
Satu minggu sudah berlalu, dan kini Anggia sedang membawa anak-anaknya ke taman untuk bermain. Usia Alif dan Alma sudah menginjak bulan ke empat, keduanya kini sudah mulai suka di ajak bercanda. Bilmar juga terlihat antusias mengajak istri dan anaknya untuk menikmati indahnya mentari pagi, bersama dengan dua pengasuh ke dua baby twin Al juga tentunya.
"Abang, Anggi haus deh. Kita ke Minimarket depan yuk," kata Anggia meminta Bilmar menemaninya.
"Yaudah ayo."
Keduanya pergi memasuki Minimarket, dan Anggia mulai memilih apa yang hendah ia beli. Namun tiba-tiba ada seorang wanita cantik yang menghampiri Bilmar, sementara Anggia masih sibuk dengan belanjaannya.
"Hai Bil?" sapa orang tersebut.
Bilmar yang menyadari ada yang menyebut namanya, mulai melihat asal suara.
"Iya," jawab Bilmar.
"Abang mau minuman apa?" tanya Anggia, namun karena Anggia tak mendengar Bilmar menjawab pertanyaannya. Akhirnya ia berbalik dan ternyata Bilmar tengah berbicara dengan seorang wanita, Anggia tak mau langsung berpikiran buruk. Ia berpikir mungkin itu kerabat jauh Bilmar, sebab ia pun belum mengenal semua kerabat jauh Bilmar. Atau mungkin teman lama Bilmar, tak mungkin Bilmar tak ada teman. Namun mata Anggia menatap lebar saat wanita itu tiba-tiba memeluk Bilmar dengan cepat, Anggia benar-benar penasaran dan ia mulai berdiri di belakan Bilmar agar mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Fika, lepas," kata Bilmar berusaha melepaskan dirinya yang masih di peluk si wanita bernama Fika itu.
"Bil, aku kangen tau......kita di LA juga selalu sama-sama kan. Kamu udah nggak sayang lagi sama aku?" tanya Fika dengan suara manja.
DEEG!.......
Jantung Anggia berdetak tak karuan mendengar apa yang di katakan wanita itu, kini ia mulai tau jika wanita itu bagian dari masa lalu Bilmar.
"Fika lepas, di sini banyak orang," kata Bilmar masih berusaha melepankan diri sebab beberapa pengunjung juga terlihat menatap mereka.
"Jadi kalau nggak banyak orang kamu mau ya, aku lupa kamu kan sukanya berduan di kamar hotel. Atau di Apart kamu kan, yaudah yuk. Aku udah kangen juga sama kamu," Fika semakin bertingkah manja, tanpa mau melepaskan pelukannya dari Bilmar.
__ADS_1
Anggia menarik napasnya dengan panjang, ia menjatuhkan keranjang yang ia pegang. Bilmar yang sedari tadi berusaha melepaskan diri agar Anggia tak melihatnya, kini mulai shock takut Anggia salah paham. Sebab ia tengah di peluk seorang wanita, padahal Bilmar sudah berusaha melepankan diri.
"Heh.....kamu siapa? Nggak sopan banget sih," omel Fika yang kini sudah melepaskan Bilmar dari pelukannya.
Anggia berjalan mendekati Fika "Ngapain kamu peluk suami saya?" tanya Anggia dengan wajah datar, dan memandang Fika dengan tajam.
Fika menatap penampilan Anggia mulai dari kaki sampai ke atas kepala, penampilan Anggia terlihat sederhana. Tak seperti dirinya yang berpenampilam sexy.
"O.....jadi kamu istrinya Bilmar," Fika menatap remeh Anggia, "Jelek banget Bil, penampilannya juga begini banget, selera kamu menurun ya? Perasaan sedari kita pacaran dulu kamu sukanya cewek sexy deh," tambah Fika lagi.
"Saya memang tak suka berpenampilan sexy, sebab tubuh saya bukan untuk di pertontonkan pada banyak orang," tegas Anggia.
"O......" Fika mengangguk, kemudian ia menatap Bilmar, "Kalau model beginian kamu ngapain balik ke sini, enakan di LA kan Bil, ada aku di sana buat temen kamu biar hangat setiap malamnya?" ucap Fika dengan manja menatap Bilmar.
"Fika cukup, dia istri ku. Dan aku tidak mau ada pertengkaran. Sebaiknya kau pergi," tegas Bilmar.
Rasanya Anggia kehilangan kesabaran, dengan cepat ia mendorong Fika agar menjauhi Bilmar dan ia berdiri di hadapan Bilmar. Lebih tepatnya di tengah-tengah Fika dan Bilmar yang kini berjarak beberapa langkah itu.
"Heh......kalau masih punya harga diri cari laki-laki yang belum beristri dan anak, jangan murahan dong. Di sini ada istrinya juga, punya harga diri dikit jadi perempuan!" tegas Anggia setelah ia mendong Fika yang mencoba memeluk Bilmar.
"Heh.....kalau pun Bilmar udah nikah, aku nggak yakin dia bisa setia sama istrinya. Aku tau seperti apa Bilmar dulu, aku pun masih berstatus kekasih dengan dia. Kami belum pernah putus, dan kalau pun kami tidak menikah sampai saat ini. Tapi kami sudah saling menikmati satu sama lain," tegas Fika lagi.
"Fika cukup!" Bilmar tak mau lagi mendengar apa yang di katakan Fika, sebab semua itu hanya masa lalu kelam dari Bilmar dan kini ia sudah tak seperti dulu lagi. Dulu hidup di LA memang pergaulannya bebas, namun itu hanya untuk bergabung dengan teman-temannya saja. Ia sama sekali tak ada niatan untuk hidup seperti itu selamanya.
"Ayo lah Bil, aku udah kanget banget," kata Fika lagi masih dengan manjanya.
PLAK....
__ADS_1
Tangan Anggia mendarat di pipi mulus Fika, emosi yang sedari tadi ia tahan kini lepas sudah. Tangannya benar-benar terasa ringan melayang di pipi Fika, si wanita yang menggoda pria sudah beristri itu.
"Berani kau menampar ku," kata Fika menatap Anggia dengan tajam, dengan cepat ia pun melayangkan tangannya di udara. Namun dengan cepat Bilmar menahannya.
"Fika cukup! Dia istri ku. Dan kau pergi dari sini," ucap Bilmar tak kalah tegas.
"Bilmar, kamu lebih bela dia dari pada aku?"
"Saya istrinya, kamu cuman wanita murahan yang masih suka menggoda suami orang," jawab Anggia.
"Heh, suami kamu ini sudah sering tidur dengan saya. Dan saya sangat tau seperti apa dia, sebentar lagi dia pasti bosan dengan mu dan akan mencari yang lainnya lagi," kata Fika masih menatap remeh Anggia.
FLAK.....
Jika tadi pipi kanan Fika yang terkena tangan Anggia, maka kini pipi kiri Fika yang menjadi sasaran Anggia.
"Kau itu hanya masa lalu.....ingat Ma....sa....la...lu," jelas Anggia di telinga Fika, "Dan aku MASA DEPAN," tegas Anggia, "Bilmar sudah punya Istri dan dua anak, jadi jangan menjadi parasit di antara keluarga kami," tambah Anggia lagi dengan telunjuknya mengarah tepat di depan wajah Fika.
Bilmar bergidik ngeri melihat Anggia, ia baru tau ternyata istrinya bisa sekejam itu. Sungguh pertama kalinya Bilmar tau tentang Anggia yang berhadapan dengan orang semacam Fika.
"Ih......" Fika kesal ia geram dengan Anggia, "Aku bakalan bales nanti, kamu liat aja," kata Fika lalu melangkah pergi.
***
Jangan lupa LIKE dan VOTE.
Terima kasih.
__ADS_1