Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 151


__ADS_3

Tujuh hari kemudian.


Selama tujuh hari ini Aran dan Veli tidak tidur di kamar yang sama, bukan karena Veli tidak mau. Namun karena Veli kedatangan sepupunya dari luar kota yang sedang mengandung, dan mengidam ingin tidur bersama dengan Veli. Veli tentu saja tak keberatan sebab ia adalah seorang dokter ahli kandungan dan ia mengerti dengan kondisi ibu hamil itu.


Namun bagaimana dengan Aran? Aran sangat kesal setiap malam tidur sendirian, sedangkan siang harinya ia di sibukan dengan pekerjaan penting di perusahaan. Moodnya benar-benar rusak karena setelah malam indah bersama Veli waktu itu terus terngiang-ngiyang di otaknya, dan itu semua membuatnya tak bisa berkonsentrasi sama sekali. Aran ingin mengulanginya lagi dan lagi, namun apa mau di kata semua tak bisa karena ada yang membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.


Veli yang berada di dapur mulai menikmati perannya sebagai seorang istri, bahkan membuat kopi sudah menjadi hal yang rutin ia lakukan. Karena Aran tak mau minum kopi selain kopi buatannya, dan Veli pun tak pernah mempermasalahkan itu semua.


"Mas, ini kopinya," Veli meletakan secangkir kopi yang barusan ia buat di meja makan, di mana semua anggota keluarga tengah di sana untuk sarapan.


"Terima kasih," jawab Aran dengan wajah datar kemudian ia meneguknya, lalu menatap Laras dan Satria, "Ma, Pa, Aran pamit ke kantor," pamit Aran sambil bangun dari duduknya.


"Iya Nak, hati-hati ya," jawab Laras tersenyum lembut pada sang menantu yang kini sudah sangat di sayangi Laras, sebab ia sudah melihat Veli begitu bahagia bersama Aran.


Aran melangkah pergi dan Veli menyusul dari belakang Aran, ia bingun dengan suaminya yang mendadak dingin padanya. Padahal ia tau mereka kini tak pernah lagi terlibat pertengkaran.


"Mas," Veli menghentikan langkah kaki Aran yang kini hendak memasuki mobil, dan bisa di pastikan tidak ada siapa-siapa di sana selain mereka berdua.


Aran berhenti melangkah, matanya mentap Veli dengan datar tanpa berbicara sepatah kata pun.


"Mas, kenapa?" tanya Veli bingung.


"Awas, Mas mau kerja," Aran menarik Veli agar pindah dari hadapannya dan ia mulai masuk ke dalam mobil.


"Mas," dengan cepat Veli juga ikut masuk, karena ia belum mengerti dengan apa yang terjadi pada Aran, "Mas, apa Veli buat salah?" tanya Veli sebab ia tidak suka dengan Aran yang kini bersipat dingin padanya.


Aran menatap Veli, "Mas, cuman punya waktu malam hari untuk bersama istri Mas di rumah Veli, siang Mas sibuk bekerja. Dan cuman kamu sebagai pengobat lelah Mas, dan Mas butuh kamu," ucap Aran dengan tegas.


Veli kini mengerti dengan perubahan sikap Aran, sejenak ia memang sadar dengan kewajibannya sebagai seorang istri. Tapi ia juga tak mungkin mengabaikan keinginan sepupunya itu, "Mas nggak kasihan sama Mey, dia lagi hamil pengen tidur sama Veli," jawab Veli, Mey adalah sepupu Veli yang sedang mengandung dan ingin terus tidur dengannya setiap malam.


"Sampai kapan?" tanya Aran.

__ADS_1


"Mas....kok gitu sih...." Veli malah merasa lucu dengan wajah Aran, lebih tepatnya wajah Aran seperti bayi yang kelaparan.


"Turun!" kata Aran dengan tegas pada Veli.


"Mas serius ngusir Veli?" tanya Veli tak percaya Aran mengusirnya.


"Em...." jawab Aran sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Mas," Veli memeluk lengan Aran, berusaha meredam emosi sang suami, "Nanti malam Veli tidur sama Mas, beneran," lanjutnya sambil menunjukan dua baris gigi rapinya pada Aran.


Sementara Aran hanya diam saja tanpa ada expresi menatap wajah sang istri.


"Turun," Aran masih tak percaya, sebab semalam pun begitu tapi tiba-tiba Veli tidur bersama sang sepupu yang menjemputya kekamar.


"Nggak."


"Turun."


Aran sebenarnya kasihan pada Veli dan tak tega dengan istrinya yang menangis, namun mau bagaimana lagi. Ia harus memperlihatkan kemarahannya agar Veli tau ia sangat membutuhkan Veli ada untuknya saat ia sedang senang atau susah. Terutama saat ia sedang lelah.


"Turun Mas bilang, Mas udah telat ni," Aran melihat jam yang terpakai di pergelangan tangannya.


"Veli ikut," entah mengapa Veli kini sangat takut Aran marah padanya, rasanya Veli sudah sangat takut bila Aran pergi meninggalkan dirinya.


"Gimana mau ikut," Aran menatap Veli dengan intens, "Kamu aja masih pakai piama, begini," kata Aran lagi yang malah merasa aneh pada Veli.


"Biarin," jawab Veli sambil membenarkan duduknya dan melipat kedua tangan nya di dada.


"Veli turun."


"Manggilnya sekarang Veli ya....." kesal Veli sebab tak ada lagi nada lembut dan panggilan manis yang biasa di pakai Aran untuk memanggilnya. Jujur saja Veli sudah sangat merindukan panggilan sayang Aran padanya.

__ADS_1


"Veli, Mas bisa telat," Aran mengingat jika hari ini ia ada rapat penting, namun Veli benar-benar tak bisa di ajak bekerja sama.


"Yaudah, Veli turun. Tapi cepat pulang ya sayang," ucap Veli mencubit gemas pipi Aran.


Aran diam dengan panggilan Veli, pertama kalinya ia mendapat panggilan itu.


"Ehem....ehem...ehem...." Aran tetap berusaha menenangkan diri agar tak terpengaruh dengan rayuan manis sang istri cantiknya, "Kamu lagi sakit minum obat jangan ngelawak," kata Aran sambil berusaha menutupi rasa bahagianya saat ini. Padahal hatinya sudah berbunga-bunga di buat Veli walau hanya dengan kata panggilan yang sederhana itu.


"Ish.....Yaudah Veli turun," kata Veli sambil membuka pintu, dan ia kembali menatap Aran sebelum benar-benar turun, "Mas, siang nanti Veli anterin makanannya ya. Kita makan bareng di kantor," seli tersenyum lalu turun.


"Terserah."


Veli tersenyum dan kembali naik ke mobil.


CUP.


Veli mengecup pipi Aran lalu kembali turun.


"Bye....sayang akohhhhh," teriak Veli dari luar sana.


Aran langsung melajukan mobilnya dan keluar dari gerbang, bibir Aran terus melengkung membentuk senyuman. Pertama kalinya Veli memanggilnya dengan panggilan sayang, hati Aran sungguh berbunga-bunga saat ini.


"Untuk lagi acting ngambek, coba kalau nggak udah aku sikat abis itu bini gw cantik banget. Sialan......"


Aran meluapkan segala emosinya pada kemudi dengan beberapa kali memukulinya, namun tetap saja ia tersenyum babagia. Dengan tingkah Veli mendadak manja padanya, hanya saja Aran bersikap dingin agar Veli merayunya dan tak lagi membiarkannya tidur sendiri.


"Sob. Sepertinya entar malem lu dapet jatah, wah parah......asoy coy. Sabar ya sob tinggal tunggu malam aja, begitu hari berubah gelap kita sikat sampek teler," kata Aran berbicara pada sahabatnya yang berbentuk panjang dan sangat suka berubah keras bila cuaca sedang mendukung.


***


Jangan lupa, bintang lima, like dan VOTE. Author sangat menunggu sekali.

__ADS_1


__ADS_2