
Judul novel : Ku tunggu janda mu
Suara alunan musik menggema dengan dentuman yang sangat kuat, aroma minuman menyeruak masuk kedalam indra penciuman. Pria dan wanita berbaur menjadi satu tanpa ada jarak, begitu juga dengan seorang pria berkemeja hitam yang tengah duduk di meja bat tender. Sesekali ia meneguk minuman haram yang di siapkan seorang wanita di hadapan nya, tidak tahu sudah berapa banyak ia minum. Tapi ini sudah cukup membuatnya merasa mabuk.
"Zea itu bukannya Dimas?" seorang wanita yang duduk di meja lainnya melihat orang yang tidak asing.
Zea yang sangat kesal pada penolakan Dimas merasa kacau, ia akhirnya pergi kesebuah club malam untuk menenangkan pikiran. Sampai akhirnya seorang temannya menunjuk seorang pria yang barusan membuatnya merasa terhina.
"Iya, sih," Zea mengangguk dan berbicara dengan sedikit berteriak agar temannya mendengar ia berbicara.
"Samperin gih...."
"Ah.....kesel gua," tolak Zea, mengingat beberapa saat lalu Dimas menghinanya habis-habisan.
"Mana tahu malam ini lu bisa dapetin dia," seorang teman Zea memberikan sebuah obat pada Zea.
Zea tahu itu obat apa, ia berpikir tidak ada salahnya jika sedikit mencoba. Zea tersenyum pada temannya, kemudian berjalan mendekati Dimas yang tengah menelungkup kan kepalanya pada meja bar dengan gelas yang masih ia pegang. Dengan seringai licik Zea mulai memasukan satu butir pil pada minuman Dimas, sebab saat ini Dimas terlihat sedang tidak menyadarinya.
"Hay sayang," sapa Zea yang kini ikut duduk di samping Dimas.
Dimas merasa ada tangan yang memegang bagian belakang tubuhnya, ia bangun dan melihat siapa wanita itu. Dengan gerakan cepat Dimas langsung mengibaskan tangannya karena tidak ingin di sentuh oleh Zea.
"Ouuu.....kau kasar sekali," ujar Zea dengan manja.
"Menjijikan!" kesal Dimas dan dengan segera ia meneguk minuman yang masih ia pegang.
__ADS_1
Zea tersenyum, hanya tinggal menunggu beberapa menit saja Dimas pasti akan berubah menjadi kepanasan. Dan benar saja, tidak menunggu lama kini tubuh Dimas mulai tidak terkendali.
"Apa ini?" gumam Dimas yang mulai merasa gelagat aneh pada tubuhnya, "Sial!!!!" Dimas melihat Zea tampaknya ia mulai sadar jika ada yang tidak beres.
"Sayang kau kenapa?" Zea sadar kini tatapan Dimas berubah mengerikan, tapi Zea tidak takut sama sekali. Bahkan ia merasa obat itu mulai bekerja dengan baik.
"Sial!!!" dengan cepat Dimas berjalan dan mencoba tetap sadar, beberapa kali ia memukuli kepalanya agar tidak terpengaruh oleh obat sialan itu.
Zea yang melihat Dimas berjalan dengan terhuyung tentu saja tidak tinggal diam, ia me coba membantu Dimas agar berjalan dengan benar.
"Lepas!" Dimas kembali mencoba menghempaskan tangan Zea, bahkan hingga beberapa kali, "Sial! Ini panas sekali!"
"Aku hanya menolong mu!" kata Zea.
"Aku tidak butuh!" Dimas mulai melemah bahkan mulai tertidur, mungkin karena terlalu banyak minum.
"Pak, tolong buka pintu gerbang nya. Saya mengantarkan Dimas pulang," kata Zea sambil membuka kaca jendela mobil.
Satpam tersebut tentunya sudah mengenal siapa Zea, dan dengan cepat ia membuka pintu gerbang.
"Terima kasih," ujar Zea.
Dengan perlahan Zea mulai membantu Dimas keluar dari mobil, kemudian membatu Dimas untuk masuk.
Jam menunjukan pukul 02:30 malam, semua penghuni rumah sudah berada di dalam kamar tertidur dengan lelap. Sehingga tidak ada yang melihat mereka masuk, kecuali satpam orang yang sekaligus membuka pintu utama. Namun setelah itu hanya Zea yang membantu Dimas berjalan masuk, sebab Dimas masih setengah sadar. Hingga sampai di depan pintu kamar Dimas mendorong Zea pada dinding.
Buk!!!
__ADS_1
"Sssssttt....." ringis Zea ketika kepalanya terbentur pada dinding, dan sedetik kemudian Zea terkapar tidak sadarkan diri di depan pi tu kamar Dimas.
"Sial!!" umpat Dimas sesaat ia mulai merasa semakin panas, "Apa ini pasti ulah wanita sialan itu!!!" geram Dimas.
Dimas semakin gila karena obat perangsang yang barusan masuk ke tubuhnya, hingga ia melempar semua benda yang ada di depannya. Semakin lama perasaan tidak karuan dan panas semakin menguasai tubuhnya hingga semakin membuatnya kehilangan akal, serta kesadaran yang semakin menghilang.
Lala yang merasa haus kini keluar dari kamar, setelah kejadian tadi ia belum bisa tertidur sama sekali. Namun ada yang aneh, kamarnya dan kamar Dimas hanya dibatasi oleh kamar Rika yang berada di tengah-tengah. Hingga matanya melihat ada seseorang yang terkapar di depan kamar Dimas.
"Apa itu Rika?" Lala takut jika orang yang tidak sadarkan diri itu adalah Rika, hingga dengan cepat ia berlari dan berjongkok di samping wanita itu, "Ini bukan nya wanita tadi?" gumam Lala mengingat wajah Zea yang barusan juga datang ke rumah itu.
Krang!!!
Lala mendengar suara benturan dari kamar Dimas, dengan rasa penasaran Lala mulai mengarah pada pintu yang sedikit terbuka. Tapi mata Lala melihat Dimas yang duduk di lantai dengan membuka kancing baju, rambutnya terlihat acak-acakan. Lala ingin memberi tahukan pada anggota keluarga lainnya jika ada Zea yang tengah pingsan di depan pintu kamar Dimas. Namun saat akan berbalik, tiba-tiba kaki Lala tersandung dan pintu terbuka lebar kemudian ia terjatuh.
Dimas merasa ada suara, tapi ia tidak begitu sadar. Dengan cepat Dimas bangun dan melihat siapa wanitanya itu.
"Aduh....." ringis Lala dan ia mencoba untuk bangun, "Maaf Pak, tadi saya....."
Dengan satu kali tarikan tubuh langsung melayang, sedangkan kaki Dimas menendang pintu tanpa sengaja dan membuat nya tertutup rapat. Kini Lala berakhir pada ranjang, dengan cepat Dimas menindih Lala.
"Pak Dimas!!!" Lala mulai sadar jika ada yang aneh pada Dimas, tapi ia juga tidak mengerti. Dan berulang kali Lala mencoba melepaskan diri, "Pak Dimas!!!" teriak Lala.
Karena gairah yang semakin memanas, rasa yang semakin menuntut membuat Dimas semakin gelap mata. Dengan cepat Dimas menarik piama tidur yang ada pada tubuh Lala, dan melahap bibir Lala. Sampai akhirnya seluruh bagian tubuh Lala ia kuasai.
"Pak Dimas....hiks....hiks....hiks...."entah mengapa Lala merasa terluka dengan apa ya g di lakukan oleh Dimas saat ini, rasanya ini terlalu menyakitkan walaupun ia sadar ia bukanlah wanita yang sempurna untuk Dimas.
Dengan gerakan cepat Dimas langsung memasuki Lala, "Sssssttt....." Lala mencengkram seprai dengan sangat kuat, karena ini sangat menyakitkan sekali. Dimas yang di kuasai obat seketika berubah seperti hewan yang tidak berbelas kasih, ia benar-benar tidak menyadari sudah membuat seorang wanita yang sangat mencintai hancur sampai sedalam-dalamnya. Hingga tanpa sadar sudah merenggut paksa.
__ADS_1
*