
Pagi harinya Bilmar mulai terbangun dari tidurnya, perlahan matanya terbuka, bibirnya melengkung membentuk senyuman. Bayangan apa yang terjadi kemarin sore dan semalam masih terasa nyata di matanya, tangan Bilmar mengelus pipi cabi Anggia. Bilmar seakan di buat gemas dengan kelucuan sang istri, berkali-kali Bilmar menoel-noel hidung Anggia tapi tetap saja Anggia tak terbangun. Hingga akhirnya Bilmar memutuskan untuk bangun tanpa membangunkan Anggia.
Selesai Bilmar mandi Anggia juga masih tidur lelap sampai akhirnya Bilmar memutuskan pergi ke kantor tanpa berpamitan pada sang istri, setelah kepergian Bilmar Anggia masih saja terlelap mungkin karena lelah di buat begadang oleh sang suami, di tambah lagi ia sedang mengandung membuatnya sangat mudah lelah, apa lagi ia baru tertidur setelah azan subuh berkumandang lengkap sudah alasan untuk ia masih setia berbaring di sana. Tak terasa ternyata jam sudah menunjukan pulul 10 pagi, ibu hamil itu mulai kasak-kusuk merasakan lapar. Wajar saja lapar Anggia belum sarapan padahal hari sudah hampir siang, kedua bayinya tentu sudah marah-marah pada sang ibu karena kesal.
"Huek," Anggia menutup mulut menahan mual yang datang saat tidur lelapnya, reflek Anggia terbangun ia mulai memungut gaun tidur yang terbuang begitu saja di lantai dan dalaman yang tergantung di lampu tidur, ya ampun jadi untung lampunya nggak meledak karena ada bra dan bawahan di atasnya. Perlahan Anggia memakai semua itu kembali lalu masuk ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
"Huek, huek," Sebelah tanyannya memegang perut sebelah lagi memijat dahi yang terasa sangat tidak enak.
Setelah memuntahkan isi perutnya, Anggia berjalan keluar dari sana perutnya sudah takbisa di ajak kompromi. Namun dengan memegang dinding yang ia jadikan tumpuan hingga ia bisa menggapai gagang pintu dan keluar dari kamar.
"Loh Anggia," Ratih yang baru saja datang terkejut melihat Anggia di rumah, "Kamu di rumah, Mami pikir kamu ke kantor juga," Ratih memapah Anggia untuk duduk di sofa.
"Huek," Anggia menutup mulut denga telapak tangan, "Anggi laper Mi, udah masuk angin dari pagi belum sarapan. Anggi ketiduran," Jawab Anggia, Ratih merasa aneh mendengar penuturan Anggia sebab ia tau menantunya itu selalu makan tapi lucu sekali rasanya pagi ini Anggia mengatakan lupa, namun saat Ratih menatap Anggia matanya tertuju pada leher Anggia yang banyak tanda ke unguan di sana.
"Dasar pengantin baru, yang korban kan cucu ku," Gumam Ratih sambil kesal mengingat wajah Bilmar, ia yakin Bilmar sudah mengajak Anggia begadang hingga menantunya pagi ini seperti ini.
"Mi Anggi, ke dapur dulu," Pamit Anggia sambil bangun dari duduknya tapi Ratih dengan cepat memegang pundak Anggia.
"Nggak usah, kamu masuk ke kamar lagi, nanti Art yang Mami suruh ngatar kamu makanan ya. Takut kamu kepeleset," Anggia mengangguk Ratih membantu Anggia untuk masuk kembali ke kamar dan membaringkannya di sana.
Setelah Anggia kembali ke kamar dan duduk di ranjang Ratih keluar dari kamar meminta Art membawa makanan untuk Anggia. Lalu Ratih menghubungi Bilmar agar cepat pulang, setelah itu Ratih juga menghubungi Veli untuk memeriksa keadaan Anggia sebab wajah Anggia sangat pucat sekali dan juga terlihat lelah.
__ADS_1
"Anggi," Teriak Veli sambil melenggang masuk, tak pernah ada sofannya wanita itu bebas melakukan setiap keinginannya. Mungkin bagi Veli dunia itu sama rata dan semua milik bersama hingga tak butuh ijin bila masuk ke kamar orang lain sekali pun. Namun hal itu tanpaknya memang sudah menjadi ciri khas tersendiri untuk Veli.
"Veli aku pening banget mual lagi," Anggia masih setia memeluk perut dan menahan rasa mual.
"Iya lah pening ples masuk angin, tapi pas di masukin lolipop, lu nya asik aja," Tutur Veli sambil membaringkan tubuh Anggia dan memeriksanya.
"Mulut tu di jaga?" Kesal Anggia yang masih berbaring.
"Ini buktinya," Veli menunjuk leher Anggia, "Berapa ronde semalam, lemes amat pagi ini," Seloroh Veli.
"Lima," Jawab Anggia asal karena ia kesal pada Veli, di tanya berapa kali ia pun tak tau yang jelas ia sudah tertidur lelap saat sang suami masih mengencaninya.
"Baru juga lima kali, nanti gw kasih lu obat perangsang ya," Veli, tetaplah Veli. Wanita itu kalau berbicara tak pernah benar bahkan sering kali tanpa sensor.
"Gw mah gampang, kalau gatal gw garuk pakek terong," Jawab Veli.
"Veli ambilin aku makanan dari pada lu di sini bikin aku kesal tau nggak," Tutur Anggia sambil menahan lapar.
"Caelah emang lu nggak kenyang sama semalam di kasih karamel sama tuan Bilmar itu," Tutur Veli sambil mengambil alih nampan berisi makanan yang barusan di antar oleh Art.
"Veli udah dong, aku jadi nggak selera makan tau!" Anggia menggabil piring berisi lauk dan nasi yang di berikan Veli padanya.
__ADS_1
"Minum obat mualnya dulu, baru makan," Veli memberi tablet obat pada Anggia dan Anggia mulai menelannya di bantu air putih, "Sakit begini baru gw di butuhin, giliran lagi itunya gw nggak di ajak jadi penontong kek kan lumayan live gitu, gw mah udah tau teorinya pengen prakteknya juga kan, lu mah enak udah pas kuliah belajar teori sekarang mah tinggal lu praktekin aja," Tutur Veli memanyunkan wajahnya.
"Apasih Vel," Anggia mulai menyuapi nasi dan memakannya dengan lahap. Hingga pintu terbuka dan ternyata Bilmar di sana.
"Sayang," Bilmar masuk dengan panik, hingga langsung memeluk Anggia.
"Uhuk, uhuk," Anggia juga sampai tersedak sebab Bilmar langsung menciumnya, Anggia merasa malu di tambah ada Veli juga di sana.
"Woy, gw manusia bukan figura," Ketus Veli, "Jangan bilang tuan Bilmar nggak liat saya di sini?" Kesal Veli sudah sampai ubun-ubun.
Bilmar tak menjawab perkataan Veli karena apa yang di katakan Veli memang benar adanya, ia tak melihat Veli ada di sana sebab fokusnya hanya pada Anggia.
"Kamu kenapa?" Tanya Bilmar masih panik.
"Kao," Jawab Veli masih kesal, "Kao abis perang sama Abang," Seloroh Veli sambil berlari meninggalkan Anggia dan Bilmar, ia takut kalau BIlmar malah marah padanya.
"Sini Abang yang suapin ya," Bilmar mengambil piring dan sendok yang di pegang Anggia.
"Anggi bisa sendiri," Anggia tertunduk menahan malu, ia juga merasa jantungnya berdetak sangat kencang.
"Dah nggak papa, ayo buka mulutnya," Tutur Bilmar.
__ADS_1
Anggia dengan terpaksa membuka mulut, agar makanan cepat habis dan Bilmar cepat pergi meninggalkannya untuk istirahat. Sebab berdekatan dengan Bilmar masih membuat jantung Anggia berdetak tak karuan.