Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 130


__ADS_3

Jika Anggia dan Bilmar sedang bahagia bedahalnya dengan Veli dan Aran, keduanya memang sepasang suami istri. Namun tetap saja masih ada jarak yang terlihat nyata, bagai dinding pemisah yang menjadi batas namun tak terpampang.


"Veli, kenapa kau selalu keras kepala. Tidak kah kau lelah terus berdebat dengan ku," Aran sudah sangat lelah sedari kepergian Anggia dan Ratih, Veli masih saja berkeras ingin berpisah. Namun sayang jika sampai mulut Veli berbuih pun bila Aran tak menjatuhkan talak ucapan Veli tak berarti apa-apa sama sekali.


"Aku lelah Mas, karena itu aku ingin berpisah, kau bilang jijik melihat aku. Lalu kenapa kau sekarang tak mau melepaskan aku?" tanya Veli.


Veli tetaplah Veli, wanita keras kepala dan menyimpan semua kata yang membuatnya merasa terluka. Ucapan Aran yang seakan hinaan tak dapat ia hapus dari ingatan, padahal luka karena Aran menikahinya dengan paksa pun belum sembuh. Tapi kini malah menambah luka baru yang terasa menyesakan hati.


"Kita jalani pernikahan ini selama satu bulan, bila memang kita terus berselisih paham. Atau kau masih tetap tak mau bersama ku. Maka kita boleh berpisah, tapi selama satu bulan ini kau harus benar-benar mengangap ku suami mu," tutur Aran dengan tegas.


"Benar-benar menganggap suami? Maksudnya?" Veli merasa bergidik dengan ucapan Aran, dalam otaknya kini ia berpikir apakah ia dan Aran akan melakukan itu. Memang itu adalah wajib di lakukan bagi pasangan suami istri, namun untuk saat ini kalau untuk dirinya. Ia sama sekali belum siap.


"Iya, kau harus tidur seranjang dengan ku, memasak untuk ku dan mempersiapkan segala keperluan ku," tutur Aran dengan jelas, ia sebenarnya ingin mengatakan masalah hubungan suami istri itu. Namun ia tau Veli masih kesal padanya dan ia mengurungkan niatnya untuk berkata demikian.


Sementa Veli masih berpikir dengan penawaran yang di berikan oleh Aran, dan jangan lupakan Veli tak mendengar adanya hubungan itu. "Aku...." Veli masih memijat kepala karena perasaan ragu, "Bukan kah Mas jijik dengan ku? Kenapa malas sekarang menawarkan ku hal itu?" tanya Veli lagi suatu hal yang belum di jawab Aran sedari tadi.


"Veli, kita baru menikah dua hari, aku minta maaf kalau kata-kata ku banyak membuat mu terluka. Tapi aku berjanji bila satu bulan ini kau berasa tak nyaman dengan ku, aku akan melepaskan mu. Apa kau tidak lelah terikat dalam pernikahan yang tak berkejelasan?" tanya Aran yang ingin membuat Veli menyetuji permintaannya, Aran tak ingin berpisah dari Veli dan ini lah caranya. Ia berusaha membuat Veli berdamai dengannya agar Veli merasa nyaman dan tak lagi ketus apalagi meminta berpisah.


"Baiklah, tapi janji. Kalau setelah satu bulan ini aku masih ingin berpisah berarti kita akan pisahkan Mas?" tanya Veli.


"Em," dengan berat hati Aran mengangguk, itu hanya untuk meyakinkan Veli tidak lebih.


"Yasudah...." jawab Veli dengan susah payah.


"Terima kasih," jawab Aran yang langsung memeluk Veli.


Veli shock saat Aran memeluknya, bahkan pelukan itu sangat erat, "Mas kamu ngapain peluk aku," ucap Veli sambil berusaha melepaskan diri.

__ADS_1


"Nggak ada marah-marah, kita udah ada perjanjian damai," kata Aran mengingatkan padahal ia juga sedikit malu karena kelepasan.


"Iya tapi tadi perjanjiannya nggak ada peluk-peluk!" kesal Veli.


"Iya maaf, khilaf," tandas Aran padahal jantungnya sudah tak karuan saat memeluk Veli barusan, jujur saja Aran merasa nyaman saat mendekap tubuh sang istri cerewetnya itu.


"Iya udah lupain aja, lagian Mas juga jijik kan sama aku," tutur Veli lagi.


"Veli, berhenti mengatakan itu. Atau aku akan memaksa mu melakukan itu sekarang juga. Aku sudah katakan aku minta maaf!" jelas Aran dengan tegas.


"Iya udah, iya nggak usah ngegas jugan bisa, apaan ngelakuin itu coba nggak ada tadi perjanjiannya," kesal Veli, tanpaknya kedua orang itu sudah terbiasa dalam pertengkaran dan keributan walau pun masalahnya terbilang cukup sepele.


"Aduh Veli....Mas pusing," Aran berpura-pura terjatuh keatas tubuh Veli, karena ia masih ingin memeluk Veli tapi takut di tolak lagi seperti tadi. Dan kalau di minta rasanya cukup memalukan.


Ini bini gw wangi bener ya, kapan coba gw bisa lepas pejaka.


"Eh.....Mas, berat," Veli berusaha menahan tubuh Aran, "Mas....Veli nggak kuat," tutur Veli sambil berusaha memapah Aran ke kamar, karena Aran sudah tak bisa berjalan sendiri.


Ya ampun makin nggak tahan.


"Berat banget sih," gerutu Veli sambil membantu Aran untuk berbaring di ranjang, "Aaaaa," teriak Veli saat merasa tubuhnya ikut tertarik tidur di ranjang bersama Aran, "Mas apasih?" kesal Veli lagi, tapi Aran tak perduli sama sekali.


"Kepala Mas pusing banget!" tutur Aran berpura-pura lemas.


"Yaudah bentar Veli periksa dulu," ucap Veli sambil berusaha lepas dari Aran.


"Nggak usah nanti saja," kata Aran, karena kalau Veli memeriksanya ia akan ketahuan tidak sakit.

__ADS_1


"Lepas Mas...." setelah susah payah akhirnya Veli berhasil melepaskan diri, dan ia melihat wajah Aran yang terlihat segar. Lalu ia memeriksa Aran. "Mas boong ya!" kesal Veli.


"Iya, biar kita damaikan kamu nggak marah-marah terus," jawab Aran, "Bibir lu kalau marah-marah pengen gw gigit, gemes gw," gumam Aran.


"Mas ngomong apa tadi?" tanya Veli yang samar-samar mendengar gumaman Aran.


"Nggak yang perut Mas sakit," jawab Aran.


"Yang?" tanya Veli dengan bingung, itu Yang maksudnya Sayang yang di singkat yang atau yang apa, seribu pertanyaan muncul di otak Veli.


Sementara Aran yang baru menyadari ucapannya barusan mulai kelimpungan tak jelas, memikirkan ide untuk menutupi rasa malunya, "Maksunya, tadi yang di kepala sakit dan sekarang yang di perut," ucap Aran menutupi kalau sebenarnya panggilan yang adalah singkatan dari kata sayang.


"O....kirain Sayang, baru mau senang," ucap Veli menggoda Aran, padahal ia tadi memang hampir menertawai Aran. Tapi karena Aran menjawab demikian ia mengurungkan niatnya.


"Senang?" tanya Aran bingung.


"He'um, tadi aku mau ketawa karena aku pikir Mas sudah gila sampek manggil aku yang!" tutur Veli mengubaskan tangannya, dan sambil terkekeh.


"Ck......" Aran berdecak kesal karena kebodohannya hampir sana Veli menjadikannya bahan tertawaan, "Kamu nggak kerja?" tanya Aran sebab Veli terlihat sangat santai.


"Nggak, Veli pusing dan cuti beberapa hari," jawab Veli, sebab otaknya sedang tak tenang dan ia tak mau sampai konsentrasinya terpecahkan karena malah pribadi. Jadi beberapa hari kedepan ada dokter yang menggantikannya.


"Bagus, doong kesempataan berduan," gumam Aran.


"Mas ngomong barusan?" tanya Veli.


"Nggak!"

__ADS_1


***


JANGAN lanjut-lanjut terus dong. kasih VOTE juga, kalau nggak Vote kita lanjut abis lebaran. makasih Kakak semua yang baik hati.


__ADS_2