Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 69 Diam-diam


__ADS_3

Hendri menunjukkan obat pada Melinda, tanpa memberitahunya kalau keadaan janinnya sangat lemah sehingga harus minum obat itu.


"Ini obat yang harus kamu minum Melinda," ucap Hendi menyodorkan beberapa tablet obat.


Liliana dengan jelas melihat jenis obat yang harus diminum putrinya.


"Loh kok obat kamu persis obat yang Ibu minum waktu hamil kamu dulu," ucap Liliana.


"Benarkah Bu?" ucap Melinda.


"Iya benar sayang. Berarti kondisi kandunganmu seperti Ibu dulu. Janinmu sangat lemah dan harus ekstrak hati-hati dalam menjaganya. Dan kamu harus minum obat itu rutin kalau ingin janin mu sehat dan berkembang," ucap Liliana.


"Kenapa bisa lemah seperti itu Bu," ucap Melinda sedih.


"Bagaimana ini Mas, aku takut sekali Mas Hendri." Melinda menatap Hendri yang ekspresinya datar saja.


"Kamu nggak perlu takut Melinda, kamu tinggal menjagannya dengan baik dan rajin minum obat itu, seperti Ibumu dulu," ucap Hendri sembari menggengam kedua tangan Melinda memberinya semangat dihadapan kedua orang tuanya.


Hendri terpaksa melakukannya. Padahal yang dia inginkan Melinda tidak jadi hamil saja itu lebih baik untuknya.


"Terima kasih Mas sudah memberiku semangat. Mas juga harus ikut membantuku menjaganya ya. Aku sangat mengharapkan buah hati kita lahir ke dunia ini dengan sehat dan selamat," pinta Melinda.


Dengan terpaksa lagi Hendri mengiyakan permintaan Melinda.


"Yes, aku berhasil membuat Mas Hendri bertekuk lutut lagi padaku," batin Melinda senang, tersenyum menyeringai.


Hari sudah berganti.


Hendri sudah kehilangan kesempatan untuk menceraikan Melinda. Keinginannya untuk kembali pada Arumi pupus sudah.


Arumi pun belum tentu mau menerima Hendri kembali yang dengan jelas sangat menyakiti hatinya.


Allah sungguh maha baik pada Arumi, setelah mengetahui semuanya dengan jelas. Saat itu pula hatinya bisa melupakan dengan cepat orang yang membuat luka di hatinya. Arumi tidak ingin larut dalam kesedihan.


Arumi dipagi hari ini, seperti biasa dia akan mengantar kue buatan neneknya, yang tadi juga sempat membantu membuatnya.


"Bismillah, semoga kuenya nanti sampai di kedai ya Nek," ucap Arumi kedua tangannya sibuk memasukkan kue yang sudah dikemas ke dalam kantong besar.


"Kamu nanti yang hati-hati bawanya, biar kuenya tidak jatuh lagi ke jalan raya." Pesan Nenek.


Arumi mengangguk sembari mengulas senyum malu-malunya, karena teringat kemarin yang pulang tak membawa hasil. Dia berjanji pada nenek hari ini akan lebih hati-hati.


Di pagi yang cerah ini dengan sorot sang surya yang bersinar sempurna. Membuat langit ini begitu cerah sebiru hati Gilang.

__ADS_1


Sebelum beranjak ke kantor. Gilang membuka hand phone. Gilang membuka geleri di hand phonenya melihat foto kue Arumi kemarin yang ia simpan dihand phonenya.


"Mulai sekarang aku harus membantu Arumi diam-diam dalam usahanya," gumam Gilang yang masih duduk di tepi ranjangnya dengan dandanan siap berangkat ke kantor.


"Kue ini sangat unik dan cantik dilihat dari bentuknya. Apa ya nama kue ini," ucap Gilang saat melihat gambar kue milik Arumi.


"Kue Cinta."


"Ya nama kue ini cinta," ucap Gilang.


Gilang menyebut kue ini namanya kue cinta, karena bentuk kue itu love yang berati cinta.


Gilang hendak memperkenalkan kue Arumi lewat media sosialnya yang dimilikinya.


"Dengan ini semoga banyak orang tau tentang kue cinta ini," ucap Gilang.


Gilang mengembalikan hand phonenya di sakunya, lalu dia beranjak berangkat ke kantor.


Gilang berangkat ke kantor dengan mobilnya yang ia kemudikan sendiri.


Baru setengah perjalanannya, suara notifikasi dari hand phonenya yang terus menerus menunjukan banyak pesan yang masuk membuat Gilang risih telinganya. Gilang akan membuka dulu pesan yang masuk.


Sembari menyetir tangan satunya merogoh hand phone di sakunya.


Gilang terbelalak saat melihat banyak pesan yang masuk di panel notifikasi. Gilang akan menepikan mobilnya sebentar.


Banyak yang mengatakan menginginkan kue cinta yang dipost sama Gilang. Pemesannya kebanyakan dari kaum hawa yang diam-diam mengagumi Gilang.


Ada ratusan pemesan kue ini untuk diantar ke rumahnya.


Gilang sungguh tidak menyangka. Baru di post sudah banyak peminat kue unik itu.


"Gimana caranya mengatasi pesanan banyak seperti ini," gumam Gilang.


Setelah dipikir dengan keras, akhirnya Gilang menemuian caranya.


Gilang mulai melajukan mobilnya melanjutkan perjalanannya ke kantor.


Sesampainya di kantor, Gilang memanggil salah satu pegawai kepercayaannya yang akan ditugaskan menangani usaha barunya yaitu membuat usaha kue Arumi menjadi maju dan berkembang. Dia adalah Dewi.


Dewi wanita tangguh dan gigih bekerja. Ia sudah berkeluarga dan punya satu anak perempuan.


Gilang menjelaskan secara rinci apa yang harus di kerjakan Dewi untuk membantu usaha Arumi tanpa menyebut nama dirinya. Bahwa dirinyalah yang mengirimnya kesana. Gilang meminta Dewi untuk merahasiakan semua ini.

__ADS_1


Dewi berjanji akan bekerja dengan baik, seperti yang di inginkan bosnya yaitu Gilang.


Dewi mulai beraksi mengerjakan pekerjaannya.


Dewi akan pergi ke rumah Arumi sebagai seorang partner yang akan bekerja sama dengan Arumi. Dewi akan memasarkan kue buatan Arumi yang belum banyak dikenal banyak orang.


Arumi sudah bersiap berangkat membawa kuenya untuk di kirim ke kedai seperti biasanya. Di kedua tangannya sudah menenteng dua kantong besar.


Nampak Arumi sudah pamit sama nenek Suryati dan juga Arsya yang berdiri didepan pintu.


"Ibu pergi dulu sayang. Doakan Ibu supaya selamat dan lancar semua urusannya," ucap Arumi sembari membelai gemas Arsya yang sudah mulai mengenal Ibunya.


Arumi semakin gemas saat mendapat tatapan manis dari Arsya, putra yang membuat hidupnya kembali bersemangat membuka lembaran baru.


Arumi jadi lebih lama bercengkerama dengan Arsya, hingga ditegur sama nenek.


"Ayo sana berangkat Arumi, sudah siang," ucap nenek.


"Iya ya, kok jadi keasyikan sama Arsya."


Arumi mulai melambaikan tangannya pada nenek dan Arsya.


Baru satu langkah Arumi keluar dari rumahnya datang Dewi dengan dua asistennya ke rumah Arumi.


"Assalamu alaikum," ucap Dewi.


"Waalaikum salam," jawab Arumi dengan tatapan heran pada tiga wanita yang pagi-pagi datang ke rumahnya.


"Siapa wanita itu datang dengan dua asisten atau body guardnya itu. Mau apa mereka kemari. Apa mau nagih hutang. Perasaan aku nggak punya hutang," gumam Arumi dalam hatinya.


"Apa ini Ibu Arumi?" tanya Dewi.


"Ehm.., iya aku Arumi. Ada apa ya?" tanya Arumi dengan perasaan khawatir takut ada apa-apa dengan dirinya.


"Perkenalkan saya Dewi yang ingin bekerja sama dengan kamu," ucap Dewi sembari menjulurkan tangan kanannya.


Dengan perasaan bingung Arumi menjabat tangan Dewi.


"Anda ingin bekerja sama. Apa maksudnya, saya tidak mengerti?" Arumi kembali bertanya.


"Boleh kita bicara didalam."


Dewi tidak enak bicara diluar. Dewi menawarkan diri pada Arumi untuk dipersilahkan masuk.

__ADS_1


"Boleh, boleh! Silahkan masuk."


Arumi berjalan lunglai menggiring tiga wanita masuk kerumahnya. Arumi masih dengan kebingungan dan kekhawatiran hatinya pada tiga wanita itu.


__ADS_2