Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 84 Tersadar


__ADS_3

Gilang juga jadi sedikit iba mendengar cerita Salsa.


"Coba saja kamu tidak melakukan kesalan Hendri keluargamu yang tidak bersalah tidak akan ikut menderita seperti ini. Apa kamu sekarang sudah sadar akan kesalahanmu," batin Gilang karena merasa kasihan sama Salsa yang tidak bersalah ikut merasakan dampaknya.


Sekarang Salsa berhenti kuliah, selain karena tidak punya biaya Salsa juga harus ikut bekerja membantu mencari nafkah untuk keluarganya.


Saat ini semuanya tengah sibuk bekerja. Hendri sekarang kerjaannya jadi tukang ojek online. Mia jadi tukang cuci gosok pakaian, yang dibawa pulang ke rumahnya untuk dicuci dan digosok, nanti kalau sudah rapi diantar lagi ke rumah pelanggannya.


Salsa membantu Mia dalam mengerjakannya. Mia sekarang tidak gengsi lagi demi mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dia rela bersusah payah bekerja.


Sementara Melinda dirumah itu juga tidak hanya berpangku tangan saja. Meski hamil besar sudah menginjak bulan delapan, Melinda masih ikut bekerja membantu Mia menyelesaikan pekerjaannya.


***


Saat ini Mia sudah selesai mencuci pakaian. Dia mencari keberadaan Salsa yang tak kunjung datang menyusulnya sembari membawa cucian yang siap di jemur.


"Kemana Salsa?" tanya Mia pada Melinda yang sedang menggosok pakaian.


"Belum selesai kali Bu jemur pakaiannya," jawab Melinda.


"Aduh.., berat sekali." Mia meletakkan cuciannya sembari menggerutu kesal, karena Salsa tak kunjung kembali mengambil cucian untuk dijemur lagi.


"Kamu sudah selesai gosoknya?" tanya Mia pada Melinda.


"Belum Bu. Sebentar lagi selesai," jawab Melinda sesekali memutar pinggangnya yang terasa pegal karena duduk cukup lama.


"Cepat kamu selesaikan Melinda, nanti biar Ibu anter ke rumah pelanggan kita, dan dapat upah," ucap Mia.


Arumi dan Liliana mendengarkan percakapan mereka.


Sedangkan mereka berdua tidak tahu kedatangan Arumi, Gilang dan juga Liliana.


Liliana tak bisa menahan tangisnya melihat nasib anaknya yang miris.


"Melinda," teriak Liliana sembari berlari mendekati Melinda lalu memeluknya.


Mia sangat terkejut melihat Liliana yang tiba-tiba datang dan menangis histeris di pelukan Melinda menantunya.


"Melinda, Ibu kangen sama kamu Nak," ucap Liliana sembari memeluk erat tubuh Melinda.


Melinda hanya tercenang, bingung tidak menyangka ibunya akan datang kesini dan melihat keadaannya yang payah ini.


Melinda semakin tercenang saat melihat Arumi dan Gilang juga datang ke rumahnya.

__ADS_1


Apa lagi Mia, dia sungguh sangat malu dan takut melihat Arumi dan Gilang datang.


Mia yang dulu sering merendahkan Arumi dia jadi salah tingkah melihat Arumi sekarang sudah jadi orang besar.


"Lepaskan Bu!"


"Untuk apa Ibu datang kesini, dan menangis seperti ini," ucap Melinda kasar lalu melepaskan pelukannya.


"Ibu kangen Nak sama kamu."


"Untuk apa Ibu kangen sama aku anak yang sudah tidak Ibu anggap sebagai anakmu."


"Tidak Nak, Ibu tidak menganggapmu seperti itu," ucap Liliana, air matanya berlinang.


"Kalian juga untuk apa datang kesini," bentak Melinda pada Arumi dan Gilang yang saat ini berdiri bersama Salsa.


"Kalian pasti mau menertawakanku kan, yang sudah tersiksa karena kalian berdua," ucap Melinda murka sembari jarinya menunjuk tajam kearah Gilang dan Arumi.


Gilang tidak terima. Nampak Gilang menaikan kedua alisnya dan berteriak menyebut nama Melinda.


"Kamu masih saja sama seperti dulu Melinda menyalahkan kami. Kamu masih belum menyadari kesalahanmu. Pantas saja hidupmu semakin menderita," cetus Gilang penuh amarah.


"Melinda jangan suudzon seperti itu, Kami datang kesini niatnya baik hanya ingin bersilaturrahmi sama kalian semua. Tidak baik sesama keluarga tidak saling menjalin silaturrahmi. Terimalah niat baik kami Melinda. Kami ingin kita saling memaafkan dan kembali menjadi keluarga yang rukun," ucap Arumi.


Melinda menangis. Air matanya bercucuran. Mendengar nasehat ibunya dan ucapan Arumi yang menyentuh. Melinda jadi tersadar ternyata dia sudah salah besar pada Arumi. Dia wanita baik yang telah disakiti olehnya dengan merebut suaminya.


"Maafkan aku Bu, maafkan aku. Aku sudah salah dan jahat pada Kak Arumi aku sudah merusak rumah tangganya," ucap Melinda, lalu memeluk Liliana. Melinda menangis histeris di pelukan ibunya.


"Sudahlah jangan menangis. Sekarang minta maaflah sama Kak Arumi," perintah Liliana.


Melinda pun beranjak, lalu duduk bersimpuh dihadapan Arumi dan meminta maaf dengan kesungguhan hatinya.


Arumi menerima permintaan maaf Melinda.


Melinda juga meminta maaf pada Gilang kakaknya.


Gilang pun menerima maaf adiknya yang sudah menyadari kesalahannya.


Tak ada lagi dendam di hati Melinda pada Arumi dan Gilang.


Mia juga menangis histeris didepan Arumi dan Gilang. Mia minta maaf pada Arumi dan Gilang atas semua kesalahannya yang pernah jahat pada Arumi.


Dengan mudah Gilang dan Arumi menerima permintaan maaf Mia, karena memaafkan orang yang meminta maaf pada kita adalah kewajiban.

__ADS_1


Salsa tersenyum bahagia melihat ibunya sudah mengakui semua kesalahannya dan minta maaf pada Arumi yang dulu selalu disakiti hatinya.


"Alhamdulillah," ucap Salsa dengan senyum kelegaan.


Suasana haru meliputi mereka. Nampak Melinda, Gilang, dan Liliana saling berpelukan. Mereka merasa senang karena satu keluarga sudah rukun kembali.


Arumi dan Salsa menatap penuh rasa haru pada mereka, begitu juga dengan Mia. Mereka semua nampak mengulas senyum bahagia karena sudah damai.


Datang pula Hendri yang baru pulang dari kerja. Hendri nampak heran dan terkejut kenapa ada Arumi, Gilang dan juga ibu mertuanya, bersama Melinda dan Salsa yang nampak rukun dan baik-baik saja.


Melinda menjelaskan kalau dirinya sudah baikan sama Arumi yang memang mengajaknya untuk rukun. Menjadi keluarga yang utuh tidak bercerai berai.


Hendri senang mendengar ucapan Melinda. Itulah yang sangat diharapkan Hendri selama ini dan akhirnya terwujud. Hendri tiada henti mengucap syukur, Melinda sudah meminta maaf pada Arumi dan benar-benar akan menjalin hubungan baik dengan Arumi dan juga Gilang.


Liliana berniat menyuruh Melinda dan Hendri untuk kembali tinggal di rumahnya. Namun Hendri menolak. Hendri akan tetap menjalani hukuman seperti keinginan pak Subroto. Hendri akan kembali ke rumah itu setelah anaknya lahir dengan selamat.


****


Setelah satu bulan, genap sudah sembilan bulan kehamilan Melinda. Tibalah saatnya lahiran. Namun sangat disayangkan bayi itu lahir tidak selamat karena kondisi bayinya dalam satu bulan ini lemah. Bayi itu meninggal saat dlahirkan.


Persyaratan tidak terpenuhi, Akhirnya Hendri dan Melinda tidak bisa kembali ke rumah dan tidak bisa mengelola perusahaan pak Subroto yang sudah di janjkannya padanya. Hendri dan Melinda bisa menerima dengan hati yang lapang, karena ini sudah takdirnya.


Mia sedikit kecewa. Berharap setelah cucunya lahir bisa kembali hidup lebih layak seperti dulu lagi, namun itu hanya harapan yang sirna. Mia berusaha menerimanya dengan kebesaran hatinya.


Begitu pun juga dengan Melinda, tetap akan hidup bersama Hendri dalam suka mau pun duka karena Hendri suami pilihannya.


Sementara Arumi hidup bahagia bersama keluarga kecilnya di rumah yang sangat diimpikannya bersama Gilang. Mereka sudah tidak tinggal lagi di rumah pak Subroto sejak sudah berdamai dengan Melinda. Mereka tinggal di rumah impiannya dengan penuh rasa bahagia.


Liliana sudah tidak kesepian lagi, karena Melinda sering berkunjung ke rumahnya.


Kini semua bahagia dengan menjalani takdir hidup masing-masing.


** TAMAT**


Alhamdulillah sudah selesai cerita ini. Semoga kita dapat hikmah dan manfaatnya dari cerita ini.


Terima kasih buat semua readers yang setia membaca cerita ini dar awal sampai akhir. Hanya ucapan terima kasih yang bisa author persembahkan. Maafkan author bila ada salah kata. Salam sejahtera, bahagia, sehat selalu 😘😘😘😘🥰🥰


Sampai jumpa lagi di cerita author yang selanjutnya.


Jangan lupa stay tone diceritaku terbaru.


__ADS_1


__ADS_2