Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 105


__ADS_3

Satu jam sudah berlalu operasi sudah selesai di lakukan, kini kedua bayi mungil itu sudah berada dalam inkubator. Veli keluar dari ruang operasi dengan wajah tertunduk dan menitihkan air mata, sesaat sebelum ia keluar matanya menatap tubuh lemah sang sahabat yang terbujur di sana.


"Veli," Ratih sangat penasaran dengan keadaan Anggia, sebab Veli keluar dengan menunduk dan air matanya yang tak henti-hentinya menetes.


Perasaan cemas sungguh sangat terasa di keluarga itu, sebab Veli masih terdiam dengan seribu bahasa dan menatap wajah mereka yang penasaran satu persatu menantikannya bersuara. Tidak ada yang bisa di katakan Veli selain air mata yang ia tunjukan pada semuanya.


"Veli jawab pertanyaan Mami?" Ratih memegang lengan bagian atas Veli dan menggerakannya, berharap Veli bersuara namun Veli hanya bisa menangis saja hingga Bilmar juga merasa penasaran bercampur dengan perasaan khawatir.


"Veli.....bagaimana istri dan anak saya?" tanya Bilmar yang kini berdiri tepat di hadapan Veli.


"Hiks.......hiks......" Veli menangis dan menggeleng dengan perasaan yang kini ia rasakan, tangannya terlihat mengusap kasar air mata dengan telapak tangan.


"Veli, jawab!" tanya Bilmar dengan tegas, begitu pun dengan semua keluarga yang menanti jawaban Veli.


"Mami......" Veli memeluk Ratih dengan erat.


"Veli, apa yang terjadi?" tanya Ratih khawatir.


"Selamat.....Mami sekarang udah jadi Oma," kata Veli tersenyum bahagia.


"Veli.....jelaskan dengan benar!" Bilmar yang kini malah kesal karena Veli tak menjelaskannya dengan baik.


"Selamat tuan Bilmar, baby twins sudah lahir dan Anggia baik-baik saja," kata Veli dengan suara bergetar dan masih menitihkan air mata.


"Kenapa tidak katakan dari tadi, kau hampir membuat jantung ku copot!" kesal Bilmar yang ingin meremas wajah Veli.


"Saya terharu, karena udah jadi tante, tante Veli cantik," kata Veli menghapus air mata yang lagi-lagi menetes.


Semua keluarga hanya bisa menarik nafas dengan panjang saat melihat bertapa konyolnya Veli. Sedangkan Vano menepuk bahu Bilmar dan tersenyum.

__ADS_1


"Selamat bro, cetakan lu jadi...." tutur Vano menaik turunkan kedua alis matanya.


"Ya...Zie udah punya temen perang ya," seloroh Bilmar sambil berpelukan dengan Vano.


"Selamat ya Bil," Ratih terharu dan memeluk Bilmar, tanpa di duga kini ia manjadi seorang nenek.


"Selamat juga....Mami udah jadi Oma," kata Bilmar mencium pipi sang Mami tercintanya.


"Anggia, udah di pindahin ke ruang rawat, kalau baby twins masih di ruang NICU, jadi mau lihat yang mana dulu?" tanya Veli pada semua keluarga.


"Bil, kamu lihat bayi kamu dulu terus azani, setelah itu kita baru ke ruang rawat Anggia ya," kata Ratih yang di angguki Bilmar.


Kini Bilmar sudah berdiri di antara dua bayinya, air mata itu terus saja menetes, tak lupa Bilmar mengazani anak-anaknya dengan perasaan haru dan rasa berdosa seakan bercampur menjadi satu. Terlebih lagi anaknya sepasang yang artinya satu perempuan dan satu laki-laki. Ia tau ia hanyalah seorang pendosa, bahkan anaknya lahir karena dosa yang terasa indah dan Bilmar berharap anak-anaknya tak seperti dirinya yang mudah melakukan dosa dengan siapa saja.


"Bil?" Ratih menepuk punggung Bilmar hingga Bilmar tersadar dari lamunannya, dan menatap sang Mami yang berada di belakang tubuhnya.


"Mi," lirih Bilmar.


Bilmar keluar dari ruangan itu bersama dengan Ratih, semua keluarga menunggu di luar ruangan melihat dua bayi itu dengan senyuman dan perasaan haru, bukan hanya Ratih saja yang menitihkan air mata. Rianda juga demi kian, rasa bersalah pun ia rasakan karena ke gagalannya mendidik Bilmar hingga kini cucunya lahir karena hubungan di luar nikah, rasanya Rianda tak bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Anggia," Bilmar memegang wajah sang istri yang kini sudah sadarkan diri, namun masih berbaring di ranjang tanpa bisa bergerak, "Terimakasih," tutur Bilmar dengan bibir bergetar.


Anggia tak menjawab ia hanya tersenyum sebab ia pun tak tau harus berkata apa, rasa bahagia tak bisa ia tutupi dengan lahirnya dua anak yang sangat ia cintai itu.


"Anggia selamat ya Nak," Ratih memeluk Anggia dengan pelan karena rasa bahagia.


"Anggia selamat," kata Ziva yang juga berdiri di dekat ranjang Anggia.


Semua keluarga tersenyum bahagia, Ratih dan Sinta bahkan berkali-kali berpelukan karena tak bisa lagi mengungkapkan rasa bahagiannya.

__ADS_1


"Ratih ksmu dulu pengen cucu terus kan?" tanya Sinta mengingat permintaan Ratih sedari dulu.


"Iya Mbak, dan Mbak kalah soalnya cuman satu aku dua," kata Ratih di selingi tawa dan menunjuk dua jarinya.


"Selamat ya Ratih...." sekali lagi Sinta hanya bisa mengucapkan kebahagiannya dengan berkata demikian.


Sementara Bilmar tak dapat lagi berkata apapun yang jelas yang ia rasakan hanya rasa bahagia saja, tak ada yang dapat mengibaratkan tentang rasa bahagianya selain mengucapkan rasa terima kasih atas apa yang sudah Anggia berikan untuknya.


Tidak mudah Anggia mempertahankan kandungannya, banyak cobaan dan rintangan yang ia lalui bahkan sampai kemarin hari ia hampir kehilangan nyawa karena Sasa berniat menghabisinya. Dan kini Anggia pun harus melahirkan bayinya dengan usia kandungan yang belum cukup. Namun walau pun demikian perasaan lega kini sudah di sangat di rasakan, rasanya penderitaan itu perlahan berubah menjadi sebuah kebahagia. Semoga kebahagian yang kedepannya menanti menggantikan penderitaan yang selama ini Anggia rasakan.


"Assalamualaikum," ucap Sasa saat masuk keruang rawat super Vip itu.


"Walaikumsalam," jawab semua yang ada di sana.


"Anggia," Sasa berjalan mendekat dan melihat keadaannya, "Selamat ya Anggi, aku nggak bisa bilang apa-apa selain itu," kata Sasa dengan tulus, ia memang baru tau jikalau Anggia selesai di operasi, itu pun dari perawat. Karena ia sibuk dengan pasien-pasiennya dan pasiennya kini bertambah satu yaitu Brian sekaligus suaminya sendiri. Dan saat ia tau tentang Anggia tanpa pikir panjang ia langsung menuju ruangan itu.


"Ma...kasih," kata Anggia dengan suara pelan.


"Lu kapan Sa?" seloroh Veli.


"Memangnya Sasa udah nikah?" tanya Ratih.


"Udah Mi," jawab Veli dengan antusias.


"O.....selamat, tapi kok nggak undang Mami Sa?" tanya Ratih yang tak tau apa-apa.


"Em," Sasa menatap Veli dan kemudian menatap Bilmar, ia pun tak tau harus menjawab apa.


"Mi belum resepsi, ya kan Sa?" kata Veli mengalihkan pembicaraan, ia tau Sasa kesulitan untuk menjawab itu semua.

__ADS_1


"Iya Mi," jawab Sasa tersenyum dan bersyukur Veli tak mengatakan apa penyebab ia menikah dengan Brian dan jangan lupakan Ratih pun belum tau dengan siapa Sasa menikah.


Namun kini semua terlihat bahagia dengan kehadiran baby twins, lengkap sudah kebahagian keluarga Rianda.


__ADS_2