
"Abang apa sih?" Anggia merasa malu sendiri mendengar godaan Bilmar.
"Mukanya kenapa merah begini," Bilmar masih setia menggoda Anggia dengan wajah yang memerah.
"Abang, hik, hiks," Anggia malah berteriak menangis.
"Beli eskrim yuk," Bilmar mengalihkan pembicaraannya, biasanya Anggia akan menurut bila menyangkut eskrim.
"Yuk," Anggia bagai anak kecil yang tengah menangis, di tawari eskrim langsung berhenti menangis.
"Yuk," Bilmar merangkul bahu Anggia dan memasukan kepala Anggia kedalam ketiaknya, Anggia kesal dan meronta-ronta minta di lepaskan.
"Tuan Abang gila lepas," teriak Anggia.
"Nggak usah pakek Tuan kicot," Bilmar menyentil dahi Bilmar.
"Abang bisa nggak sih sehari aja kalau jumpa sama Anggi jangan ngajak perang!" kesal Anggia.
"Bisa, cuman satu yang saya nggak bisa," kata Bilmar sambil merangkul bahu Anggia saat keduanya berjalan keluar.
"Apa?" Anggia berhenti melangkah otomatis Bilmar juga berhenti melangkah.
"Abang nggak penah bisa lupain Anggi," Jawab Bilmar.
"Ish," Anggia marah salah tingkah dengan wajah yang kembali memerah, "Iya lah Abang nggak bisa lupain Anggi, kan Abang durhaka sama Anggi, jail terus makanya Abang di kejar dosa," Anggia mengalihkan pembicaraan.
"Abang bukan di kejar dosa Anggi?"
"Terus apa?"
"Abang di kejar cinta kamu!" tutur Bilmar dengan jelas.
"Abang Bilmar udah godain berapa cewek?"
"Banyak, tapi yang serius cuman sama Anggi," jawab Bilmar.
"Ish," Anggia kesal dan melangkah dengan cepat mendahului Bilmar, sebab jantung Anggia sudah berdetak tak menentu. Apa lagi dengan gombalan receh Bilmar rasanya Anggia ingin melambaikan tangan mengatakan menyerah.
"Anggi, kamu mau kemana?" tanya Bilmar sebab Anggia sudah berjalan jauh darinya.
"Mau keluar kan katanya mau beli eskrim" jawab Anggia tanpa dosa.
"Anggia, Dokter Cantik Milik siapa? Pintunya di sana," Bilmar menunjuk arah pintu utama, Sementara Anggia berjalan kearah pintu belakang.
"Eh," Anggia menggaruk kepala karena merasa malu dengan tingkahnya sendiri.
"Ayo," Bilmar menarik tangan Anggia keluar, "Pintu di sini sayang, sejak kapan pintu ini pintah tempat," tutur Bilmar sambil membuka pintu mobil untuk Anggia.
Sementara Anggia makin tidak karuan dengan panggilan sayang Bilmar yang terasa gatal di telinganya, Anggia hanya menyadar dan melihat keluar jalanan yang mereka lewati dengan mengigit kuku jari jempolnya, berusaha mengkondisikan jantung yang semakin tak karuan.
"Kicot," Bilmar menatik telinga Anggia membuatnya tersentak dan menatap tajam Bilmar.
__ADS_1
"Sakit hiks, hiks," Anggia mengelus telinganya.
"Cengeng," seloroh Bilmar.
"Abang, Anggi turun di sini aja ya."
"Jangan dong kita kan mau beli eskrim ke mall," kata Bilmar.
"Abang Anggi pengen beli sepatu bayi boleh nggak?" tanya Anggia dengan mata yang berbinar dan penuh harap.
"Boleh dong," Jawab Bilmar tersenyum bahagia.
Kini keduanya sudah sampai di mall, Anggia dan Bilmar duduk sambil memakan Eskrim. Bilmar merasa merinding Anggia seperti orang kelaparan.
"Anggi, pelan-pelan."
"Hehege, maaf," Anggia terkekeh karena kekonyolannya sendiri.
"Anggia," Bilmar menyandarkan tubuhnya dan ingin berbicara serius.
"Iya," Anggia yang sudah selesai memakan eskrim mulai menatap Bilmar serius, sebab Bilmar terlihat akan bicara serius
"Saya ingin bicara serius."
"Bicara apa?"
"Sudah berapa bulan usia kandungan kamu?" tanya Bilmar.
Sejenak Bilmar terdiam dan menimbang apa yang ia katakan, begitu pun Anggia yang masih menunggu apa yang akan Bilmar katakan.
"Aku ingin kita menikah," kata Bilmar dengan jelas.
DEEG.
Anggia membuang pandangannya kearah lain, ia yakin hatinya kini mulai di miliki Bilmar, namun ia belum yakin untuk menikah lagi. Hatinya belum siap kalau ternyata Bilmar nantinya akan sama dengan mantan suaminya.
"Aku...," Anggia di landa di lema antara ia dan tidak, perasaan gundah dan resah seakan kembali mengrogoti batin rapuhnya.
"Begini saja," Bilmar menatap Anggia dan menjeda ucapannya, "Kalau kau ragu menikah dengan ku tidak apa, kita menikah hanya sampai anak kita lahir saja setelah itu kau boleh minta cerai kalau kau mau," Bilmar kini hanya bisa berusaha sampai di situ, kali ini Bilmar mengesampingkan perasaannya demi dua anaknya yang masih di kandung Anggia, selebihnya Bilmar akan berusaha mempertahankan Anggia setelah menikah.
"Tapi.." Anggia tampak ragu, dan Bilmar dengan cepat memotong ucapan Anggia.
"Saya tidak mau orang mengatakan anak kita sebagai anak haram Anggia, dia akan malu bila dia tau, kalau keduanya lahir tanpa adanya ikatan pernikahan. Saya mohon mengertilah kita menikah hanya secara kekeluargaan saja," Bilmar tidak ingin Anggia menolak hingga ia terus berusaha meyakinkan Anggia.
Lama Anggia terdiam dengan berbagai pertimbangam hingga ia mengangguk.
"Iya sudah," jawab Anggia, ia pikir apa yang di ucapkan Bilmar memang benar.
"Terima kasih ya," Bilmar tersenyum bahagia, walaupun Anggia mau menikah dengannya hanya karena anak, itu tidak apa.
"Iya demi anak tidak ada salahnya," kata Anggia lagi.
__ADS_1
"Ok, kalau gitu kita jalan-jalan yuk," Bilmar tersenyum dan menarik tangan Anggia.
"Yuk," jawab Anggia.
"Katanya tadi kamu mau beli sepatu bayi ya?" tanya Bilmar, mengingat Anggia tadi minta beli sepatu bayi.
"Iya dong," jawab Anggia dengan antusias.
Keduanya berjalan beriringan masih seperti biasanya, Bilmar yang merangkul bahu Anggia dan tangan Anggia melingkar di pinggang Bilmar, berjalan berdua dengan gaya seperti itu seakan sudah menjadi kebiasaan keduanya. Hingga tanpa bisa di rubah lagi, entah itu hanya sebatas teman atau kekompakan mereka dalam memperhatikan janin yang masih di kandung Anggia, yang jelas keduanya merasa ada yang kurang bila tak bersama.
"Kamu pilih warna apa?" tanya Bilmar.
"Warna pink," jawab Anggia tanpa melihat Bilmar.
"Memangnya anak kita laki atau perempuan," tanya Bilmar.
"Belum tau, belum Usg," jawab Anggia dengan mata dan tangan berfokus pada sepatu bayi yang ingin ia beli.
"Besok kita kerumah sakit ya," kata Bilmar yang penasaran apa jenis kelamin bayi mereka.
"Iya," jawab Anggia.
Setelah Anggia selesai berbelanja keduannya kembali pulang, saat ini Anggia dan Bilmar sudah duduk di dalam mobil.
"Abang," panggil Anggia yang duduk di samping Bilmar.
"Sayang," jawab Bilmar.
"Ish," Anggia kesal dengan panggilan Bilmar, lagi-lagi panggilan itu hanya bisa membuat jantungnya tak karuan.
"Apa?" Bilmar mengulangi jawabannya.
"Anggi kangen sama cafe, kita kesana yuk," Anggia meminta penuh harap.
"Kamu kangen cafe?" tanya Bilmar.
"Kangen dong," jawab Anggia cepat.
"Sama, tapi beda," jawab Bilmar.
"Maksud Abang," Anggia malah di buat bingung sendiri.
"Sama Abang juga kangen," jelas Bilmar.
"Abang kangen cafe juga?" tanya Anggia ceria.
"Kangen kamu!"
Anggia lagi-lagi membuang pandangannya kejalanan, hari ini semenjak kepulangan Bilmar jantung Anggia tak bisa terkontrol, setiap ucapan manis yang keluar dari bibirnya hanya bisa memporak-porandakan perasaan Anggia saja.
*****
__ADS_1
KAKAK semua jangan lupa VOTE buat ya setuju Anggia menikah dengan Bilmar segera.