
Kini keluarga Rianda sudah berada di rumah keluarga Satria, semua duduk di ruang keluarga. Setelah pembicaraan pribadi antara Rianda, Ratih Satria dan juga Laras, keputusan sudah bulat jika Aran dan Veli di nikahkan malam itu juga.
"Pah, Veli nggak mau nikah sama Aran," kata Veli memeluk kaki Satria yang duduk bersebelahan dengan Rianda.
"Aran kamu mau menikahi anak saya?" tanya Satria tanpa memperdulikan Veli.
"Ya tuan Satria," jawab Aran menatap Veli dengan senyum yang tak di sadari siapa pun.
Veli berlari mendekati Ratih, ia memeluk Ratih dengan cepat. Sebab Veli tau Ratih sangat paham dengan mereka selama ini.
"Mi, Mami taukan kalau Veli nggak ngelakuin papa sama Aran, Mami tau sendirikan gimana kami selalu bertengkar. Tidak mungkinkan Mi kami melakukan itu, atau Veli mau tes saja Mi. Veli bakalan buktiin kalau Veli masih suci," kata Veli.
Ratih memeluk Veli dan mengusap pucuk kepalanya, tak lupa Ratih juga menarik Veli duduk di sampingnya. Sekilas mata Ratih bertemu dengan mata Aran, Ratih tau Aran saat ini sangat berharap ia membatalkan pernikahan ini.
"Mi, kenapa diam, bicara Mi. Bilang sama mereka Veli mohon....hiks....hiks...." Veli menangis dan berharap Ratih berbelas kasih padanya.
Ratih menatap Laras, Laras adalah Mamah dari Veli itu tersenyum pada Ratih, begitu juga dengan Ratih.
"Ayo, kalian harus menikah," kata Ratih.
"Mami......" Veli menggeleng dengan air mata yang terus saja menetes.
"Ma, pemghulu sudah datang," terdengar suara Raka yang baru saja datang, Raka adalah Kakak kandung dari Veli.
"Ya sudah, mari kita ke depan," kata Laras menuntun Veli ikut dengannya ke ruang ramu di mana semuanya sudah di siapkan.
"Aran," Veli mendekati Aran masih dengan berlinang air mata, "Gw nggak mau nikah sama lu, kenapa lu fitnah gw," kesal Veli.
"Veli, jangan permalukan Papah di hadapan tuan Rianda, ubah gaya bicara mu itu. Jangan seperti orang tak berpendidikan!" kata Satria dengan tegas.
"Sudah Pah," Laras mengusap punggung Satria, setelah itu ia membawa Veli keruan tamu, di mana di sana ada penghulu dan beberapa pejabat tinggi perusahaan dan juga beberapa orang penting di wilayah tempat tinggal mereka. Agar tak menjadi fitnah di kalangan masyarakat.
"Ayo duduk," Laras menduduk kan Veli di sebelah Aran, dan memakaikan selendang pada kepala keduanya.
"Bisa kita mulai?" tanya penghulu tersebut.
__ADS_1
"Iya," jawab Satria.
"Tapi saya belum melihat mahar di sini," tutur si penghulu lagi.
Ratih tersenyum dan melepaskan kalung yang ia pakai, tak ada persiapan dengan pernikahan itu bahkan Ratih tak pernah bermimpi jika Aran akan menikah dengan seperti. Namun ia tetap menghargai Veli hingga melepaskan kalungnya yang bernilai cukup pantasti itu.
"Ini maharnya Pak," Ratih meletakan kalungnya di atas meja.
"Mempelai wanita anda bersedia kalung ini menjadi mahar anda?" tanya penghulu itu.
Veli menangis dan menatap semua wajah keluarganya, hingga matanya terakhir menatap Satria sang Papah orang yang paling ia takuti. Veli mengangguk karena memang sang Papah sudah memintanya untuk mengangguk.
"Baiklah," kata si penghulu.
Sejenak Aran diam dan mengingat siapa nama panjang Veli, ia sama sekali tak tau bisa di bayangkan bertapa lucunya calon mempelai pria itu yang tak tau siapa nama panjang mempelai wanitanya. Namun tak lama Aran menjabat tangan Satria.
"Anada Aran Rianda bin Burhansyah saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya Velisya Khumairah binti Satria Putraga dengan mahar tersebut tunai."
"Saya terima nikah dan kawinya Velisya Khumairah binti Satria Putraga dengan mahar tersebut Tunai."
"SAH."
"Alhamdulilah."
Selesai mengucapkan ijab kobul, Veli merasa lemas. Ia berdoa semoga ini hanyalah mimpi buruk.
"Veli," kata Laras ia sadar putrinya kini tengah larut dalam khayalan.
"Ma," kata Veli tersentak dari lamunanya.
"Ayo mempelai pria pakaikan maharnya di leher mempelai wanita," pinta penghulu.
Aran tak bicara sedikit pun ia mengambil kalung itu dan memakaikannya di leher Veli, entah mengapa ada rasa kasihan saat melihat wajah Veli yang di banjiri air mata tanpa henti.
"Veli, kamu kenapa bengong, cium tangan suami kamu," kata Laras lagi.
__ADS_1
Veli diam menatap Aran, ia kembali menatap Satria yang kini tersenyum lembut padanya. Veli merasa sedikit lebih bahagia dengan senyuman itu artinya Satria telah memaafkannya. Ia dengan berat hati mencium punggung tangan Aran.
"Aran dia istri kamu loh, ayo cium keningnya, oh....ya ampun sudah menikah masih malu-malu," kata Ratih menggoda kedua mempelai agar memecahkan segala kecanggungan yang ada.
"Biasa lah jeng, anak muda," kata Laras yang membalas godaan Ratih.
Namun perlahan pandangan Veli gelap, ia merasa tubuhnya melayang hingga perlahan pandangannya benar-benar gelap.
"Veli," Aran dengan cepat menahan tubuh Veli agar tak terjatuh kebelakang.
"Veli," kata semua anggota keluarga terlihat panik.
"Aran bawa Veli ke kamar saja," kata Laras sangat khawar dengan kondisi anaknya.
Setelah sampai di kamar Anggia langsung memeriksa kondisi Veli.
"Anggia.....Veli kenapa Nak?" tanya Ratih.
"Veli kecapean aja Ma, terus dia kayaknya belum makan," kata Anggia yang juga khawatir dengan keadaan sahabatnya.
"Iya, kamu benar, Veli puasa dan sampai saat ini dia belum makan apa-apa," kata Laras naik keranjang dan memegan dahi putrinya yang memang terasa hangat.
"Iya Ma, nanti kalau Veli sadar langsung kasih makan aja," kata Anggia lalu ia mencari obat di lemari Veli yang tertata rapi dan mengambilkannya, karena ia tak bisa menjaga sahabatnya ada baby twins yang menunggunya di rumah apa lagi ia masih masa nifas yang belum di perbolehkan bepergian. Namun karena sahabatnya yang menikah ia harus pergi.
"Ma ini obatnya, Anggi tarok di sini ya, abis makan langsung kasih," kata Anggia meletakannya di atas nakas.
"Iya Nak," kata Laras.
Anggia langsung pulang, bersama Bilmar sedangkan Ratih dan Rianda masih berada di sana menunggu sampai Veli sadarkan diri. Sementara Aran keluar dari kamar itu meninggalkan Ratih dan juga Laras di sana, perasaan bersalah lagi-lagi ia rasakan saat melihat wajah pucat Veli.
"Aran," Satria memanggil Aran.
"Iya tuan," kata Aran, ia juga kini ikut duduk di antara Rianda dan juga Satria.
"Panggil saya Papah seperti Veli, sekarang kamu menantu saya," kata Satria menatap Aran dengan serius.
__ADS_1
"Saya minta maaf tuan....maksud saya Papah, atas perilaku saya yang sudah tidak sopan," kata Aran dengan menundukan kepala, jika biasanya Satria yang menundukan kepala berhadapan dengannya maka kini semua sudah berbalik Aran lah yang lebih menjaga sikap. Walau pun di perusahaan Satria banyak saham milik Aran Rianda.