
Ke esokan harinya.
*
KRINGGGGGGG.
Terdengar suara alarm pada ponsel Veli berbunyi, ia terbangun dan mengambil ponsel yang terletak di atas nakas.
"Gila badan gw pegel semua," Veli bergumam sambil merenggangkan otot-otot nya yang terasa kaku, bayangkan saja semalaman ia tidur di sofa, "Enak banget ini Mas imitasi bobo tenang di ranjang empuk gw," kesal Veli menatap Aran yang masih tidur dengan lelap.
"Mama udah bangun sahur belom ya," Veli memainkan ponsel miliknya, dan matanya menatap jendela yang tanpak bercahaya dari luar sana. Kemudian ia menatap jam dinding, "Jam 7, jadi ini udah pagi dan Mama nggak bangunin aku sahur dong," Veli kesal dan mengacak rambutnya.
Ia keluar dari kamar dengan rambut yang acak-acakan.
"Mama....." teriak Veli melihat Laras yang tengah membersihkan bunga kesayangannya di taman.
"Iya Nak, ada apa?" jawab Laras yang masih sibuk dengan bunga-bunganya.
"Mama gimana sih? Kenapa nggak bangunin Veli tadi pas sahur?" tanya Veli.
"Mama nggak enak bangunin pengantin baru, takut ganggu," jawab Laras.
"What?" Veli memutar bola matanya dengan malas, "Mama ada-ada aja, apa hubungannya pengantin baru sama sahur?" tanya Veli semakin kesal.
"Biasanya kan pengantin baru itu......." Laras menatap Veli yang kini menatapnyan kesal, "Yang itu loh," Laras mengerucutkan tangannya dan menyatukannya, untuk menggoda Veli.
"Ih," Veli semakin mengacak rambutnya dengan kesal, Mamanya memang tak pernah berubah dalam hal menggoda. Akhirnya Veli pergi begitu saja meninggalkan Laras, tak lupa Veli berjalan sambil menghentakan kaki.
Kini Veli kembali ke kamar, ia harus mandi dan berangkat bekerja. Namun sesampai di kamar ia melihat Aran sudah bangun dan duduk di sisi ranjang sambil menatapnya.
"Paan liat-liat, gw congkel mata lu mau!" Veli membuang pandangan, lalu kembali berjalan menuju kamar mandi.
BRAK.
Veli membanting pintu dengan kesal, sementara Aran hanya diam lalu ia memainkan ponselnya. Ia harus kembali kerumah untuk mandi, sebab ia tak membawa pakaian. Belum sempat ia bergerak pulang tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Tidak lama kemudian keluarlah Veli hanya dengan balutan handuk saja, Veli yang terbiasa tak membawa pakaian ganti melenggang begitu saja. Tanpa mengingat jika kini ia tak sendiri di kamar itu.
"Yaampun......" Veli berhenti melangkah, lalu memutar tubuhnya kesamping. Sebab kini ia ingat jika Aran ada di kamarnya juga, "Aaaaaaaaa," teriak Veli sambil berlari ke ruang ganti miliknya.
__ADS_1
Aran tersadar saat Veli berteriak, sebab tadi ia menatap Veli tanpa berkedip.
"Gila, gw pikir kecil. Ternyata gede banget," Aran mengepalkan tangan, setelah itu menepuk-nepukan ke kepalanya agar menormalkan otaknya, "Bisa batal puasa kalau begini," gumam Aran, lalu ia mengingat jika ia tak sahur dalam hatinya bertanya-tanya, apakah Veli sahur tapi tak membangunkannya. Atau mungkin Veli juga tidak bangun sahur.
"Heh......lu sengaja ya liatin gw barusan," Kata Veli yang kini berada di meja rias, sambil mengeringkan rambutnya.
Aran diam saja, kini ia memainkan kembali ponsel sambil melihat jadwal kerjanya hari ini.
"Heh.....ngapain masih di kamar gw, keluar sana. Gara-gara lu gw nggak di bangun sahur sama nyokap," gerutu Veli.
Aran tersenyum samar, ternyata Veli juga tak sahur sama seperti dirinya.
"Veli, bicara mu bisa bagus sedikit tidak," Aran kini menatap Veli yang membelakanginya, begitu pun Veli yang melihat Aran dari pantulan cermin.
"Nggak, kalau sama lo, gw nggak bisa sopan," jawab Veli dengan ketus.
"Apa perlu ku ajari caranya sopan santun!" Tanya Aran lagi.
"Lu mau ngakarin gw sopan santun? Lu aja kurangajar sama gw!" Veli berdiri dan memandang tubuhnya di cermin, setelah ia rasa semua pas ia berbalik dan kini menatap Aran, yang juga menatapnya.
"Apa mau mu sekarang?" Aran berdiri dan mendekati Veli, ia sudah berjanji pada Satria jika ia akan merubah Veli menjadi wanita yang sopan. Dan kini ia ingin memulai dari hal yang kecìl.
"Kamu bisa menghargai saya tidak!" Aran mengeratkan gigi dan mendekati Veli.
"Eh.....lu mau ngapain," Veli menunjuk Aran sebab Aran semakin mendekat.
"Kalau kamu tidak mau saya apa-apain, kamu harus sopan pada saya!"
"Iya, iya Mas Aran iya, puas lu," kata Veli.
"Kamu mau bekerja?" Aran menjauhkan dirinya dati Veli.
"Tau nanyak!" ketus Veli mengambil tas tangan kecil miliknya di lemari.
"Saya antar," Aran menarik lengan Veli, "Dan tidak ada penolakan!" kata Aran lagi sambil melangkah di ikuti Veli.
"Ck...lu masih bau jigong juga," kata Veli namun Aran menatapnya tajam, "Mas masih bau jigong juga," Veli memperbaiki ucapannya dan menambah kan panggilan Mas.
__ADS_1
"Masuk," Aran memasukan Veli kedalam mobilnya, sepanjang perjalan Veli hanya fokus pada ponselnya. Bahkan Veli terlihat bahagia, setelah sampai Veli langsung turun tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Aran, yang ada ia membanting pintu mobil dengan kuat.
Aran tak perduli ia kini kembali melajukan mobilnya, sebab ia harus segera mandi dan bersiap-siap ke kantor. Dan kini ia sampai di rumah Bilmar.
"Caelah, manten baru cuy," kata Bilmar yang duduk di ruang keluarga.
Aran tak perduli ia langsung menuju kamarnya, selesai dengan mandi dan berganti pakaian ia langsung ke dapur untuk makan, ia tak sahur dan kini sangat lapar dan ternyata Bilmar juga ada di sama bersama Anggia.
"Eh.....bini lu di mana?" tanya Bilmar sambil melihat Aran mengambil makanan.
"Di rumah emaknya!" ketus Aran sambil duduk di kursi meja makan.
"Lu nggak puasa?" tanya Bilmar terkejut.
"Nggak bangun sahur," jawab Aran sambil terus menuapi nasi ke mulutnya.
"Ck....main berapa ronde bro, kayaknya capek bener. Sampe sahur aja nggak ingat?" kata Bilmar lagi yang ikut duduk berhadapan dengan Aran.
"Ronde pala lo," Aran malah kesal dengan pertanyaan Bilmar.
"Kasur masih aman nggak? Rencana punya anak berapa?" goda Aran.
"Sekali lagi lu ngomong abis lu," Aran menatap tajam Bilmar.
"Heh," Bilmar mendekati Aran dan berbisik agar Anggia yang sedang membuat susu formula tak mendengarnya, "Gw dulu behhhhh, mantap sampek lima ronde," Bilmar menak turunkan alisnya dan menjauhi Aran.
"Ck....gw bisa gila kalau berdekatan dengan lo," kesal Aran dan mulai mendeguk air putih hingga tandas.
"Aran kamu kenapa lakuin ini sama Veli? Kamu nggak cinta kan sama dia, terus kenapa kamu malah maksa di nikah?" kini Anggia mulai mengutarakan kekesalannya.
"Karena kami ribut terus, mana tau bisa damai kalau udah nikah," jawab Aran asal.
"Heh, nikah bukan main-main loh, dan kamu malah menikahi wanita dengan memaksanya. Kamu punya otak nggak!"
"Sayang udah ya, itu urusan mereka," Bilmar berusaha menenangkan Anggia.
"Heh....brani lu sakitin dia, abis lu sama gw!"
__ADS_1
Pertama kalinya Aran mendengar Anggia sekasar itu dalam berbicara, Bilmar juga bergidik melihat istrinya ternyata bisa bersikap demikian.