Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 41


__ADS_3

Mulai hari ini Anggia sudah di rawat di rumah, Bilmar membelikan sebuah rumah sesuai dengan permitaan Ratih, Bilmar membeli rumah yang hanya berselang beberapa rumah saja dari rumah orang tuanya. Sesuai permitaan Ratih rumah itu sangat di jaga ketat dan banyak cctv agar tidak ada yang berani menjadi penghianat, ataupun ada orang lain yang berani diam-diam masuk, yang pasti keamaan untuk Anggia sangat besar.


Tidak bisa di pungkiri, lagi-lagi Ratih hanya bisa meremas baju bagian dadanya. Saat ini Anggia sedang duduk termenung di kamarnya bersama Ratih, Anggia bagai jasat mati yang tak perduli dengan keadaannya. Kadang juga Anggia berteriak histeris, dan tiba-tiba tertawa, hati Ratih benar-benar terluka mengingat anaknya yang menjadi penyebab dua nyawa terluka.


"Anggia, kamu makan ya, saya suapin."


Jam sudah menunjukan pukul empat dini hari namun Anggia belum makan satu butir nasi pun, Ratih merasa kasihan dengan janin yang di kandung Anggia, sedari pagi tidak makan. Anggia hanya makan dua hari sekali, dan itupun hanya beberapa sendok saja.


"Anggia," Ratih mengangkat sendok dan mencoba menyuapi Anggia, tapi sayang tidak ada respon sedikit pun.


"Mi coba Bilmar yang suapin, mungkin Anggia mau makan," pinta Bilmar, dengan tatapan yang tajam Ratih memberikan piring berisi nasi di tangannya pada Bilmar. Semenjak ia tau keadaan Anggia, Ratih kini berubah cuek pada Bilmar, tidak ada lagi keceriaan Ratih yang suka mengoda atau pun memarahi Bilmar.


"Anggi, saya suapin ya," kata Bilmar sambil mendekatkan sendok berisi nasi di dekat mulut Anggia.


Tidak ada respon apa-apa dari Anggia, membuat Ratih kesal dan menarik piring juga sendok dari tangan Bilmar.


"Kamu memang nggak pernah berguna!" ketus Ratih.


Ratih tidak pernah menyalahkan siapa-siapa ia hanya menyalahkan Bilmar saja, padahal Bilmar juga tidak sepenuhnya salah dengan keadaan Anggia. Akan tetapi Ratih hanya merasa kecewa pada Bilmar salah satu orang yang membuat hati orang lain terluka.


Mungkin jika Anggia tidak sedang mengandung Ratih tidak akan sekecewa ini. Tapi kini keadaanya Anggia tengah mengandung cucunya dan Bilmar lah menjadi salah satu penyebab Anggia seperti ini, Ratih terlalu menutup mata untuk menyalahkan orang lain tanpa ia tahu seperti apa kesedihan Anggia yang selama ini.


"Anggia ayo makan nak, kasihan anak kamu," Ratih menangis mengingat janin Anggia yang lemah dan sangat memprihatinkan, semakin keadaan Anggia yang seperti ini semakin memperlemah kandungannya.


KRANG.


Anggia melempar piring yang di pegang Ratih, dan ia berlari sekencangnya seolah ada yang tengah mengejarnya.


"Bilmar kejar Anggia cepat!" teriak Ratih yang takut Anggia terjatuh, dan Bilmar juga dengan cepat mengejar Anggia.


"Anggia jangan terus berlari!" seru Veli.


Anggia berhenti bila mendengar suara Veli, entah mengapa Anggia dan Veli bagai memiliki magnet tersendiri. Veli kadang dengan susah payah berusaha menenangkan sang sahabat, kadang juga hanya dengan mendengar suara Veli ia langsung diam seperti saat ini.

__ADS_1


"Veli," kata Anggia sambil berjongkok di lantai.


"Anggia, kamu tadi sebut nama aku!" Veli terharu dan tersenyum, saat Anggia menyebut namanya. Dengan begitu artinya Anggia mulai menunjukan perkembangannya.


"Tolong aku Vel, aku nggak sanggup lagi," Anggia menarik-narik kuat kerah baju Veli, dengan rasa ketakutan. Sepertinya ia mengingat saat Brian mengejar dan ketika ia melarikandiri dari klinik aborsi.


"Iya kamu tenang ya, di sini aman." Veli memeluk Anggia dan memberikan ketenangan pada Anggia.



Satu minggu sudah Anggia di rawat di rumah, selama satu minggu itu pula Veli ada untuk Anggia mengontrol perkembangan Anggia, dengan seorang psikiater juga ada di sana. Bilmar dan Ratih juga selalu ada merawat Anggia hanya saja Bilmar tidak bisa merawat Anggia selama 24jam karena ia di sibukan dengan pekerjaan.


"Veli aku takut," Anggia hanya memeluk Veli, tidak ada yang Anggia percayai selain Veli. Mungkin karena sejak lama keduanya bersahabat hanya Veli yang ada untuk Anggia.


Veli di gaji dengan bayaran yang tinggi, namun ia menolak untuk menerima nominal yang di berikan Bilmar padanya. Persahabatannya dengan Anggia bagi Veli adalah hal tidak bisa di bayar dengan nominal uang.


"Veli kamu ambil gaji kamu," Bilmar memberikan sebuah amplop berisi cek, dengan nominal yang cukup besar.


"Bayaran saya adalah kesembuah sahabat saya tuan, itu sudah cukup." Veli mendorong amplop yang ada di atas meja pada Bilmar.


"Anggia tenang ya, kamu harus kuat demi anak kamu. Anggia lawan rasa takut itu kamu bukan wanita lemah, Anggia ayolah jangan terus hanyut dalam dunia ketakutan mu itu," kata Veli sambil mengguncang-guncangkan tubuh Anggia yang sedang menaangis dan gemetar.


"Dokter Veli jangan berkata kasar pada pasien," kata Dokter Sasa.


"Anggia!" lagi-lagi Veli berteriak di muka Anggia, karena sudah dua hari Anggia tidak makan, tidak minum susu kehamilan dan Veli tahu seperti apa lemahnya kandungan Anggia.


"Dokter Veli," kata dokter Sasa lagi.


"Gue nggak sanggup lagi ya Ngi ngurus lu, lu tu berubah cengeng dan gue benci sama lu, gue pergi," Veli melepaskan tangannya yang memegang pundak Anggia.


"Dokter Veli anda tidak bokeh kasar pada pasien," kata dokter Sasa lagi.


"Bukan urusan lu," ketus Veli.

__ADS_1


"Dokter Veli!" bentak Bilmar.


"Ini semua karena anda tuan, tidak udah menggertak saya!" teriak Veli.


"Sudah-sudah, kasian Anggia kalau kalian terus begini," Ratih hanya bisa menangis dan nenangis saja selain menyalahka Bilmar.


"Ssst," Anggia meremas perutnya, wajahnya berubah pucat, tampaknya ia perutnya sakit.


"Anggia," Veli mulai memeriksa Anggia.


"Tuan bawa Anggia kekamar," teriak Veli panik.


"Ssst, Veli sakit," teriak Anggia, saat tubuhnya di angkat Bilmar.


"Kamu sabar," Veli mulai memerisa Anggia, dan memasang selang infus, setelah Anggia sampai di kamar. Sesaat ia kembali terlelap dalam tidurnya karena Veli membiusnya agar Anggia tidak menjerit juga mencoba melepas selang infus yang tertancap di tangannya.


"Ini salah anda dokter Veli," dokter Sasa tampaknya kesal pada Veli yang tadinya membentak Anggia.


"Diem lu, gua tonjok tar muka lu, bacot." Ketus Veli sambil keluar dari kamar itu.


"Bilmar sudah satu minggu Anggia di rawat kapan dia sembuh, Mami udah nggak kuat Bil. Kasihan anak kamu Bil," Ratih mengusap kasar air matanya, entah sudah berapa banyak air mata yang di keluarkan Ratih untuk Anggia, yang pasti Ratih hanya bisa menangis dan nenangis.


"Mi, maaf pin Bilmar ya," tampaknya hanya ada rasa penyesalan yang kini Bilmar rasakan, atas keadaan Anggia yang sangat memprihatinkan.


Tubuh wanita itu sangat kurus, tidak ada lagi tubuh indah dan menawannya yang biasa membuat para kelaki selalu meliriknya. Kini hanya ada tubuh yang sangat meprihatinkan dengan mata berkantung seperti panda dan terlihat tidak terawat dengan wajah pucat dan tidak bergairah hidup.


"Bil, Anggia pendarahan lagi," teriak Ratih saat melihat ada darah yang lagi-lagi keluar dari tubuh Anggia.


****


Saya Up dua Episodekan, apakah Anggia akan tetap hidup atau inilah akhir kisah hidup seorang Dr. Anggia Tiffani, Spog. Akankah hidupnya hanya sampai di sini saja, dan gelar itu hanya tinggal kenangan?


****

__ADS_1


Jangan lupa VOTE kalau mau GRAZI UP.😍


__ADS_2