
Jantung Veli kembali berdetak tak karuan karena ucapa Aran yang berucap dengan lancarnya kata cinta, sepanjang perjalanan ia hanya diam menatap jalanan. Hingga akhirnya mereka sampai di perusahaan Aran memarkirkan mobilnya tepat di depan gedung itu, setelah ke duanya turun akan ada satpam yang memarkirkan mobil Aran pada tempatnya.
"Mas Veli ngapain sih ikut, enakan juga di rumah," kata Veli dengan wajah murung karena kini ia sudah berada di ruangan Aran.
"Kamu tunggu di sini, Mas keruang rapat dulu," jawab Aran sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Tapi Mas," Veli ingin tidur tapi Aran terap saja tak membolehnya di rumah saja.
"Sini," Aran menekan tombol di yang tersimpan di bagian rak buku yang menjulang tinggi, sesaat kemudian rak itu bergeser, "Kamu istirahat di dalam, kamu tadi mau tidur kan?" tanya Aran.
"He'um," Veli masuk dan melihat di sana ada ranjang yang berukuran cukup besar, ia langsung membaringkan tubuhnya. Sementara Aran pergi keruang rapat dengan terburu-buru.
"Selamat pagi," sapa Aran yang kini berada di ruang rapat.
Satria melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Ini sudah siang tuan Aran Rianda yang terhormat," jawab Satria tanpa melihat Aran.
Semua orang di ruangan itu tercengang mendengar jawaban Satria, pertama kalinya mereka melihat ada yang berani berucap demikian. Tanpa mereka ketahui jika kini bukan Satria yang harus menunduk di hadapan Aran seperti dulu, melainkan Aran lah yang menunduk di hadapan Satria.
"Maaf tuan Satria," kata Aran dengan berat hati dan ia ikut duduk, tentu saja ia duduk di kursi kebesarannya.
"Sebagai seorang pemimpin, seharusnya anda menjadi contoh yang baik untuk karyawan anda yang lainya. Bukannya malah melakukan kesalahan," omel Satria lagi.
Semua yang ikut dalam meeting tersebut saling melempar tatapan mendengar ucapan Satria, biasanya Aran selalu bebas mau terlambat atau membatalkan meeting yang telah di susun dengan susah payah pun tak ada yang berani menegur. Tapi kali ini Aran benar-benar di kerjai Satria habis-habisan di hadapan karyawan petinggi perusahaannya.
Mati kutu ini mantu, menjebak dan memaksa putri saya untuk menikah pintar. Nah ini dia akibatnya sekarang, kita lihat sebesar apa cintanya pada putri kesayangan ku.
"Anda sudah terlambat 20 menit, tuan Aran Rianda. Saya bukan hanya meeting dengan anda hari ini, masih banyak lagi meeting penting yang harus saya lakukan hari ini," tandas Satria lagi.
"Sekali lagi mohon di maafkan tuan Satria," kata Aran dengan menundukan kepalanya.
__ADS_1
"Kali ini saya maafkan, sekali lagi anda mengulanginya. Anda akan saya buat menyesal," kata Satria yang ingin tertawa melihat wajah Aran yang seperti menyimpan ketakutan, padahal ia hanya ingin melihat sejauh apa kini Aran menghargainya dan benar saja tak perlu di ragukan lagi. Aran tak seperti dulu lagi padanya.
Setelah perdebatan itu meeting tetap di lanjutkan, tak ada yang berani bertanya kenapa yang ada semua terlihat begitu terkejut melihat Aran menerima saja saat di tegor habis-habisan oleh Satria. Kecuali Marni. Marni adalah asisten Aran ia tau tentang Aran yang sudah menikah dengan Veli dan wajahnya terlihat ketakutan saat menatap Aran, sebab ia berpikir karena kecerobohannyalah Aran ketahuan sedang berdua di ruangannya bersama Veli dan Satria memergokinya.
Hingga akhirnya meeting selesai, semua orang meninggalkan ruang meeting kecuali Aran dan Marni. Marni bangun dari duduknya dengan sangat hati-hati bahkan menunduk.
"Mau kemana?" tanya Aran dengan wajah dingin menatap Marni.
"Mati aku," gumam Marni sambil menutup mata, "Keluar bos," jawab Marni tanpa berani menatap Aran.
"Siapa yang memerintahkan mu keluar?" tanya Aran lagi.
Marni gemetaran mendengar pertanyaan Aran, dengan gerakan cepat ia berjalan mendekati Aran dan berjongkok.
"Maaf bos, saya mohon jangan pecat saya," ucap Marni menangkup kedua tangannya, ia kini tengah bersiap mendengar omelan Aran. Namun itu lebih baik dari pada harus di pecat.
Aran menaikkan sebelah alisnya, merasa lucu dengan tingkah Marni sebab ia tak betniat memarahi sang asisten. Melainkan ia ingin mengucapkan terima kasih, tapi tanggapan Marni justru lain.
"Saya mohon tuan jangan pecat saya, saya harus membiayai keluarga di kampung," pinta Marni menangkup kedua tanganya di hadapan Aran, berharap Aran masih bemurah hati padanya.
"Saya mau mengatakan terima kasih, siapa yang mau pecat kamu," jelas Aran dengan begitu jelas terdengar di telinga Marni.
"Terima kasih?" tanya Marni dengan kebingungan.
"Emm, karena kecerobohan kamu itu saya berhasil menikahi anak tuan Satria. Kamu akan saya berikan hadiah sebuah mobil dan kamu bebas memilih mobil apa saja, mobil itu hanya bentuk tanda terima kasih saya," kata Aran tanpa menatap Marni.
"Mobil? Apa saja bebas pilih," Marni cukup shock mendengar apa yang di katakan Aran, "Tuan seriius?" tanya Marni yang ingin meyakinkan dirinya lagi jika apa yang ia dengar tidaklah salah.
"Kamu mau di pecat secara tidak hormat, atau di beri mobil?"
__ADS_1
"Mobil tuan!" jawab Marni dengan cepat.
"Baiklah, saya keluar!" Aran keluar dari ruangan itu meninggalkan Marni yang masih melongo mendengar ia akan segera mendapatkan mobil.
"Ya ampun, ini mah....namanya kecerobohan membawa berkah," kata Marni dengan hati yang berbunga-bunga mengingat mobil baru yang akan ia dapatkan, "Tentu saja aku akan pilih yang paling mahal, kapan lagi," teriak Marni dengan bahagia.
Sementara Aran kini sudah kembali ke ruangannya, ia melihat Veli yang tengah tertidur lelap di ruang istirahatnya. Sebab memang ia meeting cukup lama hingga Veli benar-benar tertidur. Aran melepas jas dan sepatunya ia ikut naik keranjang, dan membelai pipi Veli yang terlihat begitu menggemaskan. Aran sangat berhati-hati karena takut Veli merasa tidurnya terganggu, lagi pula sepuluh menit lagi ia akan melakukan rapat lagi.
"Mmmmmm," Veli menggeliat dan memeluk Aran, tanpa sengaja karena ia pikir Aran adalah bantal guling.
"Sial....dadanya....uhhhhhh" Aran menghembuskan nafasnya dengan kasar, merasakan suatu benda yang terasa kenyal dan padat. Aran menatap wajah Veli dengan lekat, berulang kali ia menggelengkan kepala karena berusaha menguasai diri.
"Mas," Veli terbangun dan melihat Aran yang ternyata ia peluk, dengan cepat Veli melepasnya karena merasa malu.
"Kamu udah bangun?" tanya Aran setelah melihat mata Veli yang terbuka.
"Mmmmm," kata Veli sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya.
"Yaudah, Mas harus meeting lagi. Kamu udah lapar?" tanya Aran sebab Aran ingat Veli tidak puasa karena sedang datang tamu bulanan.
"Iya Mas, lumayan laper," jawab Veli, "Mas mau ngapain?" tanya Veli saat Aran naik keatas tubuhnya.
"Veli, datang bulannya masih lama nggak. Apa nggak bisa berhenti sebentar. Nanti seminggu ini di lanjutkan lagi, kamu kan dokter kandungan?" tanya Aran.
"Mas apasih, mana ada datang bulan boleh di atur hari ini datang besok enggak. Besok nggak datang hari berikunya datang," kesal Veli sambil mendorong Aran agar menjauh darinya.
"Ck....." Aran berdecak kesal mendengar jawaban Veli.
***
__ADS_1
Nanti malam buat yang menunggu part Mp boleh merapat, maaf harusnya tadi malam. Tapi Author terlalu banyak pertimbangan. Author di sini untuk menghibur hari-hari kalian, bukan untuk mengajak kalian menciptakan dosa dengan cara membuat puasa kalian batal karena hiburan yang saya berikan. Jadi nanti malam Author kasi part sesuai keinginsn kslian. Makasih.