
"Kalau anda sudah selesai, pintunya masih disana tuan Pasha," Bilmar merasa kedatangan Pasha sangat tidak penting, Bilmar memang notabetnya seorang pria dingin dan malas berbicara pada orang yang menurutnya tidak penting. Sepertinya menurut Bilmar, Pasha bukanlah orang yang penting, mungkin saja Pasha termasuk orang yang ia benci hingga ia mengusir Pasha dari hadapannya.
"Bilmar bisakah kah kau biarkan aku bertemu dengan Anggia, hanya bertemu saja, aku tidak akan membawanya pergi."
Dengan perasaan cemas Pahsa mencoba bernegosiasi dengan Bilmar yang terlihat menatapnya dengan tajam. Namun Pasha masih membutuhkan Bilmar untuk bisa melihat keadaan Anggia, maka ia harus bersabar bila Bilmar berkata kasar padanya ia qkan mencoba diam.
"Tidak."
Hati Bilmar tidak terketuk sedikit pun melihat wajah Pasha yang sangat berharap bertemu dengan Anggia. Lagi pula Bilmar tidak yakin bila Pasha tidak membawa Anggia pergi darinya, Bilmar curiga setelah Pasha tau di mana Anggia kini berada pasti Pasha akan membawa Anggia dengan cara yang licik. Pasha terlalu teropsesi dengan Anggia menjadi menantunya dan bagaimana bisa Bilmar percaya dengan ucapan Pasha.
Tidak ada kepercayaan yang sedikit pun ia berikan pada Pasha, yang ada hanya rasa dendam dengan keluarga Pasha yang hanya bisa membuat Anggia menderita. Juga kini anak nya yang berada di dalam kandungan Anggia ikut menderita karena masalah yang sama sekali bukan kesalahannya.
"Sekali saja Bilmar," pinta Pasha lagi.
"Pintunya ada di sana tuan Pasha."
Lagi-lagi Bilmar mengusir Pasha dengan cara terang-terangan, tanpa perduli mereka terikat kontrak pekerjaan. Bilmar tidak perduli bila ia harus kehilangan rupiah kalau Pasha memutuskan kotrak mereka, bagi Bilmar uang tidak seberapa di bandingkan dengan wanita dan anak yang ia cintai.
"Bilmar, saya tau kau memang ayah dari anak yang di kandung Anggia, tapi kau bukan suaminya. Ingat kau bukan suaminya!" lagi-lagi Pasha berusaha menekan Bilmar, mungkin saja Pasha sudah hilang kesabaran yang sedari tadi terus ia tahan. Pasha memang sangat ingin bertemu dengan Anggia, baginya Anggia harus menjadi istri dari anaknya Brian.
"Lalu kenapa kalau aku bukan suaminya."
__ADS_1
"Kau tidak berhak untuk menahan Anggia."
"Lalu apa hak mu meminta Anggia bersama mu? Apa kau suaminya," Bilmar sungguh menjadi pria yang banyak bicara saat ini pada Pasha. Kebencian akan keegoisan Pasha yang memaksa Anggia sungguh membuat Bilmar murka.
"Kalau bicara kau jangan kurang ajar," tutur Pasha, telinya serasa sakit saat mendengar ucapan yang di lontarkan Bilmar dengan tidak sopan pada pria paruhbaya yang seharusnya di hormati.
"Kenapa?"
"Sepertinya orang tua mu yang terhormat itu hanya sibuk dengan mencari kekayaan ya, hingga mereka tidak sempat mendidik mu menjadi lelaki yang memiliki tatakrama pada orang yang lebih tua dari mu," Pasha yang memang keras kepala tidak mau lagi kalah dengan melawan perkataan Bilmar, baginya orang tua tidak pernah salah. Orang tua hanya menjadi pemenang dan harus di turuti rela atau pun terpaksa.
"Ahahahahaaa," Bilmar malah tertawa mendengarkan penuturan Pasha, yang menurut Bilmar sangat lucu itu.
"Ternyata kau pun sudah gila, dan dari tadi aku berbicara dengan orang gila," ketus Pasha.
"Kau benar tuan Pasha," Bilmar menepuk-nepuk bahu Pasha, di iringi senyum sinis, tidak perlu menunjukan rasa sofan. Menurut Pasha memang ia bukan seorang yang sopan jadi ia bertinggkah seenak dirinya saja.
"Kau saja membenarkan."
"Ya saya memang di didik tidak dengan sopan-santun, orang tua saya memang hanya mencari kekayaan tanpa sempat mendidik saya, dan anda yang paling benar mendidik anak, lihat Anak anda tuan Pasha yang terhormat. Dia menyiksa istrinya sendiri selama menikah, dan dia tega hampir mebunuh anak yang di kandung istrinya, sangat sobat dan beraklak baik kan tuan Pasha, selamat tuan Pasha didikan anda berhasil" jawab Bilmar dengan menyindir Pasha.
"Wajar anak ku melakukan itu, kalau kau pun ada di posisi anak ku mungkin kau juga akan melakukan itu."
__ADS_1
Bilmar mengangkat sebelah alis matanya, ia baru tau ternyata mengapa Brian menjadi seorang yang egois. Ternyata sifat itu di warisi dari sang Ayah Pasha.
"Tidak, bila memang benar aku mencintai seseorang maka aku akan menerimanya, bagaimana pun keadaannya. Dan bila aku tidak mencintai seseorang maka aku tidak ingin orang itu bersama ku, walau pun dia memaksa ku," jabab Bilmar dengan pasti.
"Sama, anak ku juga mencintai Anggia maka dari itu dia tidak akan melepas Anggia." Jelas Pasha dengan menekankan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Cinta itu tidak memaksa dan tidak egois tuan Pasha, begitu pun dengan saya. Saya tidak memaksa Anggia bersama saya dan menerima saya, dia bebas pergi kapan saja setelah dia benar-benar sembuh dari sakitnya. Hanya saja saya tidak mau dia melarang saya untuk bertemu dengan anak saya, setelah anak itu lahir."
"Tapi-" Pasha tidak tau lagi harus berbicara apa, ia baru tau sisi lain dari pebisnis muda itu. Kini ia tau apa alasan Rianda memberikan perusahaan sebesar itu menjadi tangguk jawab Bilmar. Pria yang terbilang cukup muda itu memang tegas dan sangat bertanggung jawab dan Pashq pun mengakui itu.
"Apa ada lagi yang ingin anda sampaikan?" Bilmar bukan orang bodoh, ia sudah menyelesaikan pendidikannya hingga s3 dan ia sudah banyak bertemu dengan orang, karekter dari orang-orang itu semua berbeda-beda dan Bilmar sudah biasa akan hal itu. Termasuk pria tua yang egois bernama Pasha, yang kini berhadapan dengannya.
"Baiklah Bilmar, sepertinya ucapan mu benar tapi kalau nanti kau mengijinkan ku bertemu Anggia, aku ingin kau menghubungiku."
"Tidak dalam waktu dekat ini," jelas Bilmar dengan tegas.
"Aku mengerti dan Anggia berada dengan orang yang tepat," Pasha menepuk pundak Bilmar dan melangkah pergi, tidak ada lagi yang bisa ia katakan. Sekuat apa pun ia berdebat dengan Bilmar, tetap saja kondisinya sangat membuatnya tersudut.
Semua yang di katakan tidak ada yang salah, ia tahu dengan penderitaan Anggia namun hanya diam dengan harapan Brian bisa mencintai Anggia. Namun entah sampaikan Pasha pun tidak tau.
Yang ada hanya penderitaan dan penderitaan saja tidak ada yang lain. Pasha sangat menyayangi Anggia hingga ia berubah egois dan tidak memikirkan ternyata ada korban dari keegoisannya itu.
__ADS_1
***
Tolong VOTE author bener-bener lagi nggak mood nulis, mudah-mudahan saat liat VOTE kalian semangat author kembali lagi. Dan kalau banyak yang VOTE saya grazi up.