
Hai Kakak-kakak semua, saya doakan semua sehat selalu dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Pertama saya mau minta maaf karena akhir-akhir ini cuman update satu episode aja, itu karena ada kesibukan Author dan dengan berat hati Author harus begini, tapi kalau Author bisa update lebih dari satu episode Author bakalan Update. Dan Author juga menjalankan ibadah puasa jadi semua episode yang terprogram harus di tunda karena bulan puasa ini kan, hehehee. Oh ya semua readers setia Author mau bilang kalau novel Aran dan Veli akan di lanjut di sini, saya mohon kalian memahami ya......karena Author nanti mau lanjut novel dokter Sasa dan Brian yang masih dengan menguras air mata, emosi dan komedi.
Author cinta kalian, terima kasih buat yang udah Vote, kasih hadiah, terus apa lagi Author bingung, buat yang kasih tips juga makasih ya, jangan lupa bintang limanya. Salam cinta dari saya. seeeyouuuu:).
***
"Mas, aku sama Aran nggak ada papa, dia bohong," kata Veli yang kini berada di ruangan Farhan, untuk menjelaskan yang sebenarnya tapi Farhan tak percaya sedikit pun.
"Keluarga Rianda itu bukan keluarga sembarangang Veli, jadi aku nggak yakin kalau Aran itu mengarang cerita," jawab Farhan sambil menatap Veli yang berdiri di sampingnya.
"Terus aku harus apa biar kamu percaya?" Veli masih berusaha meyakinkan Farhan jika memang ia dan Aran tak ada hubungan sedikit pun, dan semua yang di katakan Aran itu semua tidak benar.
"Udah lah Vel, kita putus aja, kamu juga udah mau nikah sama Aran. Aku nggak mau terlalu jauh mencintai sama kamu, aku takut sakit hati," kata Farhan yang kini tak mau menatap Veli.
"Mas, aku sama Aran nggak ada apa-apa, gimana mau ada papa coba, tiap jumpa aja kami selalu ribut," kata Veli mengingat wajah Aran yang sangat menyebalkan itu, keduanya tak pernah akur lalu bagaimana bisa mereka memiliki hubungan khusus, dan apa tadi menikah? Oh rasanya itu sangat mustahil bila melihat bagaimana keadaan keduanya.
"Terus kenapa dia bilang begitu?" tanya Farhan yang benar-benar butuh penjelasan, berhadapan dengan Aran bukan main-main bisa saja ia di tendang dengan mudah dari rumah sakit itu? Dan bisa juga ia tidak akan di terima bekerja di rumah sakit mana pun, hancur sudah karir nya kalau memang itu terjadi.
"Dia memang suka banget ngerjain aku, bahkan di rumah dia juga sering jailin aku," jawab Veli yang memang benar adanya.
"Apa? Kamu bilang di rumah? Kalian tinggal satu atap?" Farhan rasanya semakin sakit hati mengetahui Aran dan Veli tinggal serumah dan bisa saja apa yang di katakan Aran memang benar adanya, atau mungkin Aran dan Veli sudah lebih dari itu.
"Iya, kan kami memang tinggal bareng, Anggia," jawab Veli dengan jujur.
"Kamu yakin nggak ngapa-ngapain selama tinggal bareng Aran?" tanya Farhan menatap curiga.
"Mas, kamu terang-terangan nanya begini aku sakit hati loh," ketus Veli.
__ADS_1
"Yakin?" tanya Farhan kini menatap Veki dengan tak percaya.
"Maksut kamu aku bohong Mas?" Veli malah kesal pada Farhan yang tak percaya padanya, "Iya Mas? Kamu nuduh aku yang bohong?" tanya Veli lagi dengan jelas, tapi Farhan hanya mengangkat bahunya dengan santai, "Ternyata cinta yang selama ini kamu bilang sama aku cuman setipis kulit bawang ya Mas? Baru segini aja kamu udah ragu sama aku," kesal Veli padahal ia sudah sangat jatuh hati pada Farhan sejak dulu tapi baru begitu saja Farhan sudah meragukannya, Veli lebih memilih pergi dari pada harus berurusan dengan Farhan yang tak percaya sedikit pun padanya.
"Veli tunggu Mas," Farhan mencoba memanggil Veli, tapi Veli terlanjur kecewa hingga ia pun tak perduli.
Veli terus berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit, ia melihat Aran masih berada di luar rumah sakit yang hampir masuk ke mobil tapi urung karena Veli malah menariknya.
"Eh, apa sih," kesal Aran.
"Heh, gara-gara lo gw di putusin sana Mas Farhan," ketus Veli yang ingin meremas wajah Aran.
"Bil, lu yang anter Mami sama bini lu pulang ya, gw bareng calon bini gw aja," kata Aran pada Bilmar.
"Bulan puasa woy, jangan macam-macam itu anak orang jangan di rujak," kata Bilmar sambil berpindah ke kursi kemudi.
"Sayang aku....pindah ke depan dong," kata Bilmar yang justru menggoda Anggia.
"Abang apa sih...." Anggia malah malu dan melihat Ratih yang tersenyum padanya.
"Sayang aku, Abang bukan supir tapi suami kamu, pindah ke depan dong," kata Bilmar lagi menatap Anggia dari kaca spion.
"Udah sana pindah ke depan, kasihan suami kamu," kata Ratih.
"Ya udah Anggia ke depan ya Mi," Anggia turun dengan memeluk Alma dan pindah ke depan bersebelahan dengan sang suami.
"Caelah bini gw cantih banget," Bilmar mencolek dagu Anggia dan tersenyum.
__ADS_1
"Abang, ada Mami tau," Anggia tak tau lagi harus apa, hatinya terus saja berbunga-bunga bila berhadapan dengan Bilmar.
"Enak ya Bil pacaran abis menikah?" seloroh Ratih.
"Bisa dapat plus-plus juga Mi," jawab Bilmar sambil mulai mengemudi.
"Bilmar, puasa. Dasar anak kurang ajar, nggak ada sopan-sopannya ngomong sama orang tua," kesal Ratih.
"Kan apa yang Bilmar bilang memang benar Mi," Bilmar menatap wajah Ratih yang kesal dari spion, lalu beralih menatap Anggia, "Yang masih lama nggak ni Abang puasa?" tanya Bilmar.
"Mami....hiks....hiks...." Anggia menangis karena tak kuat mendengar gosaan Bilmar.
"Diem, belum di apa-apa in juga," Bilmar terkekeh melihat wajah istri manjanya yang bersemu merah, hal yang di sukai Bilmar adalah menggoda sang istri.
"Abang!" Anggia mencubil lengan Bilmar dengan kesal.
"Batal puasa yang, jangan marah-marah," kata Bilmar mengelus lengannya.
"Anggi nggak puasa," kata Anggia sebab masa nifasnya memang belum selesai.
"Pantesan ngajak perang ternyata Abang berhadapan dengan jin," seloroh Bilmar yang masih menatap jalanan.
"Mami waktu hamil buat Abang, ngidamnya apa sih? Kenapa bisa jadinya begini?" kesal Anggia.
"Mami dulu ngidang nyolokin pantan orang lagi taraweh, tapi nggak kesampean, ia lah karena Mami malu. Terus kamu tau Ngi, pas Bilmar udah besar kira-kira usianya 5 tahun Mami ajak buat taraweh, eh dia malah colikin ****** nenek yang lagi sujut, bejat banget Ngi anak ini," kata Ratih mengungat bertapa konyolnya Bilmar saat kecil.
"Pantesan jadinya begini ya Mi," Anggia terkekeh menatap wajah kesal Bilmar.
__ADS_1
"Mami apa sih, buka kartu!"