
Satu minggu kemudian.
Anggia kini sudah lebih baik, keadaanya pun sudah banyak menunjukan kemajuan walau pun Anggia masih merasa takut bila di tinggal sendiri, dan bila di tempat gelap ia suka menangis karena merasa takut. Anggia tidak bisa melupakan saat tubuhnya mengeluarkan darah setelah di suntikan cairan kimia di klinik aborsi saat itu, dan di tengah gelapnya malam ia berlari sekencangnya dengan Brian yang mengejar.
Kini Bilmar, Ratih, Rianda, Veli dan Anggia tengah duduk di kursi meja makan untuk sarapan pagi. Pagi ini Rianda juga ikut sarapan di rumah Bilmar karena ia juga ingin melihat keadaan Anggia, lagi pula jarak rumah mereka tidak jauh.
"Kamu sarapan apa Ngi?" tanya Veli.
"Aku, kayaknya nggak sarapan deh, aku minum susu ajah."
"Kok gitu?"
"Semuanya aku pamit, aku nanti sarapannya."
Anggia pergi dan berjalan menuju kamarnya, sambil kedua telapak tangannya menahan muntah yang akan segera keluar. Anggia tidak ikut sarapan karena tidak kuat mencium bau makanan yang membuatnya sangat tingak nyama.
"Huek, huek," Anggia memuntahkan air setelah sampai di kamar mandi, ia tidak ingin merusak nafsu makan yang lain karena mendengar atau melihatnya muntah-muntah.
"Ya ampun kepala aku pusing banget," Anggia memijat kepala dan berjalan dengan pelan menaiki ranjang, untuk berbaring.
"Anggia, kamu kenapa nggak sarapan," terdengar suara Ratih yang ternyata menyusul Anggia dan di belakang Ratih ada Veli yang membawa makanan.
"Maaf nyonya saya.....huek," Anggia merasa geli saat melihat nasi goreng yang Veli bawa.
"Lu makan ya Ngi," Veli duduk di sisi ranjang Anggia sambil meletakan piring yang ia bawa di atas paha Anggia yang tengah duduk di ranjang.
"Huek,.....Veli ambil nasinya aku nggak kuat," Anggia dengan cepat memberikan piring berisi nasi goreng itu pada Veli.
"O, kamu mual ya lihat nasi?" tanya Ratih.
"Ya nyonya saya nggak kuat, bikin saya merinding," kata Anggia menggosok tangannya, membayangkan nasi saja ia sudah merasa hawa di rumah itu terasa dingin apa lagi memakannya.
"Ya sudah kamu mau makan apa?" tanya Ratih.
Ratih tau usia kandungan Anggia masih memasuki dua bulan namun Ratih merasa perut Anggia sudah cukup besar, dan membuat Ratih sedikit bingung. Sementara Veli semakin yakin Anggia mengandung anak kembar dan butuh asupan nutrisi yang lebih agar bisa di bagi dengan kedua janinnya.
__ADS_1
"Bisa nggak Vel, nasi gorengnya kamu antar keluar dulu, aku mual liatnya aja," pinta Anggia yang sedari tadi susah payah menahan mual.
"Bentar," Veli keluar membawa piring berisi nasi keluar dari kamar Anggia.
"Kamu mau makan apa sekarang?" tanya Ratih yang masih duduk di sisi ranjang.
"Saya maunya bakso bakar Nyonya," jawab Anggia dengan membayangkannya saja membuat air liurnya rasanya sudah menetes.
"Nyonya saya boleh ijin cuti nggak," kata Veli yang baru saja masuk kembali kekamar Anggia.
"Kamu mau cuti?" tanya Ratih.
"Ya, tadi Papah telpon katanya Mamah lagi sakit Nyonya, sekalian juga saya mau istirahat satu minggu saja Nyonya saya mohon."
Selama Veli merawat Anggia ia memang kurang tidur di tambah lagi keadaan sang mama yang juga sedang sakit. Ia juga tidak pernah menemui orang tuanya selama merawat Anggia ada rasa rindu juga di hati Veli saat mengingat wajah kedua orang tuanya.
"Ya sudah, tapi kalian jangan panggil saya Nyonya terus dong, panggilnya Mami ajah. Kaliankan udah saya anggap anak." pinta Ratih
"Pengennya kalau manggil Mami kita jadi mantu Mami dulu," seloroh Veli.
"Mau lah kalau punya mertua sebaik Mami, tapi Mami cuman punya satu anak kan tuan Bilmar? Saya gagal deh jadi mantu Mami." kata Veli sambil cekikikan, ia sangat suka pada Ratih namun ia tidak mungkin menikah dengan Bilmar.
"Siapa bilang Mami cuman punya satu anak?" kata Ratih yang membuat Veli bingung.
"Emang Mami punya anak selain tuan Bilmar?" tanya Veli bingung, Anggia juga sedari tadi yang mendengar pembicaraan Ratih dam Veli merasa bingung.
"Ada dong, si Aran dia itu memang keponakan Mami. Cuman karena orang tuanya meninggal sejak ia masih kecil, jadi dia dari bayi Mami yang rawat dan dia juga sama dengan Bilmar. Mami sudah anggap dia anak kandung Mami." kata Ratih yang mulai menjodohkan Aran dengan Veli.
"Ya Nyonya eh maksudnya Mami, tapi entar aja ya abis Veli pulang dari jenguk Mamah dulu di rumah."
"Ya sudah kamu hati-hati," kata Ratih yang memberi ijin pada Veli untuk cuti.
"Veli kalau kamu pergi aku gimama?" tanya Anggia ia tidak bisa membayangkan, kalau Veli pergi bagaimana dengan nasipnya
"Nggak lama Ngi, aku jugakan harus liat keadaan Mamah aku, kamu ngerti ya Ngi," pinta Veli sambil berpelukan dengan Anggia.
__ADS_1
"Iya, kan ada Mami, ada Bilmar juga yang temani kamu." Ratih juga ikut menimpali.
"Ya udah hati-hati," kata Anggia ia juga mengerti dengan keadaan Veli, lagi pula ia tidak ingin membuat Veli terbeban, bila ia menunjukan wajah sedih. Veli begitu menyayangi Anggia ia akan terus terbeban bila Anggia sedih saat ia pergi.
"Ya kamu juga baik-baik nggak lama, aku cuman pergi satu minggu jadi kamu ngertikan?"
"Iya aku nggak papa," kata Anggia.
"Mih, Veli pergi," Veli mencium punggung tangan Ratih, Ratih sangat terharu dengan kesopanan Veli. Ternyata di balik sikap gesrek dokter cantik itu ia juga memiliki sofan santun.
"Iya hati-hati," kata Ratih.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ratih tersenyum sepertinya idenya menjodohkan Veli dan Aran sangat tepat, setelah itu Ratih kembali melihat Anggia yang duduk berdekatan dengannya.
"Ya udah kamu mau bakso bakar? " tanya Ratih lagi melanjutkan omongan mereka tadi yang sempat terputus.
"Iya Mi," jawab Anggia tersenyum, Ratih juga ikut tersenyum melihat senyum Anggia.
"Kamu tunggu di sini, Mami minta pak Nan buatkan," pak Nan adalah koki handal yang di pilih Bilmar dari salah satu hotel miliknya, dan kini menjadi juru masak di rumah baru miliknya.
"Nyonya, maksud Anggi Mami," Anggia memamggil Ratih kembali saat Ratih hendak keluar.
"Ya," Ratih menghentikan langkahnya saat mendengar suara Anggia memanggilnya lalu ia kembali berbalik melihat wajah Anggia.
"Mi bisa nggak....em," Anggia bingung bagaimana cara mengatakan keinginannya pada Ratih yang cukup aneh menurut Anggia sendiri.
"Kamu mau apa, ayo bilang, nggak boleh di tahan nanti anaknya ngences san loh," seloroh Ratih.
"Mi, Anggi pengen tuan Bilmar yang buatin, boleh nggak," tanya Anggia dengan suara pelan dan hati-hati.
***
__ADS_1
TOVE saya mohon ya.