
Saat ini Anggia dan Bilmar sampai di rumah, semenjak keluar dari cafe sampai di rumah ia lebih banyak diam, bahkan Anggia turun dari mobil langsung masuk ke rumah tanpa bicara sepatah kata pun pada Bilmar. Namun saat ia melewati ruang keluarga terdengar suara Ratih yang memanggilnya, tak lupa di sana juga ada Rianda, Hardy dan Sinta. Anggia yang tadinya tak menyadari merasa malu.
"Anggia!" tutur Ratih.
"Ya Mi," Anggia menatap ada Anggota keluarga yang lain juga di sana.
"Duduk dulu," kata Ratih lagi telunjuknya menunjuk sofa.
Anggia menggangguk dan ia mencium punggung tangan Sinta dan Hardy setelah itu ia ikut duduk di sofa, Anggia merasa tak enak bergabung bersama anggota keluarga Ratih. Bagaimana pun ia hanya orang asing yang menumpang tinggal di sana.
"Mama kapan datang," terdengar suara Bilmar yang baru masuk dan melihat Sinta juga ada di sana.
"Mama sudah dari tadi datang, kemari duduk Papa sama Papi mau bicara," Sinta menepuk sofa di sampingnya.
Bilmar mengangguk dan ikut saja duduk di samping Sinta.
"Anggia kamu sakit Nak?" tanya Ratih yang sedikit khawatir sebab wajah Anggia sedikit pucat.
"Anggi, masih sedikit demam Mi," jawab Anggia canggung.
"Em," Ratih mengangguk dan pindah duduk kesamping Anggia.
"Bilmar Papi mau bicara sama kamu dan Anggia," terdengar suara berat dan tertahan Rianda kini mulai membuka pembicaraan.
"Bicara apa Pi?" Bilmar bingung dan penasaran hal apa yang akan di bicarakan sang Papi padanya hingga harus mengumpulkan Sinta dan Hardy juga.
"Anggia!" kata Rianda lagi tanpa menjawab pertanyaan Bilmar.
"Ya tuan," jawab Anggia.
"Saya mau kamu dan Bilmar segera menikahkah!" tutur Rianda tanpa bisa di bantah.
__ADS_1
Anggia diam ia menatap Bilmar penuh tanya dan binggung.
"Kamu kenapa?" tanya Ratih pada Anggia.
Anggia tersenyum kecut menatap Ratih yang bertanya padanya, ia tak tau harus bicara apa. Sebab suara Rianda terdengar begitu mengerikan di telingga Anggia.
"Bilmar besok kamu harus menikahi Anggia!" Kata Rianda lagi.
"Bilmar terserah Anggia saja Pi, Bilmar ikut aja," Bilmar tak mungkin mengatakan iya bila Anggia tak mau, Bilmar memang sudah mengatakan pada Anggia kalau ia ingin mereka menikah. Tapi tetap saja Bilmar masih memikirkan semuanya, karna ia sangat takut Anggia merasa tertekan.
"Anggia kamu dengar yang saya katakan?" tanya Rianda.
"Iya tuan?" Anggia tak berani lagi berkata tidak, sebab Rianda menatapnya sangat tajam, tapi Rianda memang seperti itu. Ia tidak berniat menatap tajam lawan bicaranya tapi karena kebiasaannya berurusan dengan rekan bisnisnya di luar sana, dan itu seakan sudah melekat pada dirinya.
"Panggil saya Papi seperti Bilmar!" kata Rianda lagi.
"Iya Pi," Anggia meremas tangannya yang mengeluarkan keringat dingin.
"Anggia," Sinta juga pindah duduk di sofa yang di duduki Ratih dan Anggia, kini Anggia berada di tengah keduanya, "Kalian harus menikah Nak, kamu tengah hamil anak Bilmar dan kalian tinggal satu atap, kemana-mana berdua, status kamu sekarang janda. Tidak baik seorang wanita tinggal dengan pria tanpa ada ikatan pernikahan, tak perlu ada cinta semua biarkan saja mengalir jangan langsung memaksa untuk mencintai dan jangan samakan semua laki-laki itu jahat, kalau semua laki-laki itu jahat Mama dan Papa tidak mungkin bertahan di rumah tangga yang kami bangun, kamu harus bangkit tidak boleh selalu terpuruk," tutur Sinta meyakinkan Anggia.
"Iya Ma," Jawab Anggia dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca.
Sinta teraenyum dan mengangkat dagu Anggia, Sinta bisa melihat mata Anggia yang berkaca-kaca. Sinta tersenyum lembut dan memeluk Anggia ia juga sebagai seorang wanita bisa merasakan apa yang Anggia rasakan.
"Baiklah keputusan keluarga besok kalian akan menikah Papi tidak meminta pendapat dari kalian, Papi hanya memberitahu kali saja dan kalian harus terima!" Tutur Rianda lagi.
Rianda adalah pria yang kejam bahkan pada Bilmar sekali pun, dan Rianda ingin cucunya lahir dalam status jelas. Ia tidak mau keturunan Rianda kehilangan nama baik bila orang di luar sana tau Bilmar memiliki anak di luar nikah, Rianda juga ingin cucunya memiliki kedua orang tua yang lengkap.
"Iya Pi," jawab Bilmar.
"Anggia kamu dengar saya?"
__ADS_1
"Iya Pi," jawab Anggia.
"Mahar apa yang kamu inginkan?" tanya Rianda lagi.
"Surah Al-fatihah saja sudah cukup Pi," jawab Anggia.
Rianda terkekeh dan menatap Bilmar, "Apa kamu sanggup Bil, dia ingin dunia akhirat sepertinya bersama mu," tutur Rianda di selingi tawa.
"Ayo Bil, kalau kau lelaki!" Hardy menepuk pundak Bilmar yang memijat kepala merasa pusing dengan permintaan Anggia.
"Anggia apa kau tak ingin mahar yang lain saja?" Tanya Bilmar yang ingin bernegosiasi. Bukan Bilmar tidak bisa, tapi permintaan Anggia butuh pertanggungjawaban yang besat, bukan hanya di dunia namun di akhirat kelak juga, di tambah lagi ia sendiri adalah seorang pendosa yang menjadi pertanyaannya adalah apakah ia mampu menjadi suami yang bisa membawa istrinya sampai ke surga nanti.
"Kalau anda tidak mau atau tidak sanggup, saya menolak menikah dengan anda," jawab Anggia.
"Bilmar ayolah itu artinya Anggia ini ingin kau benar-benar mampu menjadi imamnya, bisa jadi si Anggia ini Hafidza Qur'an, waw kau bisa sangat beruntung sekali," Hardy juga salut pada Anggia, bila wanita lain lebih memilih berlian maka Anggia lah orang pertama dari keluarga mereka yang meminta mahar sederhana namun bermakna.
"Ya sudah saya setuju," jawab Bilmar.
"Alhamdulilah," kata Ratih, ia kini merasa lebih lega karena Bilmar dan Anggia kini akan memiliki status yang jelas.
"Anggia apa kau masih memiliki anggota keluarga?" Hardy kali ini mulai bertanya.
"Tidak Pa, Ayah saya sudah meninggal dan Ibu juga, saya tidak punya siapa-siapa lagi," jawab Anggia.
"Em ya," Hardy mengangguk mengerti, berarti Anggia yang sudah tidak memili wali bisa di wakilahkan nanti
"Ya sudah kamu ke kamar istirahat ya," kata Ratih ia tau Anggia sedang tidak nyaman.
"Iya Mi," Anggia bangun dari duduknya, menuju kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Perasaan ragu lagi-lagi menghampirinya padahal Anggia sudah berusaha meyakinkan diri.
Ratih dan Sinta kini sibuk berbincang tentang pernikahan Anggia dan Bilmar yang hanya akan ada akad saja tanpa resepsi. Sebab perut Anggia yang sedang mengandung harus di tutupi dari media dan orang banyak. Nanti setelah Anggia melahirkan baru mereka mengumumkan pada media bahwa Bilmar sudah lama menikah namun belum ada resepsi dan juga akan memperkenalkan anak Bilmar setelah lahir.
__ADS_1