Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 45


__ADS_3

Ratih tersenyum dan berjalan mendekati Anggia, dengan tangganya mengangkat dagu Anggia, sebab wajahnya tertunduk merasa ragu dengan permintaannya. Anggia tahu diri ia hanya orang asing yang menumpang di rumah Bilmar, itu pun karena janinnya. Anggia juga berniat pergi setelah keadaanya sudah lebih baik, lagi pula ia memiliki cafe yang bisa mencukupi kebutuhannya dengan sang anak.


"Anggia, kamu mau Bilmar yang buat?" tanya Ratih lagi dengan senyum yang tulus, bagai senyum seorang ibu pada anaknya.


"Ia Mi," jawab Anggia dengan senyum kecut, dengan perasaan yang cemas. Bagaimana bisa ia meminta sesuatu pada orang lain.


"Ya sudah, Mami bilang dulu sama Bilmar ya," Ratih melepas tangannya yang memegang dagu Anggia lalu berjalan keluar menemui Bilmar yang masih sarapan pagi di meja makan, berdua saja dengan suaminya.


"Permintaan aku konyol banget," Anggia mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, mengingat keinginan yang konyolnya. Anggia mengigit kukunya membayangkan jika Bilmar menolak mengabulkan keinginanya.


Sementara Ratih kini sudah kembali duduk di meja makan, bergabung kembali dengan suami dan anak kesayangannya. Yang sedari tadi hanya tinggal berdua ketika ia dan Veli menyusul Anggia.


"Bil," Ratih yang kembali melanjutkan sarapan mulai memangil sang anak yang juga masih mengunyah sarapan dengan sangat lahap, bahkan Bilmar seperti wanita hamil yang selalu merasakan lapar. Sarapan pagi saja Bilmar sudah dua kali tambah apa lagi kalau makan siang dan malam. Tampaknya perut sick pack nya bisa berubah jadi buncit.


"Ya Mi," jawab Bilmar sambil terus mengunyah makanan yang ada di hadapannya, bahkan dengan lahap dan tanpa melihat Ratih yang mengajaknya berbicara.


Ratih melirik suaminya, yang juga ternyata melihatnya. Keduanya tersenyum melihat Bilmar makan yang begitu banyak, tanpa jeda sedikit pun. Mulut sang anak selalu saja mengunyah.


"Papi ingat nggak?" tanya Ratih sambil menunjuk Bilmar, yang duduk di hadapan keduanya.


"Iya Mi," Rianda juga mengingat saat Ratih hamil ia selalu ingin makan seperti orang kelaparan. Sepertinya Bilmar juga mengalami apa yang ia alami dulu, walau pun Bilamr dan Anggia bukan pasanga suami istri namun tetap saja kehamilan Anggia berpengaruh pada Bilmar, ikatan ayah dan anak menang tidak bisa di putuskan.


"Bil, Anggia minta di buatin bakso bakar sama kamu," Ratih menyampaikan keinginan Anggia.


Bilmar yang sudah selesai sarapan mulai menatap sang Mami, dengan perasaan yang sedikit terkejut.


"Bilmar kan ngga bisa masak Mi," Bilmar mengatakan apa yang memang menjadi kekurangannya. Bilmar tidak menolak hanya saja ia tidak tau cara memasak.


"Belajar dong Bil," ketus Ratih dengan kesal mendengar jawaban sang anak.


"Ya gimana caranya Mi," Bilmar bingung apa lagi memasak bakso bakar.

__ADS_1


"Usaha dong."


"Nanti Bilmar minta pak Nan aja yang buatin, yang rasanya udah terjamin enak," jawab Bilmar enteng, namun mendapat tatapan tajam dari Ratih.


"Kamu itu cuman bisanya buat anak tapi kalau sudah begini nggak tanggung jawab," kesal Ratih, wanita cerewet itu memang kalau bicara sama sekali tidak pernah manis bila sang anak membuatnya kesal.


"Mami kok ngomong tanggung jawab, Bilmar kan mau nikahin Anggia, tapi dia nggak mau dari dulu. Terus Bilmar juga ngeluarin uang buat Anggia dan anak yang ada di kandungannya."


"Pi, Mami kok nggak yakin ya Bilmar ini anak kita," kata Ratih pada Rianda.


"Iya Papi juga ragu Mi," jawab Rianda yang mengikuti permainan Ratih.


"Mami sama Papi ngomong apa sih," Bilmar kesal mendengar ucapan kedua orang tuanya.


"Keluarga Papi dan Mami nggak ada yang senekat kamu Bil. Udah hamilin istri orang sekarang dia ngidam minta kamu masakin, bukannya kamu usaha tapi malah entengnya nolak, hidup nggak cukup dengan uang Bil," kata Rianda ia mengingat dulu ia juga tidak bisa memasak, namun ia tetap berusaha demi permintaan sang istri yang tengah mengandung Bilmar.


"Pi apa kita tes DNA aja ya jangan-jangan anak kita ketuker dulu pas di rumah sakit."


"Atau jangan-jangan Mami ada main sama laki-laki lain," seloroh Rianda.


"Tapi kayaknya kita harus tes DNA Mi, Papi jadi ragu juga. Kenapa bisa kita punya anak segila dia." Rianda menunjuk wajah Bilmar yang sedang kesal pada kedua orang tuanya itu.


"Dasar orang tua durhaka," ketus Bilmar.


"Berani kamu ya," kata Rianda menatap tajam Bilmar.


"Ya nggak Pi, nanti Bilmar belajar sama pak Nan buat bakso bakarnya," jawab Bilmar dengan cepat.


"Gitu dong," Ratih tersenyum kalau pun rasa tidak enak paling tida Bilmar mau usaha.


"Bilmar liat Anggia ke atas dulu ya Mi," pamit Bilmar meninggalkan meja makan menuju kamar Anggia.

__ADS_1


Bilmar melihat pintu kamar Anggia yang tidak tertutup rapat, dengan perlahan ia membuka pintu dan melihat Anggia sedang berbaring dengan memunggunginya.


"Anggia," Bilmar kini berdiri tidak jauh dari Anggia yang memunggunginya.


"Ya tuan," Anggia dengan cepat mendudukan tubuhnya dan mengusap kasar air mata yang dari tadi mengalir, ia ingin marah tapi pada siapa ia ingin Bilmar membuatkannya bakso bakar sekarang juga. Tapi ia tidak tau bagaimana cara mengatakannya, akhirnya ia hanya bisa menagis dengan menahan keinginannya.


"Kamu nangis," tanya Bilmar yang ikut duduk di sisi ranjang Anggia.


"Nggak tuan cuman kelilipan saja," bohong Anggia.


Bilmar tahu Anggia berbohong, tapi ia mengangguk berpura-pura percaya.


"Saya harus ke kantor ada rapat, tapi nggak lama cuman satu jam, setelah itu saya buatkan bakso bakarnya ya," kata Bilmar.


"Iya tuan," jawab Anggia.


"Saya pamit."


"Iya tuan," jawab Anggia dengan mata yang berkaca-kaca.


Bilmar pergi dari kamar itu membuat air mata Anggia benar-benar menetes, ia kembali berbaring dengan perasaan sedih.


"Hiks, hiks," Anggia mengusap kasar air mata menahan keinginannya.


Bilmar tidak tau dengan sikap ibu hamil seperti apa dan ia pikir dengan menunda satu jam saja tidak masalah rasanya.


Namun Anggia menginginkan saat ini juga, tapi tidak berani harus mengatakannya bagaimana. Ia hanya orang lain di rumah itu Anggia kembali lagi menganggap dirinya hidup sendiri tanpa siapa-siapa.


Apalagi saat ini Veli tidak ada bersamanya, rasa sepinya kini sempurna sudah. Hidup sebatangkara kini kembali ia rasakan tinggal bersama orang asing. Dengan menyimpan semua keinginan. Hanya bisa menahan dan menahan tanpa berani perotes dan marah.


Ia pun bingung mengapa harus masakan buatan Bilmar, mungkin bila masakan buatan yang lain pasti sekarang sudah tersaji di hadapnnya. Anggia membaringkan tubuhnya dengan rasa lapar dan berharap di mimpi keinginannya terkabul sambil menunggu Bilmar datang membawakan keinginanya.

__ADS_1


****


Jangan lupa VOTE.


__ADS_2