
Pagi harinya.
Pagi ini Veli tak bisa bergerak karena urah Aran yang benar-benar membuatnya teler, bahkan Aran terus saja meminta lagi setelah mengijinkannya berhenti beberapa menit saja.
"Mas," Veli ingin merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku, tapi sangat sulit karena Aran terus memeluknya dengan kuat, "Mas," Veli menaikan nada suaranya agar Aran mendengar.
"Sayang Mas masih capek, kalau mau lagi Mas istirahat sebentar aja," jawab Aran tanpa membuka mata.
Veli di buat melongo dengan jawaban Aran, "Mas, lepasin. Veli mau mandi, bukan mau yang lain," jelas Veli sedikit kesal pada Aran.
"O, bilang dong," Aran melepaskan Veli dari pelukannya.
Veli yang kini turun dari ranjang dengan cepat masuk ke kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya di bawah air shower. Tak lama berselang Veli merasa sebuah tangan yang datang menjalar dari belakang tubuhnya, meremas miliknya.
"Ssssssttttt....." Veli mendesah merancau tak jelas, setelah itu Aran menyentuh bagian utama tubuhnya dengan sesekali menggigitnya di bawah sana, "Mmmmm......." terasa gelagat yang aneh yang di rasakan Veli.
Tak sampai di situ di bawah guyuran air shower semua terulang kembali.
"Mas......ah.....ah.....ah...." suara teriakan Veli dan dentuman kulit yang saling bertabrakan kembali menggelegar di kamar mandi itu, tak bisa di pungkiri pengantin baru itu benar-benar menikmani masa-masa mereka menjadi pasangan suami istri.
Selesai dengan 30 menit melakukan olah raga pagi, keduanya membersihkan tubuh, hingga akhirnya Veli dan Aran kini sudah memakai pakaian mereka dengan rapi. Lalu Veli ke dapur membuat kopi untuk Aran.
"Mas, ini kopinya?" Veli meletakannya di atas meja makan, sedangkan Aran duduk di kursi.
"Makasih Khumairah sayang," Aran tersenyum dan mulai menyeruput kopinya, "Eeeeem, kopi buatan istri nggak ada duanya," tutur Aran mencolek dagu Veli.
"Emmmm....modus," kata Veli yang mulai mendudukan tubuhnya.
"Sayang kamu sakit? Wajah mu pucat sekali?" tanya Aran panik melihat wajah Veli.
"Veli dari semalam nggak tidur Mas, Veli kecapean," jawab Veli dengan memijat kepalanya yang terasa tak enak.
"Yaudah Mas pijitin ya," kata Aran mulai memijat tengkuk Veli, Veli hanya mengangguk karena badannya memang tak enak setelah bergadang semalam dengan Aran.
"Mas Veli ke kamar aja ya, badan Veli nggak enak banget," kata Veli yang kini berdiri, namun dengan cepat Aran juga ikut berdiri.
"Yasudah," Veli merasa tubuhnya melayang sebab Aran kini mengangkatnya, dengan reflek Veli memeluk leher Aran, "Kamu tidur ya," Aran membaringkan tubuh Veli setelah itu ia berniat keluar.
__ADS_1
"Mas," Veli dengan cepat duduk dan memanggil Aran, "Mas Veli mau peluk," kata Veli tak ingin di tinggal Aran.
Aran mengangkat sebelah alisnya mendengar permintaan Veli, "Mas, pesan makanan sebentar kamu kan belum makan Khumairah sayang," jelas Aran sambil tersenyum pada wanita yang kini sudah berhasil mencuri hatinya. Hingga Aran sudah sangat terjebak jauh dan tak tau caranya untuk keluar dari labirin yang di penuhi dengan cinta Veli. Bahkan mungkin Aran rasanya tak bisa bernapas lagi tanpa Veli yang kini bagai udara yang membuatnya hidup.
"Cepet ya Mas, Veli emang laper juga sih," kata Veli tersenyum manja pada Aran, bahkan rasanya senyuman itu terlihat begitu lepas dan tulus.
"Iya, tunggu sebentar ya," setelah Aran berpamitan ia keluar sebentar untuk memesan makanan. Sementara Veli kembali membaringkan tubuhnya yang sangat lelah.
Beberapa saat kemudian, Aran kembali dengan membawa napan berisi makanan dan juga air minum, di tangannya, "Sayang, bangun," Aran meletakan napan yang ia bawa di atas meja, dan membangunkan Veli, "Khumairah sayang, bangun," Aran menggerakan tubuh Veli agar sang istri segera bangun.
"Em," Veli mendudukan tubuhnya dan menatap Aran, "Mas, Veli udah laper banget," kata Veli.
"Iya.....ini udah Mas bawain makanannya," Aran mengambil piring berisi makanan dari atas meja dan memegangnya," Makan sendiri apa di suapin?" tanya Aran.
"Di suapin dong," jawab Veli dengan cepat.
"Ok......ayo buka baju," seloroh Aran.
Veli melebarkan mata dan memegang baju bagian dadanya, "Mas apaan sih, kok bukak baju," kesal Veli.
"Terus buka apa dong?" tanya Aran yang masih bersemangat menggoda Veli.
"Buka mulut, kan mau makan Mas," jelas Veli dengan nada yang sangat lembut.
"O....." Aran terkekeh melihat Veli yang dulunya gesrek berubah manja, "Mas pikir buka baju, buka celana," lanjut Aran lagi.
"Yeeeee dasar!"
"Ayo buka mulutnya, Mas juga laper, kita makan bareng," kata Aran.
Veli mengangguk dan menerima suapan demi suapan dari Aran, keduanya masih saja makan dan minum dalam tempat yang sama. Kucing dan tikus itu kini sudah seperti air dan beras yang tak dapat terpisahkan lagi, menyatu dalam panasnya cinta hingga berubah menjadi satu dalam iringan syahdu yang menciptakan sebuah kenangan indah.
"Udah kenyang sayang?" tanya Aran.
"Belom," jawab Veli.
"Ha......kita makan sebanyak itu kamu bilang belum kenyang?" tanya Aran bingung.
__ADS_1
"Maksud Mas Veli banyak makan terus nggak kenyang-kenyang?" kesal Veli dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Sayang maksud Mas nggak gitu," Aran dengan cepat memeluk Veli, ia bingung dengan perubahan sikap Veli yang manja dan gampang tersinggung, "Nanti Mas beliin kamu satu set perhiasan ya," kata Aran menghibur Veli karena ia tau istrinya sangat suka berbelanja.
"Beneran Mas?" tanya Veli tersenyum.
"Iya dong, tapi jangan nangis," Aran menghapus jejak air mata Veli yang membasah di pipinya dengan ibu jari Aran yang cukup besar itu.
"He'um, sekalian sama eskrim ya Mas," pinta Veli sambil bergelayut manja di leher Aran.
"Eskrim?" lagi-lagi Aran di buat bingung dengan Veli, "Eskrim kenapa harus di minta di kulkas juga banyak Mas lihat," tutur Aran.
"Veli mau nya yang di mall," jawab Veli dengan mata yang berbinar.
"Sayang kalau cuman eskrim di Mas juga ada," kata Aran.
Veli mengerti maksud Aran, "Mas apasih," Veli menarik telinga Aran, "Biar otak Mas bener," lanjut Veli lagi.
"Aduh......sayang sakit," Aran mengelus telingannya, "Emangnya yang Mas maksud tadi apa?" tanya Aran.
"Maksud Mas yang di celanakan."
PELTAK......
Aran menyentil dahi Veli.
"Sok tau....otak kamu ini yang nggak bener," kata Aran berusaha membuat Veli merasa malu, "Maksud Mas bukan itu, tapi maksud Mas itu ini," Aran mengeluarkan permen dari saku celanya dan memberikannya pada Veli.
"O.....hehehehe......" Veli menggaruk kepalanya ternyata dugaannya salah.
Sementara Aran merasa menang karena berhasil mengerjai Veli, "Ini otak isinya apa?" Aran menggoyang-goyangkan kepala Veli.
"Kan Veli pikir tadi Mas mikir itu."
"Mikir apa?
"Nggak ada."
__ADS_1
"Mikir apa?"
"Nggak ada papa."