Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 166


__ADS_3

Anggia masih berusaha melakukan pertolongan bagi Veli, sebisa dan semampu dirinya. Jika dulu Veli yang berjuang demi dirinya, maka kini semua berubah menjadi Anggia yang berjuang untuk Veli. Tak ada yang bisa Anggia lakukan selain berusaha untuk menolong sang sahabat setianya itu, sebab jika Veli bersedih maka ia pun akan ikut merasakan kesedihan yang Veli rasakan.


"Dokter Dandi ikut ke ruangan saya!" kata Anggia, setelah ia selesai memeriksa keadaan Veli.


"Untuk apa dok?" tanya dokter yang sebelumnya menangani Veli.


"Ikut saya," Anggia mengulangi kalimatnya, ia keluar dari ruangan Veli dan berjalan menuju ruangannya di ikuti dokter Dandi juga, dan Anggia bisa melihat kesedihan di mata keluargannya yang sedang menunggu di luar, "Mi, Anggi keruangan bentar ya," pamit Anggia.


"Iya Nak," jawab Ratih.


"Aran tidak usah takut, Veli baik-baik saja. Semua bisa kita atasi. Janin itu pun baik-baik saja," terang Anggia, agar Aran tak lagi larut dalam kesedihan.


"Benarkah?" tanya Aran dengan senyuman, padahal ia sudah sangat takit terjadi hal yang buruk pada Veli. Tapi apa yang Anggia katakan seakan mengembalikan dunianya yang hampir saja hilang.


"Iya, tapi keadaan Veli masih butuh penangan khusus. Jadi kita harus berdoa semoga semua baik-baik saja," kata Anggia lagi, ia ingin berbicara panjang lebar pada Aran. Mengenai banyak kejanggalan tapi Anggia sedang menunggu waktu yang tepat.


"Terima kasih," jawab Aran.


Anggia menarik lengan Bilmar untuk ikut bersamanya, keduanya kini seperti baju dan badan yang tak bisa terpisahkan. Di mana ada Anggia di situ ada Bilmar dan di mana ada Bilmar pasti ada Anggia juga, hingga kini mereka sampai di ruangan Anggia. Bilmar langsung duduk di sofa, sementara Anggia duduk di kursi kerjanya dan dokter Dandi duduk berhadapan dengan Anggia, keduanya duduk dengan meja sebagai pemisah.


"Kenapa anda meminta saya kemari dokter Anggia?" tanya dokter Dandi pensaran.


"Kenapa anda mengatakan kalau dokter Veli harus segera melakukan tindakan operasi?" tanya Anggia.

__ADS_1


"Karena dokter Veli mengalami kehamilan ektopik," jelas dokter tersebut.


Anggia diam dan menatap dokter Dandi dengan intens, "Rasanya saya sudah sekian tahun menjadi dokter ahli kandungan, dan baru kali ini saya tidak mengerti dengan penjelasan anda. Anda mengatakan dokter Veli mengalami ke hamilan ektopik, sementara dia hanya keracunan makanan. Jelaskan dengan benar," tegas Anggia.


DEEG!.


Dokter Dandi diam tanpa bisa bicara lagi, ia hanya menunduk dan tak tau harus mengatakan apa setelah ini.


"Cepat berikan saya penjelasan, kenapa? Kenapa anda cepat sekali mengatakan jika janin dokter Veli harus di angkat. Padahal dia hanya mengalami keracunan makanan saja, apakah ada masih mengatakan ini demi keselamatan dokter Veli? Bukankah ini malah bisa mengancam keselamatan nyawa dokter Veli. Apakah anda bisa bertanggungjawab jika setelah operasi dokter Veli masih tetap baik-baik saja?" tanya Anggia lagi.


"Tapi ini demi keselamatan dokter Veli, saat ini dokter Veli sebagai pasien. Bukan sebagai dokter, jadi kita sebagai dokter yang menangani pasiennya harus mengambil keputusan yang terbaik. Yaitu menyelamatkan nyawa pasien," jelas dokter Dandi lagi.


"Iya," Anggia mengangguk, "Saya mungkin masih terlalu awam, bisakah anda jelaskan sedetil mungkin kondisi dokter Veli?" ucap Anggia yang terus di landa penasaran.


"Saya butuh penjelasan yang seakurat mungkin, baru saya mengijinkan anda melakukan tindakan operasi. Atau kita periksa ulang tentang keadaan janin dokter Veli, anda yang melakukan pemeriksaan sambil menjelaskan pada saya," kata Anggia memberikan penawaran.


Dokter Dandi terdiam mendengar perkataan Anggia, "Jangan cepat mengambil keputusan dokter, ini menyangkut dua nyawa," tambah Anggia lagi.


"Benar dokter Anggia, dan saya ingin menyelamatkan nyawa ibunya," jawab dokter Dandi.


"Tapi kenyataannya kedua nyawa itu bisa di selamatkan!" tegas Anggia.


"Baiklah dokter Anggia, saya serahkan dokter Veli pada anda. Saya angkat tangan, bila terjadi hal buruk atas keputusan anda Saya tidak bertanggungjawab," dokter Dandi tak mau terlalu di sudutkan dalam hal ini, hingga ia tetap mencari pembenaran di atas semuanya.

__ADS_1


"Terserah kepada anda, jangankan angkat tangan untuk satu pasien di sini. Anda juga bisa angkat kaki dari sini, keputusan yang anda ambil hanya merugikan kami sebagai keluarga. Itu berarti kalau saya terlambat datang sedikit saja, bisa saja anda sudah melakukan operasi itu bukan?"


"Dokter Anggia, anda mungkin bisa membuat saya untuk angkat tangan dengan satu pasien. Tapi anda tidak berhak meminta saya untuk angkat kaki dari sini!" jawab dokter Dandi dengan tegas.


"Kenapa tidak?" tanya Bilmar yang ikut menimpali pembicaraan antara kedua dokter itu, rasanya sedari tadi Bilmar menangkap banyak keanehan yang terjadi, "Kenapa istri saya tidak bisa membuat anda angkat kaki dari sini?" Bilmar kembali mengulangi pertanyaannya.


"Karena dokter Anggia tidak memiliki wewenang dalam mengeluarkan saya dari sini," jawab dokter Dandi, "Di sini hanya pemilik rumah sakit dan Dokter Darmawan yang berhak mengatakan itu," jelas dokter Dandi lagi, "Ini namanya hinaan?" tambahnya lagi.


"Ini bukan hinaan dokter Dandi, tapi anda terlalu memaksakan untuk mengangkat janin dokter Veli. Apa motif anda melakukan itu!" tanya Anggia dengan jelas, jika tadi ia mengungkapkan rasa penasarannya menggunakan cara halus. Untuk menjaga perasaan dokter Dandi atau takut ia malah menebar fitnah, mungkin dokter Dandi khilaf dan segera meminta maaf. Tapi ternyata tidak justru ia semakin menjadi-jadi, hingga Anggia mengatakannya dengan jelas.


"Sekarang anda menuduh saya ini melakukan tindakan di luar batas? Atau menyebut saya melakukan tindakan kriminal?" tanya Dokter Dandi.


"Tidak, saya hanya bertanya mengapa anda begitu keukeuh ingin melakukan tindakan operasi, sementara janinnya baik-baik saja dan hanya kondisi ibunya yang lemah butuh penanganan khusus. Pertanyaannya saya ulangi dokter Dandi, mengapa anda ingin mengangkat janin itu. Kenapa?" tambah Anggia lagi dengan memperjelas setiap pertanyaannya.


"Karena saya ingin menyelamatkan pasien saya, dan menurut saya itu jalan yang benar," jawab dokter Dandi.


"Kalau begitu, pasien tak perlu tindakan operasi. Sebab janinnya baik-baik saja, hanya ibunya saja yang butuh penanganan, sebab semua zat kimia itu masih bisa di tangani," kata Anggia.


"Baiklah dokter Anggia, saya serahkan pasien kepada Anda. Saya sudah tidak bertanggungjawab, selanjutnya anda yang bertanggungjawab atas pasien kita dokter Veli," ucap Dokter Dandi sebelum ia meninggalkan ruangan Anggia.


"Iya tentu saja, jangan sampai karena satu dokter seperti anda. Kami dokter yang masih banyak memiliki hati nurani dan kebaikan pada pasiennya jadi ikut tercemar,"


***

__ADS_1


Jangan lupa LIKE dan VOTE.


__ADS_2