Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 14 Berkunjung ke rumah Nenek


__ADS_3

Hari ini Arumi berencana akan berkunjung ke rumah neneknya. Yang sudah hampir satu bulan semenjak dia pindah ke rumah mertuanya Arumi belum sempat menengok nenek Suryati yang tinggal sendiri di rumah kontrakannya.


 


Kebetulan ini hari libur kerjanya Arumi. Jadi dia punya waktu untuk mengunjunginya. Arumi pun meminta Izin sama ibu mertuanya. Untungnya dia mengizinkan dengan syarat semua pekerjaan di rumah ini beres.


 


Hendri pun sama sekarang juga sedang libur kerja. Arumi hendak mengajak Hendri mengunjungi neneknya tapi tidak bisa ikut. Hendri harus lebih memilih memenuhi perintah ibunya dari pada ikut Arumi.


 


Ibunya meminta Hendri untuk mengantarnya belanja bulanan di hari liburnya tentunya pakai uang Hendri. Jadi nggak bisa kalau Hendri nggak ikut. 


 


Hendri tak bisa menolak perintah ibunya yang memang harus diturutin kalau tidak bakalan marah besar. Tak hanya memarahinya, Arumi pun ikut di marahin juga. Arumi sangat pengertian dia bisa mengerti kalau suaminya tidak bisa ikut bersamanya kali ini.


 


Mia sudah berdandan rapi ala ibu-ibu gaul.  Dengan berbagai perhiasan melingkar di jarinya dan juga pergelangan tangannya. Dengan dandanan menor rambut bergelombang terurai tak henti-hentinya didepan kaca riasnya dia menunjukkan pesona gayanya.


 


Hingga tak menyadari kalau dia sedang ditunggu anak-anaknya yang di mintanya untuk menemaninya belanja. Hendri sudah siap, begitu juga dengan Salsa. Mereka berdua tengah menunggu ibunya di ruang depan. Sesekali Salsa melihat jam di tangannya.


 


"Lama banget sih kak ibu dandannya ini kan sudah siang," keluh Salsa dengan raut wajah resahnya.


 


"Tau tuh, lama banget. Coba kalau kita yang ditunggu sama ibu, pasti mulutnya ngomel tiada henti," tambah Hendri. Mereka berdua menggerutu menunggu ibunya yang tak kunjung muncul.


 


Mia baru saja keluar dari kamarnya, dengan dandanan menornya. Dia berpapasan dengan Arumi yang saat ini tengah sibuk membersihkan lantai. Mia melewati Arumi yang tengah asyik mengelap lantai hingga Arumi tak menyadari kalau mertuanya lewat tepat dibelakangnya.


 


"Ehem, ehem," Mia berhenti sejenak memberi bahasa isyarat pada Arumi.


 


Mendengar deheman kbu mertuanya Arumi pun reflek menengok ke sumber suara.


 


"Eh ibu, sudah mau berangkat," ucap Arumi yang menatap mertuanya biasa saja.


 


"Iya," jawab Mia ketus.


 


Arumi melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Mia belum beranjak dari tempatnya. Mia sudah menunjukkan pesonanya dihadapan Arumi berharap dipuji sama Arumi meski pun dia tak menyukainya. Malah Arumi tak meresponnya.


 


"Kamu nggak mau ngucapin kalau aku mertuamu itu cantik. Dan terlihat glamor dengan banyak perhiasan yang ibu pakek," ceplos Mia tanpa rasa sungkan.


 


Arumi kembali mendongak menatap ibu mertuanya dengan dandanan menornya.


 


"Bukannya jbu mau belanja. Kenapa dandan seperti itu kayak mau kondangan," cetus Arumi yang melihat mertuanya seperti mau pergi kondangan saja dengan dandanan menor dan banyak perhiasan yang di pakenya.


 


"Enak saja kamu bilang ibu mau pergi kondangan. ibu tu mau ketemu orang banyak di mall jadi ya dandan seperti ini. Biar ibu di pandang seperti orang kaya. Tinggal bilang mertuamu itu cantik seperti ibu-ibu sosialita yang kaya raya gitu aja kok repot. Huh...."

__ADS_1


 


Mia menyunggingkan mulutnya. Kakinya pun beranjak meninggalkan Arumi yang masih heran dengan tingkah Mertuanya.


 


Arumi hanya geleng kepala melihat tingkah mertuanya yang norak abiz. Mau belanja aja pakek dandan seperti itu. Untung dia nggak ikut bersamanya bisa...


 


Arumi cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Seperti perintah mertuanya. Sebelum berangkat ke rumah neneknya pekerjaan rumah harus sudah beres. Dengan cekatan Arumi mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa mengeluh dan sekarang sudah selesai.


 


Dia pun segera membersihkan diri dan berdandan rapi. Tak sabar rasanya Arumi ingin cepat bertemu dengan neneknya. Arumi sudah kangen sama nenek Suryati yang selama satu bulan ini hanya bisa bicara lewat telfon saja.


 


Arumi segera bergegas meninggalkan rumah yang sepi tanpa ada yang tinggal. Tersisa dirinya saja yang akan beranjak pergi juga. Gerak langkah Arumi sangat cepat saat hendak meninggalkan rumahnya. Menunjukkan betapa tak sabarnya dia ingin bertemu dengan neneknya.


 


Sebelum sampai di rumah Nenek, Arumi hendak membeli buah tangan dulu  untuk neneknya. Arumi aman membeli kue kesukaan Nenek Suryati. Sejenis kue untuk ulang tahun itu adalah kue kesukaan nenek. Arumi pun mampir sebentar di toko kue milik Pak Wijaya yang lokasinya tak jauh dari rumah neneknya. 


 


"Pasti nenek sangat suka dengan kue yang aku bawa," ucap Arumi sembari tersenyum renyah kala keluar dari toko kue. Di tangannya menenteng satu box kue untuk neneknya.


 


Hanya beberapa menit saja Arumi sudah sampai di rumah Neneknya. Tak sabar rasanya Arumi ingin melihat neneknya.


 


"Assalamu alaikum...," ucap Arumi dari balik pintu rumah nenek yang tertutup.


 


 


"Nenek kemana ya, apa dia nggak ada di rumah?" Gumam Arumi.


 


Untuk memastikannya Arumi mencoba membuka pintu, dan ternyata tidak di kunci. Arumi pun masuk ke dalam rumah. Arumi sungguh terkejut melihat neneknya terbaring di lantai dengan selimut menutupi tubuhnya.


 


"Nenek," ucap Arumi  sembari berlari mendekati neneknya.


 


Nenek Suryati yang tadinya tertidur mendengar suara cucu tercintanya sontak langsung bangun dan memeluknya erat.


 


"Nenek nggak papa kan?" Ucap Arumi penuh rasa khawatir.


 


"Nenek nggak papa. Syukurlah kamu datang ke sini. Nenek senang sekali." 


 


Nenek Suryati semakin mempererat pelukannya pada cucunya yang sangat dirindukannya.


 


"Kenapa nenek tidur di lantai disiang begini, kenapa nggak di kamar aja. Nenek sakit ya?"


 


"Badan nenek rasanya meriang, jadi nenek tiduran di sini. Tapi sekarang rasanya sudah nggak meriang lagi. Mungkin karena kamu datang meriangnya pergi. Syukurlah kamu datang Arumi nenek sangat kangen sama kamu."

__ADS_1


 


"Iya nek aku juga sangat kangen sama nenek. Maafkan Arumi nek yang baru bisa mengunjungi nenek hari ini. Aku sangat sibuk nek."


 


"Aku tahu kamu sangat sibuk tinggal di rumah mertua. Nenek faham kok. Itu sebabnya kamu tak sempat mengunjungi nenek yang tinggal sendirian disini."


 


"Maafkan aku ya nek," ucap Arumi lagi. Merasa kasihan sama neneknya yang harus tinggal sendiri disini.


 


Mereka berpelukan sangat lama, untuk melepaskan rasa rindunya.


 


Arumi menunjukkan buah tangan yang dibawanya. Yaitu kue kesukaan neneknya. Nenek sangat suka Arumi membawa kue kesukaannya. Nenek pun mengajak Arumi untuk makan kue bersama. Mereka berdua pun menikmatinya sembari mengobrol.


 


"Kamu pasti senang kan sudah tinggal di rumah mertuamu?" 


 


"Ya aku senang nek," jawab Arumi datar.


 


"Dia sudah membiarkanmu tinggal di rumahnya, berarti dia sudah menerima kamu sebagai menantunya."


 


"Iya mek," ucap Arumi sedikit kikuk karena Arumi berbohong.


 


Kenyataannya nggak jelas entah mertuanya menganggapnya sebagai menantu atau apa. Yang Arumi rasakan dia hanya seperti seorang pembantu di rumah mertuanya. Yang harus mengerjakan pekerjaan rumah tanpa dibantu siapa pun.


 


Arumi tidak menceritakan semua pada neneknya tentang sikap mertuanya yang tidak baik padanya takut neneknya bersedih. Arumi pun mencoba menutupinya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2