
21+
*
"Mas apasih Veli nggak ngerti, lagian Veli masih di bawah umur," seloroh Veli sambil masuk ke salah satu butiq ternama dan mulai memilih beberapa pakaian untuk lebaran.
"Kamu nggak cocok di bawah umur," kata Aran ia berdiri di belakang Veli yang sedang sibuk memilih dress, Veli sejenak menghentikan apa yang ia lakukan menantikan lanjutan dari perkataan Aran barusan, "Kamu cocoknya di bawah Mas," kata Aran sambil memasukan tanggannya ke dalam saku celana dan menatap Veli dengan senyuman sejuta watt.
"Ish....." Veli mengibaskan tangan tak perduli dengan apa yang di katakan oleh Aran, ia lebih memilih kembali fokus pada dress yang ia pilih.
Selesai berbelanja Aran masih menjadi Atm berjalan Veli, membayar semua barang yang sudah ia beli. Aran tentu saja tak keberatan untuk mengeluarkan nominal rupiah yang cukup besar hanya demi sang istri, lagi pula selama ini ia tak pernah menghambur-hamburkan uang selain untuk dirinya sendiri. Dan bagi Aran Veli kini adalah tanggung jawabnya, semua kebutuhan Veli harus ia penuhi bahkan mereka sudah menikah selama sepuluh hari. Namun baru kali ini Veli meminta di belikan sesuatu menurut Aran itu terlalu lama sekali.
"Mas bawain," Veli memberikan semua paperback di tangannya pada Aran, Aran tak menolak ia melakukan apa pun yang di inginkan Veli, ia sangat suka memanjakan istri cerewetnya itu.
"Nggak sekalian di kawinin?" tanya Aran, namun Veli tak perduli sama sekali.
Selesai dengan berbuka puasa di salah satu restaurant ternama keduanya pulang karena malam sudah cukup larut.
Kediaman Satria.
"Veli kalian dari mana Nak?" tanya Laras yang duduk bersama Satria di ruang tamu.
"Veli, abis belanja buat keperluan besok Ma," jawab Veli tersenyum pada Laras.
"Aran kamu sudah buka puasa Nak?" tanya Laras lagi sebab ia tahu Aran berpuasa, dan saat berbuka keduanya tidak bergabung.
"Sudah Ma, tadi di luar," jawab Aran pada Laras.
__ADS_1
"Yaudah kalau gitu, nanti kalau mau makan lagi Mama udah buatin soto kesukaan Veli ya," kata Laras lagi.
"Ya Ma," jawab Aran.
"Ma Veli ke kamar dulu ya, mau mandi. Abis mandi Veli temuin Mama lagi," pamit Veli.
"Yasudah...." Lalas tersenyum melihat sang putri tercinta yang terlihat begitu bahagia bersama Aran, semua ternyata tak seburuk yang di pikirkan Laras dulu. Ia ingat betul saat Veli memohon untuk tidak di nikahkan dengan Aran, jujur saja saat itu ada sedikit keresahan namun Rianda dan Ratih meyakinkannya jika Veli pasti bahagia bersama Aran.
Sementara Veli dan Aran kini sudah berada di kamar, Veli langsung menuju kamar mandi untuk membersikan tubuhnya yang berkeringat. Sementara Aran duduk di sopa dengan rokok di tangannya, jasnya ia lempar asal di atas meja , lengan kemeja yang ia pakai dengan warna merah maron ia lipat sampai di siku. Tak lama berselang Veli keluar dari kamar mandi, masih sama seperti sebelumnya ia keluar dengan handuk kimono dan juga rambutnya di balut handuk. Veli berjalan dengan santai sebab selama ini juga Veli begitu dan Aran sama sekali tak tergoda jadi ia tenang-tenang saja.
"Sayang," Aran bangun dari duduknya dan mendekati Veli.
"Mas, minggir Veli mau ngambil piama di lemari," Veli berusaha menggeser tubuh Aran dari hadapannya, namun tak bisa Aran justru menyadarkan tubuh Veli di dinding.
"Mas mau apa?" tanya Veli dengan tubuh bergetar karena tatapan Aran yang seperti akan menjadikannya mangsa.
"Mas," Veli merasa bergidik ngeri karena sentuhan Aran.
Dalam sekejap tubuh Veli melayang dan kini ia terlentang di ranjang, dengan cepat Aran menindihnya.
"Mas sayang sama kamu," kata Aran dengan menatap lekat Veli, "Mas mau kamu jadi bidadari Mas selamanya, dunia dan akhirat," tutur Aran lagi.
Veli diam mendengar apa yang di katakan Aran, perlahan Veli menutup mata menikmati sentuhan hangat dari sang suami.
"Sssstttttt......." tak tau apa yang kini di rasakan. Namun semua sentuhan itu seakan penuh damba. Bibir pun tak bisa berucap kata, sebab tubuh sudah sangat menginginkan sesuatu yang menenangkan jiwa dengan penuh damba.
"Sayang boleh kah?" Aran kini benar-benar tak mau menjadi pemaksa lagi, ia ingin semua terasa indah dengan Veli juga memberikan haknya secara suka dan rela. Menikmati bersama bukan hanya ia saja.
__ADS_1
Veli menatap Aran yang juga menatapnya penuh harap, Veli mengangguk mengiyakan apa yang di pinta Aran. Kewajiban seorang istri adalah memberikan hak suami dan Veli ingin memberika apa yang sudah menjadi hak Aran.
"Terima kasih sayang."
Dengan cepat Aran melahap bibir merah merekah Veli yang sedari kemarin ia dambakan, tak sampai di situ tangan Aran mulai berkeliaran di dua gundukan yang cukup besar dan padat itu.
"Masssss....ssssttttt......." Veli merancau tak karuan tak kala merasakan sesuatu yang di tawarkan Aran begitu mendamba, dan baru pertama kalinya ia merasakan hal itu.
Tak ada kata jeda, Aran meraup apa yang bisa ia raup. Bahkan meninggalkan beberapa warna keungunan sebagai tanda kepemilikan akan sang istri yang sepenuhnya sudah ia miliki, hingga akhirnya mulut Aran sampai pada bagian utama.
"Ssssssstttttt......." tangan Veli hanya bisa meremas rambut Aran, tak kala merasa sensasi yang sangat aneh.
Tak ada yang terlewatkan sedikit pun, semua habis ia raup dengan jejak meninggalkan stempel keunguan.
"Mas....sakit...." Veli menangis merintih, saat merasa benda sekeras kayu mulai menyatu dalam dirinya, "Sakit Mas....hiks....hiks...." Veli menangis saat sesuatu yang berharga itu kini telah di ambil oleh Aran, suami yang memang sudah memiliki hak atas dirinya.
Aran tersenyum bahagia, ternyata benar Veli tak memberikan dirinya saat malam itu di hotel bersama mantan kekasihnya. Sedari kejadian itu Aran memang sedikit ragu atas pengakuan Veli yang tidak melakukan itu bersama Farhan, sebab Veli selalu punya alasan untuk menolak dirinya.
"Ah.....Mas....sakit," air mata Veli menetes karena tak kuat menahan perihnya bagian utama tubuhnya, bukan tangis penyesalan ini murni tangisan sakit dan perih.
"Sayang.....ah...." Aran pun ikut merancau tak jelas, Aran terus berpacu seiringngan dengan suara hentakan yang terdengar memenuhi ruangan itu. Sementara Veli hannya diam meremas seprei karena masih merasa perih.
"Mas, perih Mas......"
"Sayang.....ah....." Aran sampai pada puncaknya setelah hampir satu jam berpacu, sebenarnya ia ingin melanjutkan kembali namun Veli sudah sangat merasa lelah bahkan Veli langsung tertidur.
Aran membenarkan tidur Veli, dengan meletakan kepalanya di atas bantal. Dan ia juga menarik selimut. Aran berbaring di samping Veli.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, maaf sudah meragukan mu. Mas janji akan terus berusaha buat kamu bahagia," Aran menyisir rambut Veli yang berantakan karena ulahnya.