Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 78


__ADS_3

Pagi ini terasa berbeda dari pagi sebelumnya, sebab Anggia dan Bilmar tidur satu ranjang yang sama, bukan hanya ranjang saja tapi selimut juga. Anggia yang merasa sesak dan sempit saat Bilmar memeluknya ia memilih agak jauh dari Bilmar. Bukan karena Anggia tak mau di peluk Bilmar, tapi Anggia memang kadang merasa sesak, apa lagi bila ia sedang tidur lelap lalu tiba-tiba bayi-bayi nya menendang, Anggia langsung terbangun dan sulit tidur lagi. Jadi saat Anggia punya waktu tidur ia lebih memilih tidur untuk istirahat demi kesehatan bayinya juga, Tapi anehnya tetap saja setelah Anggia terlelap Bilmar mendekati Anggia dan memeluknya.


"Huuaam," Anggia merenggangkan otot-ototnya setelah tidur nyenyak semalaman kini terasa lebih baik.


Bilmar masih tidur dengan nyenyak bahkan ia tak mengingat Anggia yang sudah bangun, Bilmar semalaman tidak bisa tidur karena merasa tersiksa oleh Anggia yang terlihat menggoda, tubuh Anggia kini terlihat gemuk bahkan perut Anggia juga sangat besar, dan yang paling menantang adalah dada Anggia yang memang berukuran besar, terlihat bertambah besar lagi.


Anggia kembali ke kekamarnya karena semua keperluannya masih di sana tertinggal, hingga ia selesai mandi dan kini melilitkan handuk di tubuhnya. Anggia keluar dari kamar mandi dan melihat Bilmar yang duduk di di sisi ranjang, Bilmar bagai anak kecil yang tak bisa lepas lagi dari Anggia, hingga ia bangun dan menyusul Anggia saat ia belum melihat sang istri.


"Abang," Anggia tersentak dan kaget, ia berniat ingin pergi namun Bilmar menarik lengannya dan Anggia tak bisa bersembunyi ke kamar mandi karena tubuhnya yang hanya terbalut handuk.


"Anggi," Bilmar memegang tengkuk sang istri. Anggia menutup mata menanti sentuhan itu, dan Bilmar semakin mendekatkan diri saat Anggia yang terlihat menerima, namun tiba-tiba di luar terdengar keributan.


"Abang itu kenapa?" Anggia membuka mata dan kembali mendengar suara keributan.


"Sebentar," Bilmar keluar dari kamar dengan kesal, Anggia juga memakai pakaiannya dan ia juga ingin melihat apa yang terjadi di luar sana, apa lagi ia ingin makan perutnya sudah sangat lapar.


Sementara di luar kamar ternyata ada Veli dan Aran yang sedang bertengkar.


"Lu makanya kalau jalan liat-liat," Bentak Veli sebab pagi ini ia akan masuk ke kamar Anggia namun Aran malah menabrak tubuhnya hingga ia terjatuh di lantai.


"Heh, cewek pecicilan gw nggak minat buat besentuhan sama kamu jadi ngak usah kepedean," Ketus Aran tak mau kalah.


Bilmar mengacak rambut ternyata ada dua orang itu yang mempuat pagi yang seharusnya ia dapatkan, namun tidak jadi karena keributan Aran dan Veli.


"Heh, brisik!" Bentak Bilmar.


"Diam!" Veli dan Aran malah bersamaan membentak Bilmar.


"Kalian kompak sekali?" Kata Bilmar yang membuat Aran dan Veli saling panda dengan mata yang melebar.


"Enak aja," Kesal Veli.


"Heh, gw juga ogah ya," Aran juga tak mau kalah.


"Kalian berdua sangat mengganggu," Bilmar kembali masuk ke kamar berharap Anggia masih menunggunya di sana, namun saat Bilmar sudah masuk ternyata Anggia sudah bersiap-siap keluar.

__ADS_1


"Di luar kenapa Bang?" Tanya Anggia.


"Kucing sama Anjing lagi ribut," Jawab Bilmar.


"Kucing, Anjing?" Anggia semakin penasaran dan ia ingin memegang gagang pintu dan melihat apa maksud dari perkataan Bilmar, mamun Bilmar mencegah dan memeluk Anggia dengan cepat.


"Nggak usah di lihat," Kata Bilmar.


"Anggi udah laper banget Abang," Anggia melepaskan diri dan keluar dari kamar.


"Aran," Guman Bilmar sambil memukul udara di hadapannya, lalu ia naik ke ranjang Anggia untuk melanjutkan tidurnya kembali.


Sementara Anggia terus berjalan munuju meja makan, banyak muntah membuatnya sangat lapar sekali. Bahkan ia tidak perduli dengan Aran dan Veli yang masih bertengkar.


"Heh lu maunya apa sih?" Kesal Veli sebab Aran tak mau mengalah.


"Lu minta maaf sama gw," Jawab Veli.


"Aran Rianda, Velisya khumairah, kalian Mami nikah kan mau," Teriak Ratih yang malah semakin jengah dengan kelakuan dua anak yang sudah seperti anak kandungnya sendiri itu.


"Kau kurang ajar sekali."


Aran semakin kesal pada Veli yang sombong, Ia kini bukan lagi asisten tapi sudah menjabat sebagai Ceo di perusahaan warisan mendiang sang Ayah, dulu ia menjadi asisten Bilmar karena perintah Rianda agar Aran tahu bagaimana cara Bilmar menjalankan perusahaan, tapi malah Veli sangat meremehkannya. Bagi Aran apa pun pekerjaan asal halal tak masalah, mau kuli pun tak ada salahnya.


"Cukup! Kalian berdua ikut Mami," Perintah Ratih.


"Kemana Mi?" Tanya Aran.


"Ikut!" Tegas Ratih.


Aran dan Veli masih saling melempar pandangan tidak suka, tapi keduanya tetap mengikuti Ratih. Hingga akhirnya Ratih berhenti di hadapan kamar mandi lalu berbalik menatap Veli dan Aran.


"Mi kita ngapain ke sini?" Tanya Veli.


"Masuk!" Ratih membuka pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Masuk Mi? Tapi Veli udah mandi," Jawab Veli yang masih belum mengerti.


"Kalian berdua cepat masuk!" Kata Ratih lagi.


"Mi, ngapain kita berdua masuk?" Aran berkata dengan lembut berharap Ratih mau mengurungkan niatnya.


"Mami bilang apa tadi?" Tanya Ratih dengan nada yang lembut.


"Masuk," Jawab Veli dan Aran bersamaan.


"Berarti?" Tanya Ratih lagi.


"Masuk," Jawab Veli.


"Jadi tunggu apa lagi? Cepat masuk!" Teriak Ratih dengan dada naik turun menggambarkan nafas yang memburu karena kesal.


"Iya Mi," Aran dan Veli masuk, dengan cepat Ratih menutup pintu dan menguncinya dari luar.


"Mami buka!" Teriak Veli dan Aran dari dalam kamar mandi.


TOK TOK TOK.


Keduanya mengetuk pintu karena ingin keluar, Ratih memperingatkan para pekerja agar tidak ada yang berani membuka pintu, kalau ada yang berani Ratih akan menghukum mereka semua. Walau pun hanya satu orang yang membantu membuka pintu.


"Heh, ini gara-gara lu ya!" Bentak Veli sambil berkacak pinggang.


Aran yang dari tadi terus di salahkan, mulai menatap tajam dan serius Veli, bahkan Aran maju mendekat selangkah demi selangkah hingga Veli terkungkung karena Aran menguci tubuh Veli bahkan tangan Veli ada di kepadanya dengan Aran yang memegang erat.


"Lu mau apa?" Tanya Veli dengan takut.


"Mau apa aja nggak akan ada yang tahu, kita cuman berdua di sini," Aran menakut-nakuti Veli seolah ia akan melakukan hal itu pada Veli.


"Mundur!" Veli hampir menangis ketakutan.


"Bisakah kau merubah mulut mu itu, agar berbicara dengan baik!"

__ADS_1


"Aku bilang mundur! Menjauh dari aku," Veli membuang wajah ya kesamping karena Aran hanya berjarak beberapa senti dari Aran.


__ADS_2