
"Masya Allah. Kue ku jatuh semua. Gimana ini," ucap Arumi histeris dan sedih menyaksikan kuenya berserakan dijalan.
Gilang dan Hendri menyaksikan apa yang telah terjadi dengan Arumi sekarang. Mereka berdua yang berada didalam mobil, langsung beranjak keluar. Mereka berdua keluar bersamaan di tempat yang berbeda dan berlari menuju ketempat Arumi terjatuh.
Banyak kendaraan berhenti karena kejadian itu.
Gilang dan Hendri berlari bersamaan dan sampai pula ditempat itu bersamaan.
"Arumi. Kamu tidak papa kan," ucap Gilang dan Hendri bersamaan saat sampai disana.
Arumi yang masih duduk mendongakkan kepalanya.
"Kalian berdua?" ucap Arumi.
Gilang dan Hendri saling menengok. Mereka baru tersadar telah datang bersamaan.
"Kamu?" ucap gilang geram.
"Kamu juga," ucap Hendri sembari menunjuk Gilang.
"Ngapain kamu kesini mendekati Arumi?" tanya Gilang dengan rasa kesal.
"Alu hanya ingin menolong Arumi. Kebetulan saja aku lewat sini dan melihatnya teehatuh," ucap Hendri.
"Terus kamu juga berlari kesini mau apa kamu?" tanta Hendri balik.
"Aku pun sama ingin menolong Arumi," ucap Gilang.
"Kamu nggak boleh menolong Arumi kamu tidak berhak. Kamu bukan siapa-siapanya. Aku lebih berhak menolongnya karena dia mantan istriku," cetus Hendri.
"Kamu hanya mantan suaminya. Aku calon suaminya, " cetus Gilang.
Gilang dan Hendri saling berdebat, tak memperdulikan Arumi yang masih duduk terkulai.
Ada pula beberapa orang yang mungutin kue Arumi yang sudah hancur.
Arumi hanya menatap bingung pada Gilang dan Hendri. Untuk apa mereka berdua datang kesini. Arumi mengira mereka berdua berniat menolongnya dari kecelakaan kecil yang menimpanya saat ini. Tapi yang disaksikan Arumi mereka hanya berdebat didepannya.
Arumi menggelengkan kepala yang memperdebatkan dirinya.
Tak ada yang membantunya berdiri. Arumi pun bersusah payah mencoba bangun sendiri dari duduknya.
Hendri dan Gilang menyaksikan Arumi bersusah payah membangunkan badannya. Mereka berdua pun menghentikan perdebatannya, lalu mendekati Arumi dan membantunya berdiri.
"Hati-hati Arumi," ucap Hendri sembari memegang tangan kanan Arumi.
"Kamu tidak papa kan Arumi," ucap Gilang khawatir sembari memegang tangan kiri Arumi.
__ADS_1
"Lepaskan tangan kalian, aku tidak apa-apa," ucap Arumi saat sudah berdiri.
Hendri dan Gilang reflek melepaskan tangannya.
"Kalian berdua ngapain disini tidak usah membantuku. Aku tidak apa-apa. Kalian lanjutkan saja perdebatan kalian," ucap Arumi cuek.
"Tidak Arumi, aku datang kesini untuk menolongmu," ucap Hendri.
"Aku juga berniat menolongmu Arumi. Tapi aku melihat ada lelaki brengsek di dekatku, membuatku geram padanya," ucap Gilang.
"Sudahlah lupakan semua Gilang jangan diungkit lagi masa lalu itu. Aku sudah melupakannya. Aku tidak mau mengingatnya lagi. Aku ajan melanjutkan hidupku maju kedepan. Aku tidak msu lagi melihat masa laluku yang kelam," ucap Arumi sembari melirik kearah Hendri.
Mendengar ucapan Arumi hati Hendri terasa sakit. Kqrena tidak ada harapan lagi untuknya. Arumi benar-benar melupakannya.
"Arumi kamu tidak boleh melupakan aku. Sebenarnya aku masih mencintaimu. Aku menyesal telah menceraikanmu. Jangan lupakan aku Arumi. Aku ini ayah dari anakmu," ucap Hendri.
"Kamu memang Ayah dari anakku. Apa kamu pantas disebut seorang Ayah yang memutuskan hubungan dengan ibunya usai melahirkannya. Sudah jelas Mas kamu tidak ingin menjadi Ayahnya. Lebih baik kamu lupakan kami. Karena aku dan Arsya sudah melupakanmu. Hiduplah bahagia dengan orang yang berlimpah harta yang menjadi pilihanmu dan ibumu."
"Tidak Arumi. Aku tidak akan melupakanmu," ucap Hendri sembari menangis.
"Bagus Arumi, jangan beri harapan untuk lelaki penghianat seperti dia. Kalau bukan karena adikku sangat mencintainya. Aku sudah membuangnya jauh," imbuh Gilang.
Hendri semakin sakit hatinya mendengar ucapan Gilang.
Beralih Arumi akan memberitahu Gilang.
"Kamu juga Mas Hendri. Jangan pernah mencariku dan mencampuri urusanku." Arumi memperingatkan Hendri.
Setelah bicara serius dengan mereka, Arumi meninggalkan mereka yang terpaku yang tak bisa menyanggupi ucapan Arumi.
Arumi juga meninggalkan kuenya yang berserakan di jalan.
Hendri dan Gilang hanya bisa menatap kepergian Arumi dengan perasaan sedih.
"Apakah tidak ada kesempatan lagi untuku Arumi?" batin Hendri yang masih tidak terima dilupakan Arumi.
Hendri juga memilih pergi kembali ke mobilnya.
Sementara Gilang masih dalam keterpakuannya.
"Aku akan tetap berharap padamu Arumi untuk menjadi milikku. Aku akan berjuang mendapatkanmu. Akan aku buktikan betapa tulus cintaku padamu," batin Gilang menggebu-gebu.
Sebelum beranjak dari tempat itu, Gilang menatap ke kue Arumi yang berserakan sisa diambil beberapa orang yang mau mengambilnya. Ada satu kue yang masih terbungkus rapi.
"Pasti Arumi dan neneknya susah payah membuat kue ini dan kuenya sekarang sudah hancur semua. Pasti Arumi rugi besar. Namun dia tidak menunjukkan rasa sedihnya. Malah menyuruh orang untuk mengambil sisanya."
"Kamu benar-benar wanita mulia Arumi. Aku jadi semakin kagum padamu," gumam Gilang.
__ADS_1
Gilang mengabadikan kue itu dengan kamera hand phonenya.
Tersemat dalam benak Gilang dia akan diam-diam membantu Arumi dalam usaha kuenya.
"Iya, aku harus membantu Arumi. Supaya usahanya cepat maju dan berkembang," ucap Gilang dengan sungguh-sungguh lalu beranjak kembali ke mobilnya.
***
Arumi akan kembali pulang ke rumah. Niatnya ingin menyetkrkan kuenya ke kedai-kedai pupus sudah. Kuenya hampir hancur semua.
"Ya Allah, mungkin hari ini bukan rezekiku. Ikhlaskan lah hati ini menerima semua ini. Dan semoga esok hari ada rezeki yang menanti dan lebih banyak lagi. Amiin."
Arumi mencoba ikhlas dan menghibur hatinya.
Tak terasa berjalan melewati gang sempit, Arumi sampai di rumahnya.
"Assalamualaikum...," ucap Arumi.
Nenek Suryati yang berada di kamar bersama Arsya seakan ragu menjawab salam Arumi yang baru sebentar pergi kok sudah kembali.
"Waalaikum salam," jawab nenek sembari beranjak keluar dari kamarnya meninggalkan Arsya yang tertidur lelap.
"Arumi! Kamu sudah pulang?" tanya nenek.
Arumi tidak bisa menyembunyikan ekspresi sedihnya, meski mencoba ikhlas kuenya tidak terjual karena hancur.
"Iya nek, aku sudah pulang," jawab Arumi datar.
"Kenapa mukanya sedih gitu. Ada apa Arumi?"
"Ada kecelakaan kecil Nek, kuenya disrempet motor. Kuenya jatuh semua dan berantakan. Aku pun ikut jatuh Nek, tapi aku nggak papa. Jadi kuenya hari ini tidak terjual."
"Astagfirullah! Tapi kamu nggak papabkan Arumi."
"Nggak Nek. Aku nggak papa. Tapi kuenya hancur semua nek."
"Nggak papa Arumi. Nenek bersyukur kuenya yang hancur bukan kamu. Sudahlah kamu jangan sedih gitu. Besok kita buat lagi kuenya. Mungkin hari ini bukan rezeki kita" ucap nenek menenangkan Arumi yang nampak sedih.
"Nenek nggak kecewa kan."
"Nggak. Nenek nggak kecewa, yang penting cucu Nenek selamat dan besok bisa bantu bikin kue lagi sama nenek," jelas nenek.
"Alhamdulillah! Nenek tidak kecewa. Lain kali aku akan hati-hati Nek."
"Iya sayang."
Nenek memeluk Arumi.
__ADS_1