enak.


Arumi sungguh was-was hatinya menunggu jawaban dari mertuanya tentang rasa kue yang di bawanya, apakah enak atau tidak enak.


Saking keenakannya, sampai kue itu habis tak tersisa. Arumi melongo mulutnya mendapati kue itu habis dimakan Ibu mertuanya, padahal kue itu untuk semua orang di rumah ini, supaya tau kalau itu kue buatan neneknya yang enak.


"Untung aja enak kuenya, jadi Ibu buang di perut Ibu saja," ucap Mia yang tak mau mengakui dengan jelas kalau kue buatan nenek Arumi sangat enak.

__ADS_1


"Pantesan habis ya Bu, karena kuenya sangat enak," sindir Arumi dan berlalu meninggalkan mertuanya


Mia menyunggingkan mulutnya.


__ADS_2