
"Papah....Sasa nggak mau," tutur Sasa berusaha melepaskan tangan sang Papah yang masih mencengkram tangannya dengan erat.
Baskara menghempaskan tangan sang putri, dan menatap dengan tatapan tajam.
"Apa kamu mau berhenti menjadi dokter?" tanya Baskara, namun Sasa hanya diam menatap sang Papah, "Kalau mereka menemukan mu sebelum kau yang pergi ke pada mereka dan meminta maaf, maka kau akan di penjara beserta karir mu itu akan hancur, kau mau itu terjadi?" tanya Baskara dengan berapi-api.
Sasa diam dan mulai merasa ketakukan, emosi dan iri membuatnya gelap mata hingga tubuhnya berhasil di kuasai iblis tanpa berpikir akibat yang akan ia terima.
"Jawab Papah!" teriak Baskara dengan nada membentak hingga Sasa juga terkejut, dengan cepat ia menggeleng.
"Papah.....kan orang hebat mana mungkin tidak bisa menyelesaikan ini dengan mudah, tidak usah di persulit Pah....kita bukan orang sembarangan. Jadi kalau hanya membebaskan Sasa dari hal ini sangat mudah," kata Zakira wanita yang melahirkan Sasa itu tak pernah rela bila anaknya kalah dari orang lain, itu memang sudah di ajarkan Zakira pada sang putri sejak kecil.
"Diam. Kalau kau berani ikut campur kau pun akan ku ceraikan!"
Pertama kalinya Baskara berucap demikian, ia benar-benar sudah geram dengan tingkah sang istri yang salah mendidik putri mereka.
"Tapi Pah."
"Zakira aku bilang diam, atau....." Baskara tak dapat melanjutkan kata-katanya karena Zakira dengan cepat memotongnya.
"Pah jangan bicara cerai," kata Zakira dengan ketakutan, bukan karena ia takut miskin. Zakira terlahir dari keluarga kaya namun ia sangat mencintai suaminya dan Zakira tak mau di saat sudah membina rumah tangga bertahun lamanya kini hancur begitu saja.
"Ikut Papah," Baskara kembali menarik lengan Sasa, ia pun belum tau berhadapan dengan siapa. Namun orang suruhan Baskara mengatakan jika korban sedang di rawat di rumah sakit.
"Tapi Pah....Pah Sasa takut hiks hiks...." Sasa menangis ketakutan karena tak ada yang membelanya seperti selama ini.
"Papah bilang ikut, kamu harus tanggung jawab!"
Baskara memasukkan Sasa ke dalam mobil kemudian ia juga ikut masuk, begitupun dengan Zakira dengan cepat ikut masuk kedalam mobil ia takut nanti putrinya akan di hakimi.
***
__ADS_1
Rumah Sakit.
Kini ke tiganya sampai di rumah sakit, Baskara menarik lengan Sasa untuk ikut dengannya menuju ruangan di mana ruang korban Sasa di rawat. Baskara tau sebab mata-matanya masih berada di sana sesuai perintah Baskara, hingga tanpa bertanya pun kini Baskara tau ke mana harus membawa Sasa.
"Masuk!" Baskara menarik Sasa dan menghempaskannya di lantai, berdekatan dengan ranjan Brian.
Brian dan juga Bilmar yang masih berada di sana merasa bingun dengan kehadiran Sasa yang tiba-tiba, bahkan dengan cara di hempaskan ke lantai oleh seorang pria paruh baya. Namun Brian dan Bilmar tau dan cukup mengenal siapa orang yang menghempaskan Sasa, banyak pertanyaan di benak keduanya begitu pun dengan Anggia yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sasa," Anggia mencoba menolong Sasa, tapi Sasa menolak malah ia mencoba mendorong Anggia. Namun dengan cepat Bilmar menarik sang istri agar tak terjatuh.
"Tuan Baskara?" kata Brian yang masih bingung.
Baskara yang di ikuti Zakira langsung masuk, kini ia tau ternyata korban dari Sasa adalah putra tunggal Pasha Wiratwan. Dengan membuang rasa malu Baskara tetap mendekati Brian, matanya bukan hanya melihat Brian tapi Bilmar juga. Pebisnis muda pemilik prusahaan raksasa.
"Tuan Bilmar?" kata Baskara.
Bilmar tak menjawab kini ia hanya diam menatap Baskara penuh tanya, selanjutnya Baskara menatap Brian yang masih berbaring di ranjang.
"O, jadi kau yang berniat menghabisi istri ku?" Bilmar mendekati Sasa yang berdiri di dinding ruangan, dengan perasaan takut dan menunduk ia terus mencoba berdiri.
"Maksud anda tuan?" tanya Baskara tidak mengerti, "Bukankah yang menjadi korba tuan Brian? Lalu kenapa malah membawa istri anda?" tanya Baskara yang masih di landa kebingungan.
"Sasa jelaskan, atau kau tidak akan bisa melihat keindahan dunia ini lagi!" kata Bilmar dengan suara pelan, namun penuh penekanan dalam setiap ucapannya.
"Maaf tuan.....hiks, hiks," Sasa menundukan kepala dan ketakutan.
"Maaf?" Bilmar mencengkram erat dagu Sasa, karena perasaan kesal.
"Hiks....hiks...." Anggia malah menangis ketakutan ia pikir ia akan menyaksikan Brian dan Bilmar memukuli Sasa di hadapannya, bayangan saat dulu ia melakukan kesalahan tangan Brian lah yang berbicara seakan kembali menghantuinya.
Bilmar menghempaskan Sasa, ia sadar istrinya ketakutan dan ia tidak akan mau istrinya terus di hantui rasa takut. Dengan cepat Bilmar menarik istrinya kedalam pelukannya, dan berulang kali ia mengecup pucuk kepala Anggia.
__ADS_1
"Jangan takut," kata Bilmar.
Brian berusaha mendudukan tubuhnya walau pun terasa sulit, ia kasihan melihat Anggia yang ketakutan.
"Sasa kami tidak akan menghukum mu dengan cara kami, kau akan kami polisikan dan aku pastikan kau tidak akan memakai jas putih mu itu lagi!" kata Brian.
"Tuan saya mohon, saya khilaf dan saya minta maaf," kata Sasa menunduk di hadapan Brian.
"Siapa saja yang terlibat dengan rencana gila ini?" tanya Bilmar yang masih memeluk Anggia dengan erat.
"Jawab Sasa jangan diam saja," kata Baskara dengan kesal, ia benar-benar sangat malu saat ini. Brian dan Bilmar adalah rekan bisnisnya, kedua orang itu sangat menghormati Baskara karena lebih tua dari mereka tapi Sasa malah menjatuhkan harga diri Baskara.
"Tidak ada tuan Bilmar, aku tadinya tanpa pikir panjang langsung ingin menabrak Anggia," jawab Sasa dengan suara terbanta-banta.
"Kau jangan berusaha melindungi orang lain!" kata Bilmar, sambil menatap Brian.
Brian tersenyum samar, ia yakin Bilmar saat ini menuduhnya terlibat dalam perencanaan pelenyapan Anggia.
"Tidak tuan tidak ada....hiks, hiks," Sasa terus menangis karena rasa takut.
"Aku korban di sini, dan aku berhak untuk mempolisikan mu!" kata Brian sambil mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas.
"Tuan....hiks, hiks," Sasa menangis ketakutan berharap Brian mengampuninya, "Maaf tuan, aku mohon," kata Sasa menundukan kepala.
"Tidak bisa.....aku tidak mau tertuduh dalam kejahatan ini dan aku ingin menuntaskan masalah ini. Agar semua jelas," tutur Brian, ia memang tidak mau tertuduh karena dia memang tak pernah merencanakan ini semua.
"Aku mohon tuan," kata Sasa lagi, "Papah tolong Sasa," pinta Sasa dengan menangis berharap sang Papah akan menolongnya.
***
Bersambung....
__ADS_1