Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 44 Harus bercerai


__ADS_3

Setelah melakukan hubungan Hendri kembali membersihkan diri. Sembari membersihkan dirinya Hendri tiba-tiba teringat dengan Arumi. Dan merasa bersalah padanya. Hendri sedikit menyesali perbuatanya.


"Maafkan aku Arumi telah membohongi dirimu, aku menikah tidak memberitahumu. Aku sungguh tidak punya pilihan selain bersedia menikah dengan Melinda, karena aku tidak ingin karirku hancur dan melihatmu lebih menderita. Aku hanya ingin membuatmu bahagia Arumi." Hendri termangu memikirkan Arumi.


Hendri kembali melanjutkan mandinya.


Sementara Melinda duduk termangu ditepi ranjang. Dia kembali teringat dengan tujuannya tadi mempertanyakan status Hendri.


Setelah kejadian yang tak terlupakan tadi, Melinda tidak bisa untuk jauh dari Hendri. Melinda ingin memiliki Hendri seutuhnya.


"Hendri sudah berada dalam cengkeramanku, ia tidak boleh terlepas dari genggamanku," gumam Melinda sembari kedua tangannya menggenggam.


Karena keegoisan hatinya, Melinda tidak perduli dengan status Hendri. Melinda ingin tetap menjadi istrinya Hendri. Walau pun Hendri sudah punya seorang istri, Melinda akan membuat Hendri meninggalkan istri pertamanya dan hanya menjadikanya istri satu-satunya.


Hendri sudah selesai membersihkan diri, bergantian sekarang Melinda. Melinda pun cepat-cepat membersihkan dirinya.


Usai membersihkan diri dan berganti pakaian, Melinda ikut bergabung duduk bersama Hendri di tepi ranjang. Saatnya Melinda ingin mempertanyakan semuanya pada Hendri suaminya.


"Mas Hendri ini hand phone kamu," ucap Melinda sembari menyerahkan hand phone Hendri.


Hendri menerimanya dengan perasaan heran.


"Kok hand phone aku ada di kamu?" Tanya Hendri ingin tahu.


"Maaf aku lancang membuka hand phonemu tanpa izin dulu padamu," ucap Melinda.


"Kamu lancang sekali Melinda," ucap Hendri menaikkan kedua alisnya.


"Aku memang lancang. Tapi dari situ aku tau siapa dirimu. Kamu sudah punya seorang istri kan?"


Pertanyaan Melinda membuat Hendri melebarkan kedua netranya. Hendri sungguh terkejut bukan kepalang. Dia tidak menyangka Melinda bisa langsung tau.


Kini hanya rasa takut yang menyelimutinya, karena Melinda telah mengetahuinya.


Memang benar ucapan Melinda, Hendri pun mengaku, karena memang benar dia punya seorang istri.


"Dan sekarang dia baru saja melahirkan," imbuh Melinda.


"Apa? Arumi sudah melahirkan?" Tanya Hendri dalam hatinya.


"Siapa yang memberitahumu kalau istriku sudah melahirkan?"


"Ada yang memberitahuku. Dia adalah kakaku. Kakakku terlambat datang karena telah menolong istrimu membawanya ke rumah sakit untuk melahirkan," jelas Melinda.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Lihat saja di hand phone kamu," ucap Melinda.


Hendri pun membuka pesan dan membacanya.


"Benar, Arumi sudah melahirkan. Kenapa tepat bersamaan saat aku menikah diam-diam," gumam Hendri dalam hatinya.


Hendri nampak dengan kegusarannya.


Melinda merasa kecewa Hendri sudah membohonginya. Kenapa tidak berterus terang saja kalau sudah punya seorang istri.


Hendri membantahnya. Semua karena Melinda yang terus menerus memaksa dirinya untuk menikahinya.


Melinda memang mendesaknya untuk menikahinya, tapi Hendri tidak harus berbohong padanya kalau sudah punya seorang istri. Melinda bisa menerimanya tapi tidak dengan ayahnya. Bagaimana kalau sampai ayahnya tau Hendri berbohong. Semua yang dinyatakan ayahnya bakalan ditarik kembali.


Melinda memberi pilihan pada Hendri, tetap menjadi suaminya Melinda atau harus menceraikan istrinya sebelum ayahnya tau semuanya.


Melinda mengatakan pada Hendri, jika ayahnya tau bakalan marah besar dan menuntut Hendri karena sudah membohongi putrinya, Hendriri bakalan dikeluarkan dari perusahaanya juga.


Hendri mengeluh itu pilihan yang berat. Disisi lain Hendri tidak ingin karirnya hancur. Dan disisi lain Hendri tidak ingin menceraikan arumi yang sudah berjanji meresmikan pernikahannya setelah kelahiran anaknya.


"Kamu harus memberi jawaban sekarang Hendri," ucap Melinda.


"Ya allah kenapa aku engkau hadapkan dalam situasi yang sulit seperti ini?" Keluh Hendri.


Melinda sengaja mengancam Hendri dengan alasan ayahnya, supaya Hendri tetap menjadi miliknya seutuhnya.


Melinda sungguh sangat egois ingin memiliki Hendri, tak perduli menyakiti hati sesama seorang istri. Tidak ada rasa kasihan pada diri Melinda terhadap Hendri.


Hendri memohon pada Melinda untuk membiarkan Arumi tetap menjadi istrinya.


Melinda tidak bersedia, jika Hendri sudah menikahinya berarti Hendri sudah siap menceraikan istri pertamanya dan hanya akan menjalin rumah tangga dengannya.


Hendri pun berpikir, jika dia dikeluarkan dari perusahaan oleh pak Subroto akan jadi apa nasibnya dan keluarganya karena dia tulang punggungnya. Bagaimana juga nanti nasib Arumi dan anaknya.


Akhirnya Hendri memutuskan akan menceraikan Arumi dan berjanji akan tetap membuatnya bahagia dan tercukupi semua kebutuhannya.


Hari ini juga Melinda meminta Hendri untuk segera memutuskannya. Hendri manut saja perintah Melinda.


Malam ini Hendri akan pergi ke rumah sakit menemui Arumi yang sudah melahirkan anaknya. Hendri sudah bulat dengan keputusannya yang menurutnya sudah benar.


Hendri tiada memyadari pilihannya sudah salah besar. Dia sudah berkhianat dengan cinta tulus Arumi.


Hendri mulai melajukan mobilnya berangkat dari rumah Melinda menuju rumah sakit tempat Arumi melahirkan.


Setelah melalui perjalanan sampailah di rumah sakit.

__ADS_1


Hendri pun keluar dari dalam mobil. Dia mulai melangkah memasuki rumah sakit dan menuju ke ruangan Arumi.


Sebelum masuk ke ruangan Arumi Hendri berpapasan dengan nenek Suryati yang keluar dari ruangan Arumi.


"Hendri? Kamu sudah datang," ucap nenek senang melihat cucu menantunya datang.


"Iya nek, maaf aku baru bisa datang nek. Aku sibuk di kantor banyak pekerjaan sampai tidak tau kalau Arumi sudah melahirkan."


"Masuklah! Masuklah! Arumi sudah menunggu kedatanganmu sedari tadi. Pasti Arumi senang melihatmu datang," ucap Nenek menyuruh Hendri untuk segera masuk.


Nenek Suryati ingin Arumi kembali tersenyum karena sedari tadi nampak sedih karena Hendri tidak ada disisinya.


Hendri pun masuk dengan mencoba menguatkan hatinya.


"Mas Hendri, kamu sudah datang," ucap Arumi saat melihat yang membuka pintu adalah suaminya.


"Iya aku datang sayang," ucap Hendri sembari meggulas senyum.


Hendri mendekati Arumi yang sedang terbaring lalu mengecup keningnya.


"Mas, anak kita sudah lahir. Dia jagoan tampan seperti kamu Mas," ucap Arumi.


Hendri menanggapinya biasa saja.


"Aku senang sekali sudah melahirkan dengan selamat. Tidak sabar Mas aku ingin kamu segera meresmikan pernikahan kita," ucap Arumi sembari menatap teduh suaminya yang memang sudah menjanjikan padanya.


"Maafkan aku Arumi, itu tidak akan pernah terjadi, karena aku akan menceraikanmu. Maafkan aku yang telah ingkar padamu. Aku sudah terjebak dalam permainanku sendiri dan kamu yang jadi korbannya," batin Hendri yang juga menatap Arumi teduh.


"Sepertinya acara peresmian pernikahan kita tidak akan pernah terjadi Arumi?" ucap Hendri dengan berani.


"Kenapa tidak akan terjadi Mas?" tanya Arumi sangat penasaran.


"Maafkan aku!" Tangan Hendri menggenggam tangan Arumi.


"Kenapa Mas, harus minta maaf. Ada apa?"


"Karena aku tidak bisa meresmikan pernikahan kita."


"Kenapa tidak bisa Mas. Karena apa?" Tanya Arumi ingin tahu.


"Karena kita harus berpisah," ucap Hendri.


"Berpisah? Apa maksudnya berpisah?"


Hendri bergeming, merasa tak tega menjelaskannya pada Arumi.

__ADS_1


__ADS_2