
"Mas, jalan-jalan yuk," kata Veli sambil menggulung-gulung dasi Aran pada tangannya, dan berharap Aran mau menuruti keinginannya.
"Kemana?" tanya Aran menatap wajah istri mungilnya.
"Ke pantai aja, Veli pengen main ombak," tutur Veli tersenyum pada Aran.
"Boleh, tapi kita nggak tinggal sama Mama dan Papa lagi ya. Kita tinggal di apartement Mas, atau di apartement kamu," kata Aran mengajukan syarat pada istri tercintanya.
"Veli pengen tinggal di rumah sendiri, Veli malas tinggal di ketinggian," jelas Veli.
"Yaudah, sambil kita buat rumah kita aja. Nggak selamanya Khumairah sayang," Aran mengecup kening istrinya penuh cinta, karena ia sudah sangat rindu dengan banyak hal tentang Veli.
"Okeh......" Veli tersenyum dan mengangguk, "Kita ke pantai ya," lanjut Veli tersenyum dan menarik dasi Aran hingga tercekit.
"Sayang, Mas nggak bisa napas," Aran berpura-pura merasa kesakitan, hingga membuat Veli merasa senang karena berhasil membuat sang suami tak bisa melepaskan diri.
"Hehehehe......" benar saja Veli tersenyum bahagia melihat wajah Aran, tercekik, "Jadi pergi nggak," tangan Veli kembali mengencangkan dasi Aran.
"Uhuk.....uhuk....." Aran berpura-pura terbatuk-batuk dan tercekik, "Mas nggak bisa napas," tutur Aran berpura-pura masih tak bisa melawan Veli.
Veli merenggangkan dasi Aran, "Makanya, jangan nakal," Veli memukul tangan Aran yang mulai berkeliaran tak karuan sedari tadi pada bagian tubuh munggil itu.
"Uhuk.....uhuk.....sayang minum," pinta Aran.
Veli mengambil air dalam gelas dan memberikannya pada Aran, dengan cepat Aran mendeguk air itu hingga tandas lalu ia menatap Veli.
"Aduh istri Mas serem banget deh...." Aran mengacak rambut Veli dengan gemas, Veli mendongkak dan tersenyum bangga.
"Ayo," Veli menarik tangan Aran, keduanya memasuki lift kusus petinggi perusahaan dan masuk ke dalam mobil.
"Yakin ke pantai?" tanya Aran ingin memastikan apa yang di katakan Veli sudah benar dan tak ada lagi perubahan.
"Iya dong, Veli mau berjemur pakek bikini juga," kata Veli tersenyum.
"Kalau pakek bikini di rumah aja, kalau ke pantai pakek daster," kesal Aran.
"Ck....." Veli berdecak kesal dengan jawaban sang suami.
"Setuju nggak? Kalau nggak setuju kita nggak jadi kepantai," kata Aran sambil menyalakan mesin mobilnya dan mulai melaju dengan kecepatan sedang.
"Terus kemana dong, kalau nggak kepantai," tanya Veli dengan wajah kusut karena kesal.
"Ke kamar," jawab Aran dengan enteng.
"Yaudah iya ayo......"
__ADS_1
"Kekamar ya," kata Aran menggoda Veli.
"Kepantai lah, kok ke kamar, ngapain coba?" omel Veli dengan mulut komat-kamit, sementara Aran yang melirik sekilas merasa lucu karena istrinya kembali ke mode cerewetnya lagi.
"Bikin penerus Mas lah, mana ada orang di kamar cari undur-undur," Aran tak mau kalah ia menjawab setiap apa yang di katakan Veli. Bukan karena benci tapi karena ia rindu saat-saat mereka bertengkar dulu yang tak memiliki penyelesaian.
"Ck.....Nggak jelas," Veli membuang wajahnya menatap jalanan, dari sebelumnya menatap Aran.
CIIIIIIT........
Aran mengerem mendadak di tengah jalanan tanpa perduli dengan banyak pengemudi di belakang mereka yang kesal.
"Kamu mau yang jelas?" Aran menatap Veli yang juga menatapnya.
"Jalan Mas, ngapain berhenti di tengah jalan!"
TIN.....TIN.....TIN.....
Terdengar suara klakson pengemudi lainnya, dan membuat kemacetan yang cukup panjang.
"Mas jalan."
Aran tersenyum dan menunjuk bibirnya.
"Apaan?" tanya Veli tak mengerti.
"Nggak!"
TIN.....TIN.....TIN.....
"Ck....." Veli berdecak kesal dengan terpaksa ia mengecup bibir Aran.
CUP......
PLAK....
Veli memukul tangan Aran yang malah meremas sesuatu gundukannya.
"Heheheheee," Aran terkekeh melihat wajah kesal sang istri.
TIN......TIN......TIN......
"Ayo jalan," pinta Veli.
"Iya sayang," Aran tersenyum dan kembali melajukan mobilnya.
__ADS_1
Setelah sepuluh menit kemudian Aran mengemudi ia melihat ke samping di mana Veli di sana.
"Pantas sepi, ternyata tidur," Aran tersenyum menatap wajah Veli yang terasa tenang saat sedang tertidur.
Aran memutar balik kendaraanya membawa Veli menuju apartement, mengurungkan niatnya menuju pantai seperti permintaan Veli. Lagi pula cuaca mendung dan hujan gerimis mulai turun, ia tak mau istrinya sampai sakit karena terkena hujan. Kini Aran sampai di apartement, ia mengangkat Veli menuju lift dan beberapa saat kemudian mereka sampai.
TING......
Aran keluar dari lift dan masuk ke apartement milik Veli, dengan perlahan ia membaringkan tubuh istrinya di ranjang. Setelah itu Aran melepas jas yang melekat di tubunya dan melempar asal, bersamaan dengan dasi juga.
"Nyamannya," gumam Aran ia naik keranjang dan memeluk Veli hingga ia juga terlelap.
Beberapa saat kemudian Veli terjaga, ia melihat sekitarnya semua bernuasa putih sesuai dengan warna kesukaan Veli warna putih. Jelas saja ia mengenali ruangan itu, kini mereka berada di apartement miliknya.
"Mas....." Veli menggoyang-goyangkan tubuh Aran, "Mas...." Veli masih berusaha membangunkan Aran.
"Em," jawab Aran sebelum akhirnya ia membuka mata dan menatap Veli.
"Mas kenapa kita nggak ke pantai?"
"Kamu nya tidur, gimana mau kepantai," tanya Aran sambil perlahan merangkak naik keatas tubuh Veli.
"Mas ngapain," kesal Veli sebab Aran bukan membawanya ke pantai tapi ke ranjang.
"Mau tidurin kamu lah, ngapain lagi," jawab Aran tanpa perduli Veli yang memandangnnya kesal, "Ibadah Khumairah sayang," lanjutnya lagi menaik turunkan kedua alis matanya.
"Ibadah, sekalian modus!"
"Biar masuk surga sayang ku, nggak boleh marah. Harus iklas," kata Aran perlahan memulai aksinya.
"Bukan masuk surga, tapi......" Veli tak berani melanjutkan ucapnnya, karena akan merugikan dirinya sendiri nantinya.
"Tapi di masuk?" kata Aran menaik turunkan alis matanya.
"Berubah Mas, sadar....." seloroh Veli.
"Ok....sebentar Mas berubah dulu," Aran turun dari ranjang dan membuka pakaiannya yang masih melekat di tubuhnya, kemudian kembali mendekati Veli, "Staraaaaaa......" teriak Aran sambil menarik Veli kembali keranjang.
"Mas....." Veli tersentak dengan ke konyolan Aran, ia benar-benar tak menyangka jika ternyata Aran sekonyol itu, "Ini berubah jadi orang gila? Maksud Veli berubah jadi orang nggak mesum," lanjut Veli dengan terus tertawa lebar, sebab Aran malah berubah dengan tanpa pakaian dan hanya tinggal CD saja menutupi bagian utamanya.
"Yang penting berubah sayang ku."
Aran mulai bermain dan melakukan sesuatu yang ia impikan selama beberapa hari ini, tangannya tak lagi terkondisikan karena sudah entah di mana. Veli pun tidak menolak, ia sangat menikmati apa yang di berikan Aran padanya, bahkan mulutnya mulai merancau tak jelas menikmati kenikmatan itu.
Sentuhan Aran seakan membuatnya melayang membawanya kedunia lain, hingga terbuai akan indahnya cinta yang menyatu dalam jiwa yang teduh dalam penuh damba keringat dan suara desahan manja tanpa bisa di tahan lagi meluncur bebas dari mulut sang istri.
__ADS_1
***
Jangan lupa Like, VOTE, komen dan sampai jumpa lagi esok hari. Author recehan sayang kalian, kalian baik sekali udah kasih VOTE, semoga ALLAH nanti membalas kebaikan kalian, AMIN. Tanpa kalian saya bukan siapa-siapa.