
Anggia malam ini tidak bisa tidur fokusnya hanya pada ucapan Hardy yang mengharuskannya menikah dengan Bilmar. Veli yang berbaring di samping Anggia bisa melihat sang sahabat sedang merasa tidak tenang.
"Anggi lu napa sih, kasak kusuk nggak jelas gini?" tanya Veli.
"Aku nggak yakin tau Vel, apa ia aku nikah lagi," Anggia mengatakan kecemasannya pada Veli yang juga berbaring di sampingnya.
"Udah lah santai aja lu kan, dah tau gimana si tuan Bilmar itu masak lu masih ragu sih," Veli berusaha meyakinkan sahabatnya itu agar tak merasa gundah.
"Tapi aku baru cerai dua bulan Vel, masak ia aku udah nikah lagi," Anggia memijat tengkuknya perasaannya saat ini sangat tidak nyaman sekali.
"Udah lah, santai aja masak lu nggak bisa rasain, gimana tuan Bilmar sayangnya ke lu."
"Emang tuan Bilmar beneran sayang ya ama aku?" pertanyanyan konyol itu keluar lagi dari bibir Anggia, bahkan Anggia mendudukan dirinya bersila di ranjang.
"Bego!" Veli penepuk jidat Anggia.
"Sakit setan!" teriak Anggia.
"Lu buta apa gimana sih? Lu nggak liat apa gimana tuan Bilmar memperlakukan lu selama ini?"
"Tau lah pusing aku, kita cari makan aja yuk, aku laper banget deh," Anggia merasa memikirkan hari esok pun tidak akan merubah keputusan apa-apa, ia lebih memilih mengisi perut laparnya saat ini.
"Ok," Veli turun dari ranjang begitu juga dengan Anggia.
Kini keduanya sudah berada di dapur Veli membuka kulkas mencari makanan yang ada di sana.
"Ada pancake ni Ngi mau nggak?" Veli meletakannya di atas meja sementara Anggia duduk di kursi meja makan.
"Ada yang lain nggak, aku pengen yang anget-anget ada kuahnya gitu, bakso enak kali ya," Anggia membayangkan bertapa enaknya makanan itu saat ini.
"Ya udah kita pesan aja," Veli ikut duduk di kursi meja makan dan mengambil ponsel miliknya dari kantung piamanya.
"Masih lama nggak sih Vel?" Anggia menelungkupkan kepala pada meja, tangannya mengetuk-ngetuk meja makan karena kesal menunggu hampir lima belas menit bakso pesanannya belum juga datang.
"Dari pada lu bosan, mending lu liat gw, gw kasih hiburan ni liat," Veli menarik kursi agak jauh dari meja makan dan Anggia, lalu ia naik berdiri di atas kursi itu.
"Vel lu mau ngapain?" Anggia tau sahabatnya memang pecicilan tapi untuk panjat kursi seperti ini baru pertama kalinya Anggia melihat.
"Santuy, gw lagi nyari pahala dengan cara menghibur bumil," Veli tersenyum bangga.
"Ya tapi," Anggia bingung dan hanya menoton pertunjukan yang akan segera di berikan Veli.
__ADS_1
"Saya masih ting-ting, di jamin masih ting-ting pacaran pun belom dan nggak ada yang mau...." teriak Veli sambil bergoyang ala-ala goyangan sekarang yang sedang ngetren.
"Mffp," Anggia menutup mulut dengan kedua telapak tangannya menahan ketawa yang sulit di tahan.
"Asek," teriak Veli, ia terus mengulang-ulang goyangannya sampai beberapa kali, hingga tanpa Veli sadari di belakannya ada Aran yang melipat tangan di dada sambil memperhatikan Veli yang terus bergoyang.
"Veli udah ah," Anggia takut Veli malu ia tau Aran melihat Veli yang sedang begoyang dengan alaynya di atas kursi.
"Belom lah, gw mau tukar lagu," kata Veli memutar musik di ponselnya dan ia mengikuti lagi tersebut.
Anggia hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan konyol sang sahabat yang selalu bertingkah sesuka hatinya, Anggia memilih diam dan menunggu bagaimana nanti reaksi Veli saat tau Aran menjadi penonton juga di sana.
"Kala ku pandang kelap kelip bintang yang jauh di sana, asek terek mang," Teriak Veli tak jelas sambil bergoyang dengan lincahnya, sampai akhirnya gerakan Veli memutar dan matanya menatap Aran yang menatapnya dengan wajah datar, "Brengsek," gumam Veli lalu ia menatap Anggia yang juga menatapnya.
"Kenapa?' tanya Anggia ia tau Veli sedang kesal padanya.
"Lu kok nggak bilang ada Aran gila di sini," jengkel Veli.
Aran berjalan mendekati Veli dan ia berdiri di dekat kursi yang masih Veli berdiri di sana.
"Kamu bilang saya apa?" tanya Aran.
"Kamu bilang saya gila?"
"Itu lu denger ngapain nanyak lagi, dasar bego!" teriak Veli.
Aran kesal dan ia menggerakan kursi membuat Veli hampir terjatuh dengan reflek ia melompat, tapi bukan melompat kelantai melainkan ke tubuh Aran dengan tangannya yang melingkar di tengkuk Aran. Veli bahkan seperti anak kecil yang di gendong Aran.
"Ngapai kamu peluk saya," tanya Aran.
"Kurang ajar, lu pasti mau cari kesempatan kan!" teriak Veli sambil turun dari gendongan Aran.
"Kamu bilang saya cari kesempatan? Tapi kamu yang peluk saya, lucu sekali," Aran mengejek Veli.
"Terus ngapai lu goyangin kursi itu tadi," Veli berkacak pinggang di hadapan Aran dan membusungkan dada seakan ia sedang benar-benar marah.
"Heh, kamu udah jelek masih belagu ya?" Aran juga kesal pada Veli yang bertingkah gesrek.
"Saya cantik ya, lu nggak tau apa mantan gw banyak, bahkan banyak yang ngantri di belakang sana buat bisa pacaran sama gw," teriak Veli tak terima.
Anggia lebih memilih masuk kamar, sebab kesal dengan dua manusia di hadapannya yang tak pernah bisa akur.
__ADS_1
"Emang ia kamu punya mantan?" Aran meremehkan Veli.
"Ada banyak!" ketus Veli
"Kenapa mereka putus sama lu?" tanya Aran.
"Karena gw putusin," jawab Veli bangga.
"Salah, karena mereka trauma dan menyesal pacaran sama cewek pencicilan kayak lu," jawab Aran tepat di wajah Veli.
"Wah-wah lu bener-bener ya," Veli mengeluarkan jurus karate yang selama ini ia pelajari, dan mulai memasang kuda-kuda seolah Aran adalah musuh yang harus ia hadapi. Dengan bergerak kekanan dan kiri tidak jelas Veli langsung menyerang Aran dengan cepat ia memelintir tangan Aran kebelakang.
"Udah segitu aja?" Tanya Aran santai padahal tangannya sudah di pelintir oleh Veli.
"Alah nggak udah sok, ini aja lu ngga bisa lepasin?" Veli menunjukan kesombongannya.
Ini cewek menantang banget mayan lah buat teman latihan tinju.
Aran tersenyum dan memutar tangannya, dengan gerakan cepat malah Veli yang di peluk Aran dari berakang, kedua tangan Veli berada si belakan tubuhnya.
"Gimana?" tanya Aran tanpa melepas Veli.
TAP TAP TAP.
Terdengar suara langkah kaki seseorang dan ternyata itu Ratih.
"Hey kalian sedang apa, aduh jangan begini kalau sudah tidak tahan kalian juga besok menikah saja, setelah Anggi dan Bilmar akad nikah," Ratih menutup mata merasa kaget.
Veli dan Aran terkejut mendengar perkataan Ratih, Aran dengan cepat melepaskan Veli.
"Nggak Mi, Aran alergi nikah sama cewek pecicilan kayak ini," kata Aran.
"Heh, lu pikir gw juga mau sama lu, amit-amit biar di sambar geledek juga gw ogah," teriak Veli.
DUUUARRR.
Terdengar suara petir yang menggelegar, Veli reflek memeluk Aran yang berdiri di depannya karena kaget.
"Heh, lepas ngapain lu meluk gw, entar lu nyaman lagi," kata Aran sambil berlalu pergi
"Ish," Veli kesal, ia meremas ujung bajunya dan meremas-remas jari sambil melangkah masuk kembali kekamar Anggia, "Aran gila sialan," gumam Veli.
__ADS_1