Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Promosi


__ADS_3

Judul : Mentari.


"Kak Arkaaaaaaa.......!!!!" teriak Mentari di depan pintu, karena Arka pergi dan ia tinggal sendiri di apartemen. Mentari kesal karena ia tidak bisa keluar sebab ia tidak tahu pasword pintu apartemen tersebut. Dan sudah di pastikan jika ia akan terkurung di sana sampai Arka kembali, Mentari duduk di lantai dan ia bersandar di daun pintu, "Kak..... Arkaaaaaaa hiks....hiks....." Mentari menangis dan sesekali ia berteriak. Bahkan kadang ia menggedor-gedor pintu, sampai tangannya terasa sakit. Bukan hanya dengan tangan kakinya juga sesekali menendang pintu, sangking kesalnya.


"Apa?" jawab Arka santai, ia keluar dari sebuah ruang kerjanya.


Mata Mentari melebar, ia terkejut ternyata Arka belum pergi dan meninggalkan dirinya terkurung sendiri di dalam apartemen. Mentari bangun dari duduknya, dan cepat-cepat menghapus jejak air mata yang membasahi pipi nya. Ia menghapus dengan piama yang ia pakai, bahkan juga mengelap sedikit ingus yang ikut keluar, Ia masih bingung dan malu.


"Kak Arka masih di sini?" tanya Mentari dengan ragu.


Arka tersenyum dan ingin tertawa melihat wajah Mentari, "Memangnya saya kemana?" Arka tidak menjawab ia malah balik bertanya, "Dasar anak-anak."


"Ish....." Mentari kesal pada dirinya sendiri, karena ia dipergoki Arka sedang menangis sekarang ia kembali di sebut anak-anak. Hal yang paling tidak di sukai Mentari, karena ia merasa sudah dewasa.


Arka tahu Mentari kesal padanya, dan itu membuat Arka semakin suka menjaili Mentari, "Kau seperti yang di kartun-kartun yang anak-anak, tapi tidak suka di katakan anak-anak," terang Arka lagi.


"Kalau yang di kartun-kartun itu memang anak-anak, Tari udah SMA udah nunggu hari kelulusan juga, bahkan Tari udah mau kuliah, jadi Tari anak-anak dari mana?!" kesal Mentari sambil berkacak pinggang, tidak lupa matanya menatap Arka dengan tajam di tambah lagi dengan suara yang berteriak bila berbicara.


"Jadi kau sudah dewasa?" tanya Arka sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Iyalah," ketus Mentari namun ia tidak lupa membanggakan diri.


"Benarkah?" Arka mendekati Mentari hingga keduanya hanya berjarak satu meter saja.


"Tari udah mau kuliah, udah nikah!" terang Mentari dengan jelas dan segala kecerewetan nya, "Mana ada anak-anak yang udah nikah, yang udah nikah itu pasti orang udah dewasa....jelas ya Kak, Tari udah dewasa!" tambah Mentari lagi tanpa takut sedikitpun.


Arka merasa memiliki hiburan. Ia yang tidak banyak bicara, bisa berbicara dengan kata cukup banyak dan panjang hanya karena kecerewetan dan kehebohan Mentari, "Kalau kuliah kau akan menjadi sarjana?" tanya Arka.


"Iyalah masa jadi istri kedua!" jawab Mentari asal.


"O....." Arka mengangguk, "Kalau setelah menikah kau jadi apa?" tambah Arka lagi.


"Jadi istri, jadi Ib......" Mentari memutuskan kata yang hendak ia ucapkan, ia malah bergidik ngeri dengan jawaban yang hampir ia utarakan dengan jelas pada Arka.

__ADS_1


Arka mendekatkan wajahnya, "Jadi istri dan jadi Ibu....begitukan?" tanya Arka.


Mentari hanya mendeguk saliva, tanpaknya Arka cukup sulit untuk di ajak berdebat, dan ia pun sedang memikirkan jawaban yang tepat agar tidak terpojok.


"Iya tapi....."


"Tapi apa?" Arka mendekati Mentari.


Mentari mundur selangkah semiselangkah, kakinya bergetar hingga akhirnya tubuhnya terbentur daun pintu dan tidak bisa lagi bergerak.


Arka meletakan kedua tangannya di Dau pintu berdekatan di samping kedua lengan Kanan Mentari, begitu pun dengan sebelahnya lagi, di mana Mentari tidak bisa lagi lepas dari kungkungan nya, "Ayo jelaskan istri ku?" tanya Arka dengan suara yang cukup lembut.


Mendengar kata Istri Mentari semakin berkeringat dingin, namun anehnya Mentari suka bau badan Arka yang malah membuatnya betah lama-lama di dekat suaminya itu. Namun tetap saja keringat dingin membanjiri tubuhnya.


"Kak Arka......" kata Mentari dengan memohon, bahkan wajahnya menunjukan ingin di kasihani.


"Apa?" tanya Arka dengan santai tanpa menjauh sedikitpun.


"Mama......." Mentari menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia takut melihat wajah Arka dengan dekat karena jantung nya malah berdetak kencang.


"Kakak jahat.....nanti Tari bilangin ke Mami biar Kakak di pukul," ancam Mentari dengan suara yang bergetar.


"Jangan."


"Tari bilang."


"Jangan!"


"Tari bilangin ke Mami!"


"Nanti Kakak juga bilang kalau kau mau kasih cucu buat Mami!" Arka mengangkat alisnya, untuk menggoda Mentari.


"Apa?" mulut Mentari terbuka lebar karena kata-kata yang di ucapkan Arka sangat membuatnya menjadi bodoh, bahkan suasana mendadak horor.

__ADS_1


"Tuli," Arka mengetuk dahi Mentari dengan tangan kanan nya.


"Tari nggak TULI...." teriak Mentari lalu ia mengusap dahinya.


"Kenapa nanya kalau nggak tuli?"


"Kakak aneh.... ngomong-ngomong cucu!" jawab Mentari lagi tanpa bergerak di tempat nya.


"Tadi kau bilang kalau kau itu sudah dewasa bahkan sudah menikah, sudah jadi istri dan mau jadi Ibu?" Arka mengulangi kata-kata yang tadi sempat di katakan Mentari namun terpotong, "Jangan bilang kau sudah lupa, karena kalau kau lupa artinya kau juga sudah tua!" Arka tidak berniat sedikit pun untuk menjauh, bahkan ia melupakan pekerjaan yang kini sedang menantinya. Karena sedari tadi ponselnya berdering tapi ia terlihat tidak perduli, sebab mainan di hadapannya kini jauh lebih menarik.


"Enak aja nenek..." Mentari memasang wajah masamnya, "Kalau Tari nenek....nenek....berati Kakak....Kakek....Kakek....Waaaahahahhah...." Mentari malah tertawa lepas karena menyebut Arka Kakek-kakek.


"Tapi kapan kita punya cucu kalau anak saja belum punya?"


"Ish.....dasar Om....om gila!" teriak Mentari.


"Tapi apa yang Kakak katakan benarkan?" Arka mendekatkan tangannya kearah baju Mentari.


"Kakak mau ngapain?" Mentari ketakutan dan takut Arka melakukan itu. Karena untuk itu Mentari masih belum siap.


"Ini ada ingus di piama mu!" terang Arka, karena memang tadi Mentari mengelap air mata dan ingusnya dengan baju.


"He....he....he....." Mentari menutup wajahnya karena malu.


"Dasar anak-anak....jorok sekali!" Arka mundur dan berbalik, ia ingin menuju ruang kerjanya namun Mentari malah dengan cepat berlari dan ia mengelap ingus di bajunya pada jas mahal yang sudah terpakai di tubuh Arka.


"Ahahahhaha......." Mentari tertawa lepas karena berhasil mengerjai Arka.


"Kau!" Arka mengangkat sebelah alisnya, karena Mentari sudah berlari Arka dengan cepat juga mengejar Mentari. Bahkan Mentari sampai menaiki meja, kemudian melompati sofa demi bisa melarikan diri.


"Wahahaaaa...." Mentari berhasil masuk ke dalam kamar dan dengan cepat lengannya menutup pintu, namun Arka juga sudah memegang daun pintu sambil berusaha membukanya.


__ADS_1


Di tunggu kehadirannya Kakak, mampir ya jangan nggak mampir....Othor tunggu lho ya....


__ADS_2