Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 96


__ADS_3

"Amit-amit ya, lagian lu paan sih. Ngaku-ngaku calon suami gw! Gila..." ketus Veli yang masih kesal pada Aran.


"Kamu......" Aran rasanya ingin mencengkram dagu Veli dengan kuat, entah mengapa Aran sangat tidak suka dengan Vel satu-satunya wanita yang sangat berani bersikap ketus dengannya.


"Apa?" teriak Veli, ya ampun....tak ada nada sopan yang Veli tunjukan pada Aran sedikit pun, bahkan saat Veli bersama Aran ia seperti wanita tak berpendidikan, "Gw harus ke rumah sakit, nggak ada waktu buat ladenin manusia gila kayak lo," Veli keluar dari ruangan Aran membawa rasa kesalnya.


"Sial....wanita itu benar-benar meremehkan aku, sejak kapan seorang Aran Rianda ada yang berani menolak," Aran memukul udara di hadapannya dengan penuh kebencian.


Sementara Veli kini menaiki taxy ia harus segera sampai di rumah sakit, karena ada pasien yang harus ia tangani. Dalam beberapa menit Veli sampai di rumah sakit dengan cepat ia masuk ke ruangannya, ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Masih ada waktu 15 menit lagi, ini semua karena Aran sialan itu. Aku ini dokter yang punya tanggung jawab atas pasiennya bukan seperti dia bisa bebas cancel aja, pekerjaan aku nyawa taruhannya apa dia nggak tau," gumam Veli sambil duduk di kursi kerjanya, sebab sebentar lagi ia ada jadwal oprasi dan hampir berantakan karena Aran si musuh bebuyutannya itu.


Setelah pekerjaan Veli selesai kini ia menuju ruangan Anggia, ini adalah jam makan siang dan ia harus menemui Anggia karena ia tau Anggia pasti banyak membawa bekal. Dan ia bisa membantu untuk menghabiskan bekal yang di siapkan oleh Anggia.


"Anggi," Veli masih saja sama, ia masuk tanpa permisi mau pun salam. Bahkan tanpa di persilahkan sekalipun kini ia duduk di sofa dan langsung memakan bekal Anggia.


"Minta dulu kek," kesal Anggia.


"Bagi ya," kata Veli yang sudah beberapa kali menyuapi makanan kemulutnya.


"Telat," jawab Anggia.


"Enak banget ini Ngi, gw laper banget tau nggak sih....tadi pagi gw lagi enak-enak sarapan harus rela ninggalin sarapan gw yang enak itu gara-gara liat wajah cecunguk itu," kesal Veli sambil terus mengisi mulutnya.

__ADS_1


"Cecunguk?" tanya Anggia bingung.


"Iya Aran gila itu..." jawab Veli dengan kesal.


Anggia hanya tersenyum serta geleng-geleng kepala bila mengingat Aran dan Veli yang tak pernah akur.


"Eeeeu," Veli bersendawa setelah kekenyangan.


"Jorok banget sih," kesal Anggia.


"Abisnya enak banget tau," jawab Veli sambil membersihkan mulutnya dengan tissu.


"Vel, beli eskrim yuk, aku dari tadi pengen banget gitu.....tapi aku nungguin kamu buat temanin aku ke mini market depan rumah sakit," kata Anggia yang memang sedari tadi menginginkan eskrim, hanya saja ia malas pergi sendiri. Sebenarnya Anggia bisa saja meminta bantuan pada perawat namun ibu hamil itu ingin membeli dan memilih sesuai keinginannya.


"Ya udah yuk, bayarin gw juga," kata Veli yang selalu ingin gratis.


"Kalau lu nggak mau, gw menolak keras buat temenin lu," ancaman yang ampuh kini di keluarkan Veli, hal seperti ini sudah biasa dalam persahabatan keduanya. Bahkan semasa kuliah dulu sering kali Veli lah yang selalu mentraktir Anggia, karena kadang Anggia tak memiliki uang saku.


"Ya udah yuk," kata Anggia menarik tangan Veli ikut bersamanya.


Keduanya berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit, bahkan jas putih kebanggaan itu masih terpasang di badan keduanya. Namun saat Anggia dan Veli berjalan tiba-tiba Sasa yang datang dari arah yang berlawanan malah menyenggol lengan bagian atas Anggia dengan sengaja.


BUUK.

__ADS_1


"Au," Anggia meringis dan mengelus lengan bagian atasnya.


"Heh, lu sengajakan!" Veli sangat kesal pada Sasa yang sangat suka sekali mencari masalah dengannya.


"Masalah buat lo," Sasa memberi senyum miring seolah ia tak perduli apa lagi merasa bersalah sedikit pun pada Veli.


"Lu bener-bener ya," Veli mendekati Sasa dan ingin menjambak rambut Sasa, tapi dengan cepat Anggia menahan Veli agar tak menjadi tontonan orang-orang di sana dan sebelum orang-orang juga menyadari dengan perselisihan mereka.


"Veli, kita lagi di rumah sakit. Kita di sini dokter jangan nodai jas putih kita hanya karena emosi sesaat, di sini banya orang, kita harus jaga sikap," bisik Anggia sambil matanya menatap banyak orang yang belum menyadari ketiganya, yang sedang bersi tegang itu.


"Awas lu ya berani cari masalah sama kita," kesal Veli menunjuk wajah Sasa rasanya Veli ingin meremas wajah Sasa saat ini juga.


"Serah lo," ketus Sasa, tak ada nada lembut atau pun wajah bersahabat yang di tunjukan Sasa, "Heh Anggia, lu kemaren boleh bangga ya karena tuan Bilmar bela lu, liat aja nanti pasti dia bakal tinggalin lu. Gw juga nggak yakin itu anak tuan Bilmar, dan setelah dia tau itu bukan anaknya.....lu siap-siap aja di tendang dari hidupnya," kata Sasa menatap intens Anggia.


"Sasa...mau ini anak tuan Bilmar atau bukan, yang jelas ini nggak ada hubungannya sama kamu. Jadi tolong nggak usah ikut campur urusan aku!" Anggia tak ingin terjadi sesuatu yang lebih parah dari ini, maka dari itu Anggia memberi peringatan pada Sasa agar tak mengganggunya lagi.


"Gw nggak ikut campur urusan lu, tapi lu udah bikin gw malu di hadapan tuan Bilmar kemarin. Wajah lu kalau ngomong sok polos kelakuan lo bejat banget," kata Sasa yang tampaknya sangat kesal pada Anggia.


Entah mengapa Sasa sangat benci pada Anggia, mungkin karena perasaan iri hati yang kini tengah menyelimutinya. Hingga Sasa tak mencerminkan sikap baik sedikit pun, padahal Anggia tak pernah bermasalah atau pun mencari masalah dengannya. Tapi tetap saja Sasa sangat benci pada Anggia.


"Sasa...tuan Bilmar itu suami saya. Dan saya tidak pernah mempermalukan kamu di hadapan dia, saya minta sama kamu berhenti untuk ikut campur urusan saya," jawab Anggia lagi sambil menarik Veli pergi dari hadapan Sasa.


"Kesel banget gw tau ngga Ngi, Sasa tu mulutnya pedes banget kayak cabe rawit tau nggak," Veli yang berjalan bersama Anggia keluar dari rumah sakit terus mengomel tidak jelas.

__ADS_1


"Udah ah nggak baik terus-terusan nyimpan amara gini, entar tekanan darah kamu naik loh, sama satu lagi, awet muda kamu hilang," seloroh Anggia.


"Apaan sih, jangan bawa-bawa masalah kecantikan dong, aku masih muda tau belum nikah juga ni," Veli sangat kesal bila Anggia bicara soal kecantikan, karena ia sangat tersinggung bila bicara soal kecantikan.


__ADS_2