
"Mas, ke kasir yuk. Veli dah selesai," kata Veli.
"Hemmmm," jawab Aran yang mulai mendorong troli, ia masih kesal karena karyawan barusan benar-benar merusak suasana hatinya.
"Mas," Veli menadahkan tangan pada Aran.
"Apa?" tanya Aran bingung.
"Ish....." Veli memutar bola matanya dengan malas, "Mas, kenapasih? Dari tadi bengong mulu," kesal Veli melihat Aran tak pernah fokus, "ini belanjaan Veli bayarin," kata Veli lagi.
"Kenapa Mas yang bayar?" tanya Aran yang hendak menggoda Veli.
Mata Veli menatap seorang karyawan laki-laki, "Mas mau jadi suami saya?" tanya Veli.
"Suami?" tanya karyawan tersebut dengan senyuman.
"Iya, kalau Mas nya mau. Mas harus bayarin belanjaan saya, besok kita nikah," tutur Veli.
Aran kesal mendengar perkataan Veli, "Heh pergi sana," kata Aran mengusir karyawan laki-laki yang di panggil Veli barusan, lalu ia menatap Veli, "Kamu kalau ngomong jangan asal," kesal Aran pada Veli sambil mengambil dopetnya dan mengeluarkan credit card.
"Yeeeee.....marah, kewajiban suami menafkahi istri lahir dan batin ya Mas. Veli cuman memperingati Mas aja, jangan lalai," ucap Veli.
Aran yang mendengar perkataan Veli kini tersenyum, "Iya, Mas ngerti makasih udah ingatin. Nafkah batinnya entar di rumah ya," kata Aran menatap Veli dengan menaik turunkan kedua alis matanya.
"Ehhh....." Veli baru sadar dengan ucapannya, "Maksud Veli nggak gitu Mas," Veli kesal sendiri atas apa yang sudah ia katakan.
"Udah, nanti di rumah kamu harus di kasih nafkah batin juga," kata Aran kembali mengingatkan Veli.
"Mbak, bayarnya pakek card saya aja," Veli berniat mengambil credit card nya dan membayar sendiri belanjaanya, namun dengan cepat Aran memeluk Veli dengan sebelah tangannya. Agar ia saja yang membayar semua belanjaan milik Veli.
"Ini Mbak," karyawan tersebut memberikan barang belanjaan Veli dan Aran menerimanya dengan card miliknya.
"Yuk pulang," Aran tak melepaskan Veli yang masih ia peluk sambil melangkah keluar.
__ADS_1
"Mas, Veli bayar sendiri aja," kata Veli sambil terus berusaha melepaskan diri.
"Udah Mas bayar Khumairah," jawab Aran sambil membuka pintu mobil dan meminta Veli masuk, "Duduk manis ya cantik," kata Aran lagi.
Di rumah.
Aran dan Veli kini sampai di rumah, Satria dan Laras sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi.
"Veli, tadi temen kamu datang. Namanya Kevil, katanya dia baru balik dari luar negeri dan dia nitip oleh-oleh buat Kamu, Mama sudah letakan di kamar kamu," kata Laras.
"Iya Ma, Veli ke kamar dulu ya Ma," pamit Veli bersama Aran, keduanya masuk ke kamar. Aran langsung mengambil paperback yang ada di atas meja, tanpa melihat ia langsung membuangnya.
"Mas, kenapa di buang itu punya Veli," Veli berusaha mengambil paperback itu namun Aran memegang lengan Veli.
"Buang aja, nanti kita ke luar negeri dan kamu bebas mau beli apa," kata Aran sambil berusaha menarik Veli dan memeluknya.
"Tapi Mas, Kevin udah jauh-jauh bawain buat Veli. Veli juga penasaran isinya apa," kata Veli kembali berusaha mejangkau paperback itu.
Veli diam mendengar panggilan Aran yang terdengar begitu mesra, ia mengangguk dan tak lagi mencoba mengambil paperback yang Aran buang.
"Mas, nggak lagi demam kan?" Veli memegang dahi Aran dengan sedikit berjijit karena Aran lebih tinggi darinya, namun sayang dalam sekejab Veli merasa tubuhnya melayang dan hingga ia tersadar ia sudah di atas ranjang. Bahkan ada Aran di sampingnya.
"Khumairah sayang, Mas cinta sama kamu," ucap Aran berkabut gairah.
Veli seperti manusia tak berakal, ia mendadak diam mematung saat mendengar perkataan manis Aran. Dalam sekejap Aran menindih tubuh Veli, dan mulai meraup bibir merah sang istri yang sedari tadi ia tahan. Tangan Aran sudah tak terkondisikan lagi, meraba dan meremas di bagian tertentu itu.
"Ssssssttt.....Mas....ahhhhh," Veli mendesah merancau tak jelas merasakan tangan kekar Aran menggerogoti tubuhnya.
"Sayang," Aran sudah berkabut gairah menikmati apa yang kini ada di bawah kungkungannya.
Veli tersadar dengan apa yang tengah mereka lakukan, ia berusaha bangun.
"Mas jangan," kata Veli sambil tangannya berusaha menjauhkan Aran darinya.
__ADS_1
"Kenapa? Bukan kah ini sudah menjadi hak Mas untuk mendapatkannya?" tanya Aran yang masih berkabut gairah.
"Mas.....Veli lagi datang tamu bulanan, tadi pas di cafe Veli tau pas di toilet, makanya Veli minta berhenti di supermarket buat beli pembalut," jelas Veli.
"Veli kamu nggak nipu Mas kan?" tanya Aran tanpa berniat melepaskan Veli.
"Veli serius Mas," kata Veli berusaha meyakinkan Aran. Sementara Aran masih diam menatap Veli penuh tanya, "Veli nggak boong Mas," kata Veli, lagi-lagi ia berusaha meyakinkan Aran jika ia tak berbohong, "Veli janji, selesai datang tamu bulanannya Mas boleh ambil hak Mas," kata Veli dengan suara yang pelan karena ia pun sangat malu mengatakan itu.
Dengan berat hati Aran bangun dari atas tubuh Veli, begitu juga dengan Veli yang bangun sambil merapikan dress nya yang sudah acak-acakan karena Aran. Dengan gerakan cepat Veli mengambil piama tidur dan mengambil pembalut yang tadi ia beli dan membawa ke kamar mandi. Aran hanya bisa mendeguk saliva karena menahan nya lagi, akhirnya ia mengganti bajunya juga yang masih berada di dalam koper yang barusan di bawakan Ratih.
Beberapa saat kemudian Veli keluar dari kamar mandi, ia sangat malu mengingat apa yang tadi di lakukan Aran padanya sebab ia pun menerima sentuhan Aran yang terasa begitu indah.
"Yuk tidur," Aran menarik Veli tidur bersamanya di ranjang.
"Tapi Mas," Veli sangat malu dan ia tak berani tidur dengan Aran.
"Veli," Aran menatap Veli dengan serius.
"Iya udah," dengan berat hati ia ikut naik keranjang dengan tidur bersebelahan dengan Aran.
Dengan cepat Aran menariknya dalam pelukannya, menjadikan lengan Aran sebagai bantal Veli. Veli menutup mata untuk pertama kalinya ia tidur satu ranjang, satu selimut bahkan posisi mereka sangat tak berjarak walau satu senti pun.
"Mas sayang sama kamu," kata Aran mengecup kening Veli, "Kita tidur ya," kata Aran sambil berusaha tetap menguasai diri.
"Mas, gerah banget. Veli tidurnya nggak usah di peluk ya," pinta Veli dengan suara pelan agar Aran tak tersinggung.
"Kalau gerah nggak usah pakek piamanya, di buka aja," jawab Aran santai.
Veli hanya menarik napas dengan panjang mendengar perkataan Aran, akhirnya ia mencoba tidur dengan lelap di pelukan Aran. Veli sesekali melebarkan mata karena Aran menekankan benda keras seperti kayu pada pahanya dan ia bukanlah wanita tabu dalam hal itu.
***
Yang minta Episode mp Aran dan Veli mohon bersabar, jangan sampai membatalkan puasa ya. Besok malam Author kasih bonus mp Aran dan Veli. Ya. Semoga banyak yang VOTE biar Author semangat.
__ADS_1