Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 152


__ADS_3

Siang harinya sesuai seperti janji Veli pada Aran pagi tadi, bahwa ia akan membawakan makan siang. Lalu mereka akan makan bersama-sama. Dan kini Veli sedang mengemudikan mobilnya menuju kantor Aran, di perjalanan ban mobil Veli kempes dan ia turun dari mobilnya. Tanpa di sangka sebuah sepeda motor melintas hampir saja mengenainya, namun karena Veli tersadar ia berhasil menghindar dan hanya lecet pada bagian siku karena terkena aspal.


"Maaf Mbak, saya nggak sengaja," kata seorang wanita yang menggunakan sepeda motor itu.


"Iya nggak papa, saya juga baik-baik saja," jawab Veli menunjukan kondisi tubuhnya, jika ia memang baik-baik saja.


Setelah kepergian orang tersebut Veli memesan taxi online dan menumpanginya, hingga akhirnya ia sampai di perusahaan dengan membawa bekal untuk sang suami. Tak ada kata lelah atau pun sedih setelah ada inseden yang ia alami, justru ia masih saja menunjukan jika dirinya cukup bahagia dengan mengantarkan makanan untuk Aran. Iya tak mengerti dengan hati dan perasaannya yang jelas ia ingin selalu bersama sang suami.


"Marni, suami saya ada di dalam?" tanya Veli saat akan memasuki ruangan Aran, ia terlebih dahulu bertanya pada Marni. Asisten Aran.


"Ada nyonya muda, hanya saja boss lagi ada pertemuan dengan rekan kerjanya. Tapi boss bilang kalau nyonya datang langsung masuk saja," jawab Marni dengan senyuman.


"O.....yasudah, saya kedalam dulu."


Perlahan Veli membukan pintu dan melihat Aran di sana yang sedang terlibat pembicaraan yang cukup serius, Veli langsung saja masuk karena sesuai dengan apa yang di katakan Marni barusan. Ia meletakan kotak makanan yang ia bawa di atas meja kerja Aran dan duduk di kursi kebesaran sang suami. Sementara Aran yang duduk di sofa tak bisa lagi berkonsentrasi, setelah kedatangan Veli.


Veli tak menghiraukan empat orang pria yang tengah duduk di sofa, sambil membicarakan bisnis itu bahkan ia tak menyadari sesekali Aran mencuri pandang padanya. Veli menatap kembali tangannya yang terkena aspal, ada sedikit lecet dan mulai terasa perih. Dari kejauhan Aran memicingkan matanya melihat apa yang sedang Veli lakukan.


"Tuan, rapatnya sampai di sini dulu. Nanti kita lanjutkan kembali," kata Aran mengakhiri rapat mereka, karena ia ingin melihat mengapa istrinya bisa terluka.


"Baiklah, tuan Aran. Kami permisi."


Setelah saling berjabatan tangan, dan kepergian rekan kerjanya. Aran lansung berjalan menuju kursi ke besarannya.


"Kenapa?" tanya Aran, tadinya ia ingin bertingkah cuek pada Veli. Untuk melanjutkan kembali actingnnya tadi pagi, namun tidak bisa karena melihat Veli sedang meniup lukanya.


"Nggak papa, tadi di jalan Veli di serempet motor Mas. Tapi nggak papa, Veli cuman sedikit jatuh aja," jelas Veli pada Aran.


"Terus orangnya sekarang di mana? Kenapa dia nggak tanggung jawab. Apa dia sengaja?" banyak pertanyaan yang diberikan Aran pada nya, bahkan dengan raut wajah yang khawatir.


"Mas apaansih panik banget, Veli nggak papa. Dia juga tadi minta maaf, dia lagi buru-buru mau jenguk ibunya katanya tadi. Jadi nggak papa Mas. Lagian tadi Veli yang nggak lihat dulu, pas turun dari mobil. Mobil Veli mogok di jalan," jelas Veli pada Aran agar tak terlalu mengkhawatirkan dirinya.


Setelah Aran meminta di bawakan kotak obat oleh Marni, kini ia mulai membersihkan luka sang istri. Kemudian menutupnya dengan perban.

__ADS_1


"Udah......masih sakit nggak?" tanya Aran lagi, "Kalau sakit kita ke rumah sakit," tambahnya lagi, jujur saja Aran masih merasa panik takut ada luka lain di tubuh istrinya.


"Nggak, Veli kan dokter. Lagian ini cuman lecet Mas," jelas Veli.


"Dari pada Mas penasaran, mending kamu buka pakaian. Biar Mas bisa lihat dengan pasti kalau semua aman tanpa lecet," kata Aran berusaha membuka dress yang di gunakan Veli.


"Mas mau mosus ya...." Veli menahan tangan Aran, "Modus, bilang mau lihatin lecet padahal....." Veli mulai mengerti dengan ke mesuman suaminya kini.


"Hehehee tau aja...." Aran menari pipi Veli tang sudah menjadi hobi Aran sepertinya.


"Sakit Mas," kata Veli dengan manja dan ia memeluk lengan Aran, "Veli beneran ngga papa Mas," lanjut Veli lagi.


"Em....." dengan berat hati Aran mengangguk, "Istri Mas bawa apa," tanya Aran menatap kotak makanan yang tadi di bawa Veli.


"Makanan dong, ini Veli yang masak. Belajar sama Mama," jawab Veli dengan bangga, karena ia sudah mulai pandai memasak.


"Ohhh...ya.....waw," Aran menghargai kerja keras Veli, ia tersenyum dan mengangkat Veli bangun kursi kebesarannya. Dan Aran duduk. Setelah ia duduk lalu tangnnya mengangkat Veli duduk di pangkuannya, sambil melihat tangan Veli yang sedang membuka kotak bekal.


"Buka mulutnya," kata Veli yang kini duduk sambil melingkarkan kaki di pinggang Aran.


"Enak nggak?" tanya Veli dengan tak sabar menunggu jawaban dari Aran.


"Emmmm," Aran terus mengunya makanannya, "Enak, ini mantap," jawab Aran dengan tangaannya menarik gemas pipi Veli.


"Veli suapin lagi, ayo buka mulutnya."


Setelah Veli menyuapinya, kemudian Aran mengambil sendok dari tangan Veli. Kemudian ia menyuapi Veli, "Enak kan?" tanya Aran.


"Enak Mas, Veli emang lagi doyan makan," kata Veli sambil mengunyah makanannya.


"Pantesan kamu gemukan," kata Aran tersenyum pada Veli.


"Ya dong, efek bahagia ini," jawab Veli kini ia yang menyuapi Aran dan begitu seterusnya sampai keduanya selesai makan. Dengan bergantian sambil menyuapi.

__ADS_1


"Sayang minumnya mana?" pinta Aran.


"Ini," Veli mengambil gelas yang berisi air putih dari atas meja kerja Aran, namun ia mendeguknya terlebih dahulu baru memberikannya pada Aran.


Aran hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang jail, "Buat suami di kasih sisa ya," seloroh Aran.


"Heheheheeee...." Veli menunjukan giginya pada Aran.


"Di bilangin malah cengengesan," Aran menutup wajah Veli dengan telapak tangannya.


"Veli nggak bisa napas tau Mas," kesal Veli menyingkirkan tangan Aran.


"Sini Mas kasih napas buatan," Aran memajukan wajahnya mendekati Veli, tapi Veli mendorong wajah Aran.


"Modus," kata Veli sambil terkekeh.


"Sedikit," kata Aran di selingi tawa, "Oya, mobilnya tadi gimana? Udah di bilang sama orang bengkel?" tanya Aran.


"Udah Mas, Mobilnya udah butut Mas janji-janji doang. Katanya mau beliin Veli mobil tapi sampek sekarang nggak ada," kesal Veli mengingat janji-janji Aran.


"Mas, malas belinya. Apa lagi kamu sampek lecet begini, mulai hari ini kamu harus pergi-pergi sama Mas,"


Veli menatap Aran dengan bingung, dan ada sedikit penyesalan karena sudah mengatakannya pada sang suami. Sebab imbasnya kini pada dirinya yang tak bebas dalam mengemudi lagi.


"Ish.....Veli juga bentar lagi mau masuk kerja. Gimana caranya coba?" tanya Veli.


"Pagi kamu Mas antar, nanti pulang Mas jemput," jawab Aran santai.


"Terus kalau Veli mau ada penting gimana?" tanya Veli lagi.


"Nggak ada, kalau mau pergi-pergi sama Mas."


"Ish....."

__ADS_1


***


Jangan lupa VOTE. Makasih.


__ADS_2