
"Cepat brengsek!" Bilmar tidak sanggup lagi menahan kemarahannya.
"Aku tidak sudi, dan tidak akan rela melepaskan Anggia."
"Aku tidak mau tau, kau harus bercerai dengannya sesegera mungkin."
"Jangan mimpi."
BUUUUKK.
BUUUUKK.
"Mau lagi!" tanya Bilmar.
BUUUKK.
BUUUKK.
"Baik aku akan menandatangani berkas ini, tapi setelah ini kau harus melepaskan aku."
"Bagus!"
"Uhuk,uhuk." Brian terbatuk-batuk saat ia berusaha mendudukan tubuh lemahnya.
"Cepat!."
Dengan berat hati Brian menandatanggani berkas perceraian itu, dan melempar berkas itu ke hadapan Bilmar. Bilmar mengambilnya, bibirnya tersenyum setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Bagus," Bilmar tersenyum penuh kemenangan pada Brian.
"Sekarang lepaskan aku," Brian mulai menagih janjinya pada Bilmar.
"Aku akan melepaskan mu, bahkan cek sebesar 10m pun kau dapatkan, aku tidak akan sudi bila anak ku lahir dari rahim wanita yang selalu kau rendahkan. Maka dari itu aku akan terus berusaha membuat kau mengerti bertapa berharganya ibu dari anak ku itu. Namun hukum tetap berjalan."
"Hukum? Apa maksud mu?" Brian tertunduk memikirkan ucapan Bilmar barusan.
"Kau harus merasaka dinginnya jeruji besi," kata Bilmar memperjelas ucapannya.
"Tapi kau sudah berjadi melepaskan aku, setelah aku menandatangani berkas perceraian ku itu," kesal Brian tampaknya Bilmar sedang mempermainkannya.
"Aku akan melepaskan mu itu benar. Tapi apa polisi akan melepaskan mu? Tentu saja tidak." jawab Bilmar enteng.
"Maksud mu kau akan meyerahkan aku pada polisi." teriak Brian.
"Bagus, ternyata kau cukup pintar juga."
"Tadi perjanjiannya tidak begitu."
"Aku tidak pernah membuat perjanjian dengan mu, lagi pula kau tidak penting bagi ku."
Ucap Bilmar duduk santai di kursi melihat bertapa lemahnya Brian saat ini.
"Brengsek kau, kau memang brengsek!"
"Biar ku tunjukan pada mu seberapa brengseknya aku."
__ADS_1
Bilmar bangun dari duduknya dan mengambil cambuk yang di pegang seorang pengawal yang berdiri tidak jauh darinya.
"Kau mau apa?" Brian mulai berjalan mundur saat melihat Bilmar mendekat padanya dengan memegang cambuk di tangannya.
"Aku hanya ingin kau tahu, bagaimana ibu dari anak ku itu menahan sakit di malam kau hampir menghabisi anak ku."
Brian mendeguk saliva dan terus berusaha menjauh dari Bilmar.
SREKKK.
"Aa," Brian memegang lengannya yang terkena serangan Bilmar.
SREKKK.
"Aa," kali ini lengan yang satunya menjadi sasaran Bilmar.
"Bagaimana rasanya, tapi aku rasa itu belum seberapa."
SREKKK.
SREKKK.
"Cukup Bilmar ini sakit sekali." tutur Brian dengan nada memohon tersungkur di bawah kaki Bilmar.
"Itu belum seberapa, sakit ini tidak seberapa dengan sakit yang selama ini kau berikan pada Anggia," Bilmar menarik kerah kemeja Brian dan membawanya berdiri berhadapan dengannya.
"Cukup Bilmar," tutur Brian entah itu benar dari hatinya atau hanya untuk Bilmar kasihani lalu ia bisa bebas, tapi tampaknya Bilmar bukan kasihan tapi malah semakin marah. Tidak mudah percaya pada Brian, bagi Bilmar itu hanya omong kosong.
"Itu belum cukup dengan perbuatan mu pada Anggia."
BUUUKKK.
"Tapi sekarang kau sudah bersamanya, bahkan aku sudah bercerai darinya, lalu apa lagi." Kesal Brian, bertapa kesalnya ia mengingat saat memberi tandatangan itu. Baru kali ini Brian kalah dengan seseorang.
SREEEKK.
"Cukup Bilmar."
"Kau tahu itu tidak aka pernah cukup atas perbuatan mu itu, kini Anggia menderita depresi, dia menjadi gila karena kau selalu menyiksanya."
Sejenak Bilmar diam dan mengingat wajah menderita Anggia, dengan depresi yang kini di derita wanita itu. Seakan menjadi cambukan keras pada tubuh Bilmar dan membuatnya semakin meluapkan emosinya pada Brian.
SREEEKK.
"Aaa."
"Karena kau Anggia sekarang gila." tutur Bilmar dengan mata perapi-api.
"Ap-apa Anggia, gila?" Brian tidak bisa menahan shock saat mengetahui kini kabar Anggia.
"Iya, dan itu karena kau."
Brian diam dengan wajah pucat dan shock yang masih menyelimuti hatinya. Dengan bayangan wajah Anggia saat menangis, memohon padanya kini mulai menari-nari kembali lagi di otaknya. Brian tidak percaya ternyata ia terlalu membuat Anggia menderita.
"Kau pasti berbohong." Brian terus meyakinkan dirinya bila Bilmar saat ini tengah menipunya.
__ADS_1
"Kau pikir aku pembohong seperti mu!"
SREEKK.
"Aa."
"Kau pun akan ku buat gila, agar kau tau seberapa menderitanya Anggia."
"Aran bawa dia ke kantor polisi, biarkan dia merasakan penderitaan di sana." terdengar suara bariton itu mulai menggelegar di ruangan yang pengap itu.
"Tidak-tidak aku mohon jangan."
Bilmar mendekati Brian dan berjongkok di hadapan Brian, tangannya mulai mencengkram dagu Brian dengan kencang.
"Kau harus tau rasanya menderita itu seperti apa?" ucap Bilmar sambil kembali menghempaskan tubuh lemah Brian.
"Aran bawa bajingan ini dan pastikan semuanya bersih." Perintah Bilmar pada Aran.
"Okey, bos."
"Bilmar jangan kau bisa merusak nama perusahaan ku."
Brian mengingat perusahaannya akan menjadi taruhannya, bila ia di tahan di balik jeruji besi.
"Itu bukan urusan ku."
"Brengsek lepas!" Brian berusaha melepaskan diri dari Aran yang menyeret tuhuh Brian dengan paksa bersama pengawalnya.
"Diam!" bentak Aran.
"Bawa dia ke mobil dan kita ke kantor polisi," perintah Aran pada pengawalnya.
"Baik bos."
"Kurang ajar."
BUUKKK.
Salah satu pengawal bertubuh besar menendang dada Aran karena sudah berani mencakarnya.
Bilmar hanya duduk menjadi penonton setia melihat kondisi Brian, karena tujuan Bilmar ia ingin membuat Brian ikut gila.
"Hey kau tidak boleh melakukan ini pada ku."
"Oh ya?" Bilmar tersenyum remeh pada Brian.
"Aku akan membalas ini semua, dan kalau aku tidak bisa bersama Anggia maka tidak ada yang boleh bersamanya, termasuk kau!.
Brian menatap tajam Bilmar dengan rasa benci yang menggebu-gebu saat Bilmar menipunya habis-habisan. Brian berpikir setelah ia menanda tangani berkas itu perkara sesai. Dan bisa bebas nanti perlahan ia akan menyusun rencana agar Bilmar juga merasakan apa yang ia rasakan. Namun tampaknya Brian tidak tau seberala liciknya Bilmar, seberapa besar jiwa iblis Bilmar, hingga ia terlalu memandang remeh Bilmar.
"Aram cepat bawa bajingan ini."
"Tidak, kalau kalian berani, aku pastikan kalian akan menyesal setelah ini." Brian yang sudah tidak berdaya masih bisa-bisanya mengancam pengawal Bilmar.
Tidak akan ada yang berani berhianat pada Bilmar, mereka tahu seperti apa jiwa iblis Bilmar. Bilmar tidak akan membiarkan penghiata hidup dan semua pengawalnya tidak ingin hidup dalam ancaman atau pun berakhir di tangan Bilmar.
__ADS_1
****
Mulai hari ini Author up, tergantung Vote. Jadi intinya kalau kalian nggak Vote Author tidak semangat menulis dan Author lebih milih bobo cantik. Terimakasih readers yang bermurah hati sudah kasih Vote😗.