Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 94


__ADS_3

Pagi harinya.


"Huuek," Anggia turun dari ranjang dengan cepat dan berjalan ke kamar mandi. Usia ke hamilannya sudah tujuh bulan tapi tetap saja mual di pagi hari masih sering kali ia rasakan, begitu pun dengan pagi ini.


"Huekk, hueek," Anggia terus memuntahkan isi perutnya, sementara Bilmar masih tidur dengan nyenyak tampaknya Bilmar sangat lelah setelah insiden kemarin sore di tambah semalam ia menggoda Anggia, bahkan Anggia mengacam tidur di kamar lamanya jika Bilmar terus saja menggodanya hingga dengan terpaksa Bilmar berhenti menggoda sang istri. Setelah mandi di pagi hari, kini Anggia berada di dapur. Ia membuat nasi goreng dan juga secangkir kopi untuk sang suami.


"Anggi," panggil Veli yang baru sampai di dapur, ia ingin membuat teh namun ternyata Anggia sudah berada di dapur.


"Veli," sekilas Anggia melirik Veli setelah itu ia menata nasi goreng buatannya di meja makan, tidak lupa secangkir kopi buatannya pun sudah ia letakan di atas meja makan.


"Wangi banget," Veli mencium aroma nasi goreng buatan Anggia yang sangat menggoda itu.


"Ayo duduk, kalau wangi, kita sarapan bareng," kata Anggia tersenyum.


"Laki lu mana?" Veli sebenarnya sudah tidak sabar untuk menikmati nasi goreng buatan Anggia, dulu juga Anggia sering membuatkannya nasi goreng hingga Veli sudah sangat tau bertapa lezatnya nasi goreng racikan istri Bilmar Rianda tersebut.


"Bentar ya, aku bangunin dulu."


"Iya bangunin gih," kata Veli, ia sadar diri tinggal hanya menumpang dan walau pun tingkahnya ketus di tambah lagi ia sudah di cap cewek gesrek. Tapi tetap saja Veli tau ia harus sopan pada sang pemilik rumah, kecuali pada Aran maka Veli akan berubah menjadi monster.


Veli duduk di meja makan sambil memainkan ponselnya, sementara Anggia naik ke lantai dua untuk membangunkan Bilmar, perlahan Anggia masuk dan ia sudah melihat Bilmar dengan pakaian kerjanya.


"Anggi tolong dong," Bilmar meminta Anggia untuk memasang dasinya.


Anggia masih berpikir untuk memasangkan dasi itu atau tidak, karena ia belum sanggup berdekatan dengan Bilmar yang lagi-lagi hanya membuat jantungnya berdetak kencang. Sejenak Anggia diam dan merenungi mungkin itu perasaan cinta ia tau itu, namun ia masih berusaha untuk tidak menumbuhkan rasa cinta itu di hatinya sampai ada kejelasan dengan pernikahannya dengan Bilmar, Anggia masih ragu ia hanya menikah siri dan tidak ada cincin nikah lalu di tambah lagi perjanjian awal yang hanya sampai ia melahirkan, dan saat ini Anggia benar-benar menjaga hatinya agar tak terluka karena kebodohannya sendiri.


"Kicot cepat pasang, kok diem aja sih," perntah Bilmar karena Anggia hanya diam saja berdiri tidak jauh darinya.

__ADS_1


"Iya," Anggia dengan cepat dan setengah berjinjit memajasangkan dasi suaminya, "Selesai," Anggia mundur tapi sebelum ia benar-benar mundur Bilmar malah mengecup keningnya.


CUP.


"Makasih," Bilmar mengacak rambut Anggia, setelah itu Bilmar berjalan keluar dari kamar, setetes air mata Anggia menetes tapi dengan cepat ia menghapus jejak air mata itu. Lalu ia menarik nafas dengan dalam dan tersenyum seperti biasanya, ia kemudian berjalan menyusul Bilmar menuju meja makan.


"Akhirnya, gw udah lapar banget deh," Veli tersenyum melihat Anggia dan Bilmar yang sudah sampai di meja makan.


"Kamu kalau lapar kenapa nggak makan duluan?" tanya Anggia pada Veli.


"Segan lah gw," jawab Veli.


"Sejak kapan lu punya rasa segan?" Aran yang baru saja datang ikut menyela pembicaraan Veli dan Anggia.


"Makanan enak begini, tapi pas liat muka lu gw jadi nek," kesal Veli.


"Udah.....nggak baik ribut di depan makanan," Anggia hanya bisa menggeleng melihat Veli dan Aran yang tak pernah akur.


"Iya, Abang mau nasi goreng atau," belum selesai Anggia bertanya Bilmar sudah menunjuk nasi goreng hingga Anggia tersenyum dan mengambilkan nya pada piring Bilmar.


"Makasih," Bilmar tersenyum dan mulai menyicipi masakan sang istri.


"Anggi nasi goreng lu sumpeh....enak bener," kata Veli yang masih menyendok nasi goreng pada mulutnya.


"Iya lah, Anggia mah cewek asli kan?" kata Aran menyindir Veli.


"Maksud lo," Veli rasanya ingin mencongkel bola mata Aran dengan garpu yang kini ada di tangannya, karena terlalu kesal pada Aran.

__ADS_1


"Sama calon suami nggak boleh gitu," tutur Aran dengan suara yang lembutnya.


"Amit-amit," Veli memutar bola mata merasa jenuh dengan Arang yang kini duduk di hadapannya.


"Mami mana ya?" tanya Anggia yang menyadari Ratih belum datang juga di meja makan, karena ia tau jika Ratih tak bisa terlambat sarapan.


"Mami nggak nginep di sini, semalam Mami pamit pulang soalnya Papi pulang dinas dari luar kota langsung pulang kerumah kata Mami gitu," Veli ingat semalam Ratih menggedor kamarnya untuk berpamitan, namun lucunya Ratih ternyata hanya berpamitan pada Veli saja.


"Kok, Mami nggak bilang sama Anggi ya," Anggia masih bingung.


"Semalem itu, Mami ke kamar kalian pintunya sedikit kebuka dan Mami denger kamu teriak-teriak jadi Mami ngerti lah namanya juga manten baru kan? Akhirnya dari pada Mami mengganggu kalian lebih baik Mami pulang tanpa pamitan sama manten baru," Aran ingat semalam di mana ia melintasi kamar Bilmar dan ia melihat Ratih di sana, dan ketika Aran bertanya Ratih mengatakan tidak papa tapi Aran tau apa yang Ratih pikirkan karena ia melihat Ratih hanya berdiam saja di sana.


"Apa sih," Anggia menatap Bilmar dan mendeguk susu hamil yang tadi ia buat, Anggia sangat malu dengan perkataan Aran. Ia juga yakin Ratih pasti berpikir aneh-aneh padahal ia hanya berteriak karena Bilmar menggodanya terus-terusan.


"Emang enak banget jadi manten baru, gila...semalam juga kita 8 ronde," kata Bilmar pada Aran namun ia menatap Anggia, yang hanya akhirnya membuat wajah Anggia kembali memerah menahan rasa malu.


"Parah lu bini lagi buntin begitu," Aran malah kesal dengan perkataan Bilmar.


"Bini gw juga menikmati banget, ya nggak Ngi?" tanya Bilmar pada Anggia.


"Ish," Anggia rasanya ingin menyiram wajah Bilmar dengan air karena kesal, namun ia takut dosa karena durhaka pada suami.


"Kalian berdua ngomong apasih......otak polos gw jadi ternodai tau nggak sih," Veli juga ikut kesal dengan pembicaraan Bilmar dan Aran yang tak berfaedah sedikit pun.


"Sapa suruh di dengerin," jawab Aran.


"Dah gw mau berangkat ngantor," Veli pergi meninggalkan meja makan, yang di susul Aran di belakangnya meninggalkan Bilmar dan Anggia yang masih sarapan.

__ADS_1


***


Saya up kalau ada yang VOTE, lagi nggak semangat tanpa VOTE dari reader yang baik hati.


__ADS_2