
Saat Aran keluar dari dapur tanpa melihat di depannya dan dengan langkah tergesa-gesa Aran menabarak seseorang, dan ternyata itu adalah Veli si musuh bebuyutannya.
BUUUK.
"Auw," Ringis Veli sambil berusaha bangun mengusap siku yang terasa sakit, mata Veli menatap siapa yang menabraknya barusan.
"Jalan liat-liat dong," Tutur Aran juga malah kesal melihat Veli.
"Heh...elu yang nabrak gw begoo!" Veli ingat tadi ia melihat Aran berjalan dengan langkah yang tergesa-gesa bahkan sambil sesekali berbalik ke belakang, seperti maling yang ketahuan mencuri.
"Alah," Aran menyenggol bahu Veli dengan kesal lalu pergi begitu saja, tapi Veli tetap kesal hingga ia berteriak dengan kesal.
"Dasar bujang lapuk haram nggak laku, Asisten sialan!" Teriak Veli yang mampu menghentikan langkah Aran dan ia malah kembali mendekati Veli.
"Lu bilang apa?" Aran mendorong tubuh Veli hingga Veli sedikit terdorong ke belakang.
"Gw bilang lu, bujang lapuk haram, Asisten sialan!" Veli mengulangi kata-katanya.
"Kenapa lu bilang gw bujang lapuk!" Tatapan Aran sangat tajam pada Veli, bahkan ia mengepalkan tangan.
"Emang lu bujang lapuk kan? Nggak usah sok deh lu," Veli kali ini mendorong Aran dan pergi tapi Aran dengan cepat menahan Veli agar tak pergi dan itu membuat Veli kesal.
"Heh, nggak ada yang nggak jatuh hati sama gw," Tutur Aran dengan percaya diri yang tak pernah hilang.
"Waw, ngeri," Veli berpura-pura merinding mendengar perkataan Aran.
Saat keduanya sedang berdebat hebat, tiba-tiba Anggia dan Bilmar keluar dari dapur dan menyaksikan pertengkaran kedua manusia yang tak pernah akur itu.
"Vel, tadi Aran nyari lu," Anggia dengan tanpa dosanya mengatakan hal itu di saat sedang ada ketegangan yang melanda, dua manusia di hadapannya.
"Hah, bujang lapuk lu nyari gw?" Veli seperti tidak percaya dengan apa yang di katakan Anggia, namun Veli tau Anggia tidak pandai dalam berbohong atau pun mengarang cerita.
"Amit-amit," Aran sangat gengsi jika Veli tau ia memang tadi mencari Veli, "Lu jangan ngarang!" Kata Aran pada Anggia dengan nada membentak.
"A....bang, Aran bentak Anggi, hiks, hiks," Anggia malah memeluk Bilmar dan menangis, di tambah sedikit mengadu.
__ADS_1
"Heh berani lu bentak bini gw," Bilmar tidak suka ada yang membentak Anggia, apa lagi apa yang di katakan Anggia memang benar adanya.
"Aelah, lakinya marah!" Aran mengusap wajah dengan kesal.
"Eh, tapi gw percaya ya apa yang di bilang sahabat gw, dia nggak pernah bohong?" Veli ikut kesal pada Aran.
"Nggak usah kepedean lu," Aran menjitak dahi Veli.
"Sakit!" Teriak Veli kesal bahkan memukul Aran, tanpa di sengaja Aran dengan cepat menggabungkan kedua tangan Veli di genggamannya, tanpa sadar Aran memeluk Veli dari belakang.
"Dasar cewek pecicilan," Kesal Aran.
"Lu bujang lapuk sialan nggak laku-laku," Ketus Veli yang masih tidak sadar dengan posisi keduanya yang tidak berjarak.
Sementara Bilmar dan Anggia saling pandang menatap aneh Aran dan Bilmar.
"Mami.....Aran sama Veli pelukan?" Teriak Anggia yang di pinta Bilmar, tampaknya kini Anggia tidak sadar jika ia di manpaatkan oleh suaminya sendiri.
Aran dan Veli tersadar sesaat mendengar teriakan Anggia, keduanya melihat posisi mereka yang ternyata tanpa jarak bahkan bisa di katakan mereka seperti berpelukan.
"Lepasin!" Teriak Veli.
"Lu pasti sengajakan!" Aran melepas Veli dan berdalih padahal ia masih betah kalau harus memeluk Veli lagi.
"Aran......Veli....." Teriak Ratih yang kini sudah hadir di dekat empat anak manusia itu, sepasang suami istri menjadi penonton dan sepasangnya lagi sedang saling pandang tajam sambil memasang kuda-kuda, bersiap-siap saling memberi serangan.
"Mami," Veli mendekati Ratih berusaha mencari perlindungan.
"Mami denger tadi Anggi teriak, panggil Mami karena kalian pelukan, apa benar?" Tanya Ratih dengan serius.
"Mami apasih, najis tau Mi pelukan sama Asisten gila ini!" Seli menatap sinis Aran seolah ia merendahkan.
"Lu bilang gw najis?" Kesal Aran sambil melangkah malu perlahan sementara Veli melindungi diri di belakang Ratih.
"Iya, lu itu kan haram!" Teriak Veli dari samping tubuh Ratih.
__ADS_1
"Lu pikir gw hewan?" Aran semakin kesal dan menarik Veli hingga Veli tak lagi bersembunyi di belakang tubuh Aran.
"Cukup!" Ratih menutup telinga tidak tahan dengan kelakuan dua anak manusia yang selalu cekcok itu.
"Mi nikahin aja," Tutur Bilmar.
"Kompor!," Kesal Veli.
"Ya Mi Aran setuju," Aran melipat tangan di dada dengan santai berkata pada Ratih, Ratih tentu sangat suka sekali dengan usul Aran dan Bilmar. Hal yang di ucapkan Aran dan Bilmar membuat hati Ratih berbahagia dan menghilangkan kesalnya.
"Mami juga yes," Jawab Ratih sambil tertawa.
"Veli mau balik kerja!" Dengan cepat Veli berbalik dan berlari menuju mobil miliknya, tapi sebelum Veli masuk Aran dengan cepat merebut kunci mobil milik Veli dan memasukannya kedalam saku celana miliknya.
"Heh, balikin!" Teriak Veli meremas tangannya di depan wajah Aran seolah menggambarkan bertapa ia sangat kesal sekali pada manusia di hadapannya.
"Nih," Aran menunjuk kunci di dalam saku celananya, "Ambil sendiri," Kata Aran tersenyum penuh misteri.
"Dasar haram sialam," Teriak Veli.
"Aran, nama gw Aran," Tegas Aran dengan jelas, "Bukan haram," Aran masih kesal pada Veli.
"Masa bodo, bodo amat," Ketus Veli.
Ini cewek harus gw bikin pelajaran. Gw kasih perhatian dikit juga udah kelpek-kelpek, kalau udah kelpek-kelpek gw hempasih deh. Terhina gw cewek di luar sana sexy banget cantik pula dan tergila-gila semua ama gw nggak ada yang nolak Aran Rianda, ini cewek pecicilan malah jual mahal, menghina lagi.
"Sini aku aterin kamu," Dengan lembutnya Aran menarik tangan Veli untuk masuk ke mobilnya, bahkan tak ada nada kasar sedikit pun. Sepertinya misi untuk membuat Veli jatuh hati padanya segera di mulai.
Apakah Aran berhasil membuat Veli jatuh hati padanya lalu menghempaskan Veli? Atau Aran lah yang justru masuk ke dalam jebakan yang ia buat sendiri? Namun saat ini Aran tidak tertarik pada Veli sesuai misi, membuat Veli patah hati sudah sangat cukup membuatnya bahagia.
"Lu sok deket banget si sama gw," Veli kini yang sudah duduk di mobil Aran malah merasa kesal.
"Diem, duduk cantik," Aran mengacak rambut Veli dan tersenyum manis, namun hal itu bukannya membuat Veli takjub justru membuat Veli merinding.
"Ish, nggak usah sok dekat haram sialan!"
__ADS_1
"Yang sopan sama calon suami," Jawab Aran santai sambil mulai melajukan kendaraannya.
"Calon suami pala lu."