Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 55


__ADS_3

"Kita makan apa?" tanya Bilmar.


"Makan apa aja asal jangan makan hati," jawab Anggia yang menarik kursi dan duduk.


Bilmar terkekeh mendengar jawaban Anggia, ia langsung memesan makanan pada pramusaji dengan jumlah porsi yang sangat banyak. Sebab ia tidak mau karena makanannya sedikit Anggia malah mengajaknya ribut, apa lagi di dapan banyak orang itu akan terasa sangat memalukan sekali.


"Saya nggak suka ngajak orang makan hati," jawab Bilmar melanjutkan kata-kata Anggia sebelum nya sepertinya Bilmar cukup tertarik.


"Sukanya apa dong," kata Anggia dengan tangan mulai mengambil pizza dan mengunyah nya.


"Saya suka nya makan kamu!" tutur Bilmar sambil makan juga dengan lahap seperti ibu hamil di hadapannya.


"Itu lebih baik dari pada ngajakin saya makan hati, terus-terusan," jawab Anggia asal.


"Curhat nie," tutur Bilmar terkekeh.


"Biasa ajah," ketus Anggia.


Bilmar ingat tadi Anggia minta di suapi, tapi sepertinya wanita itu lupa.


"Tadi minta di suapin, jadi nggak?" tanya Bilmar.


"Jadi dong, kalau di paksa."


"Ahahahahaa, iya deh Anggia sini saya suapi," kata Bilmar sambil tertawa lucu.


"Nggak ah," kata Anggia buang muka.


"Saya paksa, demi saya," tutur Bilmar sambil memegang pizza di tangannya.


"Beneran di paksa ya?" jari telunjuk Anggia menunjuk wajah Bilmar yang duduk di sampingnya.


"Iya saya paksa ini."


"Aaaaa," Anggia membuka mulut dan mengunyah makanannya dengan lahap.


"Enak?" kata Bilmar.


"Enak!" Anggia menggangguk-angguk.


"Padahal saya baru garuk pantat," kata Bilmar sambil tertawa.


"Ish, kurang ajar tuan Bilmar durhaka sama anak sendiri," gerutu Anggia.


"Ahahahahaa," entah sudah berapa kali Bilmar tertawa untuk hari ini saja, karena hoby barunya menjaili Anggia mampu menjadi hiburan tersendiri untuknya.


"Nggak apa lah tambah lemak rasa nya."


"Jorok!" ketus Anggia.


"Mau lagi," Bilmar memberikan pizza lagi.


Anggia menggeleng, "Nggak jorok," Anggia mendorong tangan Bilmar, tapi Bilmar terus memberikannya pada mulut Anggia.

__ADS_1


"Saya paksa," tutur Bilmar di iringi tawa.


"Nggak minat," Anggia mencubit tangan Bilmar hingga akhirnya ia berhenti menjaili Anggia.


"Kicot sakit banget," Bilmar mengosok-gosok tangannya berpura-pura kesakitan.


"Mau lagi?" Anggia bangga karena Bilmar merasa kesakitan.


"Nggak," kata Bilmar menadahkan kedua tangan.


Setelah selesai makan keduanya mulai berkeliling, keluar masuk toko, dari satu toko ke toko yang lain.


"Anggia kamu cari apa sih?" Bilmar yang tidak pernah menemani seorang wanita berbelanja merasa jenuh saat tau ternyata wanita sangat lama sekali bila berbelanja.


"Cari jodoh," kata Anggia asal.


"Jadoh ngapain di cari, di sini ada," seloroh Bilmar.


"Ogah," ketus Anggia dengan tangannya yang masih memeluk lengan Bilmar.


"Ngi kesana yuk," Bilmar menunjuk sebuah toko ponsel.


"Yuk," Ke duanya berjalan dan langsung di sambut dengan senyum ramah oleh para karyawan toko.


"Ada yang bisa kami bantu tuan?"


"Ya ambilkan ponsel yang keluaran terbaru dan paling mahal," kata Bilmar.


Tidak lama kemudian dua orang karyawan langsung membawakan apa yang di minta Bilmar.


"Buat saya tuan," tanya Anggia.


"Iya mau nggak?" tanya Bilmar.


"Hehehe, enggak," jawab Anggia cengengesan.


"Nggak nolak?" lanjut Bilmar lagi.


"Kalau di paksa mau tapi yang warna pink," kata Anggia tersenyum bahagia.


"Iya saya paksa, warna pink ya?" kata Bilmar.


"Iya dong kalau di paksa."


Bilmar mendekati Anggia dan menarik hidung mancung Anggia, "Iya di paksa, kalau kamu nggak terima saya bunuh diri," tutur Bilmar.


"Au," Anggia mengelus hidung, "Nah itu saya mau, saya terima demi tuan," kata Anggia.


Bilmar tersenyum ia sangat suka dengan tingkah Anggia, sedari dulu ia memang suka wanita manja. Sebab ia yang biasa di sibukan dengan pekerjaan yang padat menginginkan seseorang yang memeluknya, merindukannya, juga seseorang yang selalu bertingkah manja padanya.


"Yuk," Bilmar merangkul leher Anggia saat selesai membayar barang yang ia beli, dengan tangan Bilmar yang menenteng paperback milik Anggia.


"Yuk," entah sadar atau tidak Anggia melingkarkan tangan kanannya pada pinggang Bilmar dan tangan kirinya memegang tangan Bilmar yang ada di bahunya.

__ADS_1


"Kita kemana lagi?" Bilmar menghentikan langkahnya begitupun Anggia yang juga ikut berhenti melangkah.


"Tuan kita cari barang kusus wanita yuk," Anggia menatap wajah Bilmar yang juga menatapnya.


"Yuk," Bilmar ikut saja kemana Anggia membawanya, hingga akhirnya Bilmar melotot saat ternyata Anggia membawanya ke toko bagian dalaman wanita, "Anggia kita serius kesini?" tanya Bilmar masih bingung.


Anggia tersenyum dan membawa Bilmar masuk, "Tuan bra saya semua pada sempit, jadi nggak nyaman. Saya pilih dulu atau tuan mau pilihin," tanpaknya kali ini Anggia yang menggoda Bilmar.


"Enggak," dengan cepat Bilmar menggeleng, wajahnya saja memucat saat memasuki toko itu apa lagi harus memilih.


"Ya udah, saya pilihin buat tuan juga nanti, warna pink yang ada rendanya," setelah mengatakan itu Anggia pergi memilih pakaian dalam meninggalkan Bilmar duduk di sofa sambil menunggunya.


Setelah Anggia pergi Bilmar malah merinding melihat ****** ***** yang tergantung di depannya, pikirannya justru memikirkan ucapan Anggia yang akan memilihkannya warna pink pakai renda.


"Ish," Bilmar malah takut pikirannya tiba-tiba ia sudah memakai dalaman warna pink berenda.


"Tuan," Anggia datang dan mengejutkan Anggia.


"Anggia, saya nggak mau pakai wana pink dan berenda," kata Bilmar dengan reflek.


Anggia melongo tidak mengerti, sontak saja ingatannya kembali saat beberapa saat lalu ia menggoda Bilmar, "Ahahahaha," Anggia malah tertawa.


"Kamu kenapa," Bilmar malah bingung.


"Tapi keren loh tuan kalau pakai warna pink, yang ada rendanya. Jadi manis-manis manja gitu kalau tuan yang pakai.


"Sudah kalau kamu mengganggu saya, bayar sendiri," ancaman yang selalu mujarap kini kembali di keluarkan Bilmar.


"Maaf, bayarin yah," Anggia tersenyum dan menaik turunkan dua alis matanya.


"Iya yuk," Bilmar mengikuti Anggia dengan berjalan di depannya.


"Sekarang kemana lagi?" kata Bilmar setelah ia selesai membayar barang belanjaan Anggia.


"Kemana aja terserah anda tuan," Anggia merasa sudah tidak ada lagi yang harus ia beli jadi sudah selesai pikir Anggia.


"Ya udah, pulang mau?" tanya Bilmar.


"Mau tuan kaki saya juga udah pegel," Anggia menuduk dan memijat kakinya.


"Saya pikir mulut kamu yang pegel, dari tadi nyerocos terus," tutur Bilmar.


"Ish," gerutu Anggia sepertinya keduanya kembali lagi kepertengkaran yang tidak jelas.


"Mau gendong?" tanya Bilmar.


"Nggak usah, alergi saya dekat-dekat anda," Anggia mulai berjalan mendahului Bilmar.


Sekarang alergi, kemarin mendesah.


Bilmar juga berjalan mensejajarkan langkahnya dengan Anggia dan kembali melingkarkan tangannya di leher Anggia. Anggia tidak menolak ia hanya diam saja dan berjalan beriringan dengan Bilmar.


***

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE KAWAN.


__ADS_2