Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 68 Pingsan


__ADS_3

"Ada kejutan apa Hendri untuk Melinda. Ibu juga pingin tahu. Cepat kasih tau jangan bikin penasaran," sahut Mia yang juga ikut duduk di ruangan itu.


"Ibu juga ingin tau kejutannya. Silahkan saja Ibu mendengarkan perkataanku," ucap Hendri.


"Cepat katakan sayang. Aku ingin segera tahu," ucap Melinda sudah tidak sabar.


"Baiklah aku akan mengatakannya dari lubuk hatiku yang paling dalam. Dengarkanlah dengan seksama Melinda."


"Baiklah! Katakanlah sayang!"


"Aku rasa aku sudah tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi. Aku ingin hubungan kita berakhir," ucap Hendri tanpa ragu.


"Apa kamu bilang Mas!" seru Melinda.


"Apa maksud kamu Hendri!" imbuh Mia dengan mata melotot seakan mau copot.


"Iya, aku ingin pernikahan kita berakhir," jelas Hendri.


"Tidak! Tidak bisa Mas Hendri. Aku sangat mencintaimu. Apa kamu tidak ingat dengan ancamanku."


"Aku ingat dengan jelas Melinda, aku tidak takut. Dan aku tidak perduli dengan itu semua," ucap Hendri.


"Kamu jangan bodoh Hendri. Kamu sudah berada dipuncak kesuksesan. Kamu sudah membuat Ibu bangga. Kamu jangan merusaknya. Kamu jangan bodoh Hendri," tegas Mia.


"Aku menyesal melakukan itu semua. Aku tidak merasa bahagia. Aku akan mengakhiri ini semua.


"Tidak Mas, kamu tidak boleh mengakhiri itu semja. Aku tidak mau-aku tidak mau." Melinda sungguh tidak terima.


"Kakau kamu melakukan itu kamu sama saja ingin membunuhku," tegas Melinda.


"Kamu selalu mengancamku Melinda. Aku tidak takut lagi dengan ancamanmu. Aku akan tetap mengakhiri hubungan kita."


"Mas Hendri kamu sekarang berani. Kamu, kamu," ucap Melinda dengan nafas tersengal-sengal sembari tangannya menunjuk kearah Hendri.


Lalu seketika itu Melinda ambruk dari duduknya. Melinda sungguh tidak terima hingga membuatnya syok dan pingsan.


"Melinda! Kamu kenapa Melinda," ucap Mia mendekati Melinda dengan perasaan takut. Lalu menepuk-nepuk pipinya.


Hendri juga merasa takut melihat Melinda pingsan karenanya.


"Lihat Hendri, apa yang telah kamu lakukan sama Melinda. Kamu membuatnya sampai pingsan," teriak Mia.


Hendri semakin takut, disalahkan oleh ibunya. Hendri pun mendekati Melinda, lalu mencoba membangunkannya.


"Melinda, bangun Melinda," ucap Hendri sembari menepuk pipi Melinda supaya tersadar. Namun Melinda belum tersadar juga.


Mia menangis histeris.


"Bagaimana ini Hendri. Melinda sampai seperti ini. Semua gara-gara kamu," rengek Mia.


Karena Melinda tak sadarkan diri dan takut terjadi apa-apa. Hendri akan membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


Hendri membopong tubuh Melinda, lalu membawanya masuk kedalam mobil. Mia juga ikut membawa Melinda ke rumah sakit.


Hendri mulai melajukan mobilnya.


Didalam mobil, Mia tiada henti berceloteh menyalahkan Hendri, Melinda pingsan begini karena dirinya yang membuat keputusan bodoh. Mia pun menakut-nakuti kalau terjadi apa-apa sama Melinda bisa dituntut sama pak Subroto.


Mia juga menghujat Hendri menganggapnya bodoh yang ingin berada dalam masalah besar. Jika Hendri memutuskan hubungan dengan Melinda. Bisa-bisa semua harta milik Melinda ditarik kembali. Mia sangat menakutkan itu terjadi. Akan jadi apa nasibnya nanti.


Sudah sampai di rumah sakit. Hendri langsung membawa masuk Melinda yang masih belum sadarkan diri dalam dekapannya.


Seorang suster membawa Melinda ke ruangan periksa. Lalu seorang dokter memeriksa Melinda.


Hendri dan Mia menunggu diluar.


Mia menyuruh Hendri untuk menghubungi keluarga Melinda.


Hendri pun bergegas menghubungi mereka dan mengatakan Melinda sedang berada di rumah sakit karena pingsan.


Pak Subroto dan Liliana sangat cemas mendengar berita itu. Mereka berdua pun langsung bergegas ke rumah sakit.


Setelah di periksa Melinda tersadar dari pingsannya.


"Aku ada dimana in?" tanya Melinda sembari pandangannya mengedar ke langit ruangan itu.


"Kamu ada di rumah sakit." Jawaban dari seorang dokter mengagetkannya.


Melinda hendak membangunkan badannya, namun kepalanya terasa pusing. Melinda memegang kepalanya. Dan dia sungguh terkejut saat mendapati jarum infus di tangannya.


"Aku kenapa dok, kok sampai diinfus segala?" ucap Melinda sangat terkejut.


"Kamu hanya sedang hamil," cetus pak dokter.


"Hamil?"


"Benarkah dok?"


Pak dokter mengangguk sembari tersenyum.


"Ya Allah ternyata aku hamil. Alhamdulillah," ucap Melinda sangat senang hatinya.


"Aku hamil? Ehm..., Hendri tidak akan bisa menceraikanku. Kamu akan tetap jadi miliku Hendri. Kita akan punya anak." batin Melinda dengan senyum menyeringai.


Pak dokter keluar dari ruangan Melinda. Hendak memberitahu keluarga Melinda.


Saat keluar dari ruangan pak Dokter langsung di dekati Hendri yang sedari tadi menuggunya.


"Gimana dok, keadaan istri saya?" tanya Hendri penuh rasa khawatir.


"Keadaannya baik-baik saja. Hanya butuh banyak istirahat, karena istri anda sedang hamil," ucap pak Dokter.


Pak dokter mengatakan bertepatan dengan keluarga dari Melinda yang sudah datang.

__ADS_1


"Hamil?"


batin Hendri yang tak begitu senang mendengar Melinda hamil.


"Apa? Putriku sedang hamil," ucap Liliana yang baru saja datang, yang sempat mendengar ucapan pak dokter.


"Alhamdulillah. Melinda hamil Yah. Kita akan punya cucu," ucap Liliana senang.


"Syukurlah kalau tidak terjadi apa-apa sama Melinda," ucap pak Subroto.


"Selamat Hendri kamu akan menjadi seorang Ayah," ucap pak Subroto memberi selamat pada Hendri yang masih dengan keterpakuannya.


Hendri seperti tidak rela Melinda hamil, karena rencana untuk menceraikannya bakalan gagal.


Pak dokter meminta Hendri untuk ikut ke ruangannya.


Hendri pun manut berjalan memgikuti langkah pak dokter.


Sudah sampai di ruangannya, pak dokter mempersilahkan Hendri untuk duduk.


"Silahkan duduk," ucap pak Dokter.


Hendri pun duduk berhadapan dengan pak dokter.


"Sekali lagi selamat istri anda hamil. Tapi ada yang ingin saya jelaskan pada Bapak tentang kondisi kehamilan istri Bapak."


"Kenapa dengan kondisi kehamilan istri saya dok?" tanya Hendri penasaran.


"Keadaan janinnya sangat lemah. Harus ektra hati-hati menjaganya. Istri anda tidak boleh terlalu capek. Capek fisik maupun capek pikiran menjelang 4 bulan kedepan. Saya berharap anda sebagai sang suami bisa membantu menjaganya," ucap pak dokter.


"Baik pak, saya akan memberitahu istri saya untuk berhati-hati dan menjaganya," ucap Hendri.


Pak dokter memberi beberapa resep obat untuk dibeli Hendri.


Hendri keluar dari ruangan pak dokter, sembari bergumam.


"Jadi kandungan Melinda lemah?"


Hendri akan membeli obat dari resep pak dokter.


Sementara Liliana dan pak Subroto sudah berada di ruangan Melinda.


"Selamat sayang kamu akan menjadi seorang Ibu," ucap Liliana sembari memeluk putranya.


Pak Subroto pun sama memberi selamat pada putri tercintanya.


Melinda tak mendapati, Hendri datang ke ruangannya bersama kedya orang tuanya. Dia pun menanyakan keberadaannya. Dan Liliana mengatakan Hendri sedang diruangan pak dokter.


Tak berapa lama Hendri datang dengan membawa beberapa obat.


Hendri mengecup kening Melinda dan mengucapkan selamat padanya.

__ADS_1


Melinda senang mendapat perlakuan baik dari Hendri dihadapan kedua orang tuanya. Meski tadi bersikap brutal dan ingin menceraikannya.


"Aku yakin setelah ini kamu tidak bisa menceraikanku Hendri," batin Melinda.


__ADS_2