
Hendri hari ini akan berkunjung ke rumah ibunya tentunya dia mengajak Arumi istri tercintanya. Hendri hari ini mulai memberanikan diri untuk menemui ibunya dan ingin mengajak berbaikan lagi. Hendri ingin memperbaiki hubungan dengan ibunya yang sudah renggang hampir dua bulan ini.
"Kamu sudah siap Arumi," tanya Hendri yang sudah siap dengan dandanan rapi.
"Sudah siap Mas. Tapi hatiku sebenarnya belum siap. Aku masih takut bertemu dengan ibumu. Gimana kalau dia masih seperti kemarin? Masih membenciku dan tak mau menerimaku yang sudah menjadi menantunya," ucap Arumi lirih sembari menatap Hendri.
"Jangan takut, kita coba saja dulu siapa tau ibu sudah berubah," ucap Hendri sembari mendekap tubuh Arumi mencoba meyakinkannya.
"Ya kita coba dulu ya Mas, mudah-mudahan hati ibumu sudah terbuka untuk menerimaku dan menerima pernikahan kita."
"Nah gitu dong semangat, kita harus berjuang untuk mendapatkan hati ibu. Kita harus berusaha dan yakin kalau kita akan berhasil memenangkan hati ibu."
"Oke Mas, aku akan berusaha mengambil hati ibu."
"Sudah siap kan, ayo kita berangkat," ajak Hendri.
"Ayo!!!" Balas Arumi dengan senyum penuh semangat.
Hendri berharap kedatangannya nanti ke rumah ibunya bisa membuat ibunya tersadar. Lagi pula Hendri akan memiliki anak bersama Arumi.
Mereka berdua pamit sama Nenek Suryati. Sebelum berangkat Arumi mendapat pesan dari Nenek Suryati untuk tetap bersikap baik pada mertuanya. Arumi pun mengiyakan pesan bijak Neneknya.
Mereka berdua mulai meninggalkan rumahnya berjalan lunglai menuju jalan raya. Hendri menghentikan taksi dan menaikinya bersama Arumi menuju rumah ibunya.
Hanya beberapa menit saja sudah sampek di rumah ibunya Hendri.
"Ayo kita turun, kita sudah sampai."
Arumi pun turun dari taksi bergantian dengan Hendri. Mereka berdua berhenti sejenak sebelum masuk ke dalam rumah. Hendri menatap dalam ke rumah milik ibunya itu.
"Aku kangen sama suasana rumah ini. Baru satu bulan lebih aku tinggalkan rasanya seperti sudah bertahun-tahun aku meninggalkannya. Rasanya aku ingin kembali tinggal di rumah ini seperti dulu," ucap Hendri.
"Kamu ingin kembali ke rumah ini Mas?" Tanya Arumi.
"Tentu saja pingin. Ini kan rumahku sejak kecil. Kalau ibuku menyuruh aku tinggal di sini lagi tapi harus bersamamu aku pasti bersedia. Tapi kalau tidak bersamamu aku tidak mau."
"Terserah mas lah, aku ngikut aja kemana mas mau membawaku. Sebagai seorang istri kan harus taat dan patuh pada suaminya. Semoga saja ibu mau menerima kita di rumah ini"
"Semoga saja ya. Ayo kita masuk," ajak Hendri sembari menggandeng tangan Arumi.
__ADS_1
Hendri dan Arumi sudah sampai di depan pintu. Rasa takut mulai berkecamuk menghantui di hati Arumi. Arumi teringat saat pertama kali dia menginjakkan kaki ke rumah ini dengan banyak hinaan yang membuat hatinya sakit.
Nampak kini kedua tangan Arumi kembali gemetar seperti dulu takut menghadapi ibunya Hendri yang kini sudah menjadi mertuanya.
"Assalamualaikum....," ucap Hendri dari balik pintu rumah Mia yang tertutup.
"Mas aku takut sekali."
Raut wajah Arumi nampak khawatir dan takut lagi.
"Kamu jangan takut, aku selalu bersamamu dan akan membelamu jika ibuku kembali berbuat tidak baik padamu," ucap Hendri menenangkan Arumi dengan menggenggam erat tangan Arumi dan tak melepaskannya.
Belum ada jawaban dari dalam rumah. Hendri mencoba mengucapkan salam lagi.
"Assalamualaikum...," ucap Hendri dengan keras.
"Waalaikum salam...," jawab Salsa di sela percakapan dengan Ibunya.
"Siapa yang datang. Udah lama nggak ada tamu yang datang ke rumah ini. Cepat Sa kamu lihat siapa yang datang," ucap Mia.
"Baik Bu."
"Kak Hendri," teriak Salsa saat melihat Hendri datang semenjak keluar dari rumah ini. Salsa merasa senang akhirnya kakaknya mau berkunjung ke rumahnya.
Teriakkan Salsa sampek terdengar ke telinga Mia.
"Hendri!! Hendri datang. Hendri datang ke sini."
Mia sangat senang Hendri datang ke sini.
"Hendri pasti sudah sadar kalau dia bersalah sehingga dia memutuskan pulang ke rumah ini meninggalkan istri sirinya," terka Mia.
Salsa sangat histeris melihat kakaknya datang bersama Arumi istrinya. Salsa berpelukan dengan Hendri untuk melepas rasa kangennya. Berlanjut Salsa memeluk Kakak iparnya yaitu Arumi.
"Ayo kita masuk kak," ajak Salsa.
Hendri dan Arumi nampak berat langkah kakinya saat memasuki rumah Mia. Tersimpan rasa takut dan banyak tanya. Arumi berada di belakang Hendri seolah takut akan menghadapi mertuanya.
"Bu lihat siapa yang datang," ucap Salsa sembari merenggangkan kedua tangannya.
__ADS_1
Mia asyik menonton tv pura-pura tidak tau kedatangan Hendri.
"Siapa?"
Mia menengok ke arah Hendri yang berdiri sejajar dengan Arumi.
"Kamu, ngapain datang ke sini?" Tanya Mia dengan ketusnya.
"Aku ingin bertemu dengan Ibu dan Salsa karena aku kangen. Dan perkenalkan ini istriku Arumi. Sekarang kami sudah syah menjadi suami istri."
Umi melengos dengan mulut menyungging.
"Ibu sudah tau kalau kamu sudah menikah dengan Arumi. Ibu tetap tidak suka. Ngapain kamu bawa dia ke sini."
"Aku dan Arumi ingin bersilaturrahmi dengan Ibu, Arumi kan sudah menjadi menantu Ibu, akuilah Bu. Apa salahnya pernikahan sudah terjadi dan sebentar lagi kami akan punya anak," ucap Hendri.
"Apa!! Punya anak!!" Teriak Mia sangat terkejut mendengar ucapan Hendri kedua netranya melotot seakan tak percaya dan tak terima mendengar pernyataan Hendri.
Arumi jadi takut, yang tadinya berdiri sejajar dengan Hendri kini dia bersembunyi lagi di balik punggung suaminya.
"Jadi kalian berdua sudah mau punya anak!! Istrimu hamil? Aduh..., kepalaku sakit sekali."
Tiba-tiba saja Mia langsung ambruk dari duduknya, saking syoknya. Tangannya memegang kepalanya mungkin tekanan darahnya naik.
"Ibu, Ibu," ucap Salsa mendekati Ibunya.
Hendri juga ikut mendekati Mia yang tengah terkulai lemas di sofa. Sedangkan Arumi masih berdiri di tempatnya tak berani ikut mendekati mertuanya yang tengah syok mendengar kehamilannya.
"Ibu nggak papa kan," ucap Hendri.
"Kamu, kamu sudah melewati batas. Kenapa kamu sudah hamil. Kamu benar-benar ingin mengambil Hendri dariku," ucap Mia marah menunjuk ke arah Arumi. Arumi semakin menciut tak berani berucap apa pun.
"Sadarlah Bu, jangan salahkan Arumi. Ini sudah takdir kami menjadi suami istri dan akan mempunyai anak. Restuilah kami menjadi anak Ibu supaya kita semua bahagia."
"Iya Bu sadarlah, restuilah mereka dan biarkanlah kakak tinggal disini. Mereka kan akan mempunyai anak dan menjadi cucu Ibu. Apa Ibu nggak seneng sebentar lagi akan punya cucu."
"Hih..., kenapa kalian mendesakku. Aduh kepalaku makin sakit..."
Mia pun pingsan tak sadarkan diri membuat Hendri Salsa dan Arumi jadi panik.
__ADS_1
"Ibu kenapa jadi pingsan begini," ucap Salsa panik.