Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 172


__ADS_3

"Sayang Abang pulang......" kata Bilmar yang kini sudah melingkarkan tangannya di pinggang Anggia, sementara Anggia tengah berdiri di depan cermin sambil memandangi tubuhnya yang kini semakin gemuk. Sebab kini Anggia masih memberi asi pada kedua bayinya, jadi sering kali makan sebab rasa lapar selalu ia rasakan.


"Abang, lepas," Anggia melepaskan tangan Bilmar.


"Kenapa?" Bilmar bingung dan menatap Anggia.


"Abang......lihat," Anggia memperlihatkan tubuhnya pada Bilmar, "Anggi gemuk banget kan?" tanya Anggia, ingin memastikan bahwa ia tidak salah.


"Iya," jawab Bilmar apa adanya.


"O.....jadi Abang bilang Anggi gemuk!" Anggia malah kesal pada Bilmar.


"Sayang, tadi kamukan yang banyak sendiri," Bilmar malah bingun dengan jawabannya yang ternyata salah, lalu ia harus apa? Bilmar sungguh bingung berhadapan dengan yang namanya wanita.


"Anggi, emang gemuk tapi nggak usah di bilang juga kan bisa!" kesal Anggia.


Bilmar diam, menghadapi wanita memang butuh banyak kesabaran yang extra. "Kalau kamu gemuk, atau pun kamu kurus, bagi Abang kamu tetap cantik dan kamu bidadari Abang satu-satunya," Bilmar mulai mengeluarkan gombalan mautnya.


"Ih Abang," Anggia menunduk karena malu mendengar jawaban Bilmar.


"Jangan nunduk dong," Bilmar menaikan dagu Anggia hingga ia bisa menatap wajah Anggia kembali.


"Anggi malu," kata Anggia yang kembali menunduk.


"Malu?" Bilmar mengangkat sebelah alisnya, "Udah sering di jebol juga," tambah Bilmar lagi.

__ADS_1


"Abang......" ucap Anggia dengan nada kesal, "Itu mulut di filter dikit," Anggia geram dan mengepalkan tangannya di depan wajah Bilmar.


"Hehehe......jangan marah-marah, kalau orang marah-marah itu tandanya minta jatah," Bilmar kini malah semakin menggoda Anggia, sebab ia sangat suka melihat wajah merah merona Anggia.


"CK.....kan....kan....tambah parah."


"Emang kenapa?" Bilmar semakin bersemangat menggoda Anggia, sebab ia dapat melihat wajah kesal Anggia namun terlihat sangat menggemaskan sekali.


"Abang otaknya tolong di kondisikan," Anggia berjinjit dan memegang kepalaBilmar dengan kedua tangannya.


"Emang otak Abang kenapa lagi," Bilmar melingkarkan kembali tangannya di pinggang Anggia, "Kenapa?" Bilmarmar semakin mempererat dekapannya, bahkan keduanya tanpa jarak.


"Abang.....lepas," Anggia berusaha menjauh dan melepaskan diri, "Lepas," ucap Anggia. Namun Bilmar tak perduli ia masih terus melingkarkan tangannya.


"Jawab dulu, otak Abang kenapa sayang?" Bilmar tak berniat sama sekali melepaskan Anggia, yang ada kini ia semakin merasa bersemangat.


"Jangan-jangan otak kamu yang kotor," Bilmar malah membalikan keadaan, "O.....Abang tau....kamu pasti mikir yang itu," Bilmar seolah tengah menebap apa yang di pikirkan Anggia.


"Kan emang iya."


"Nggak," jabab Bilmar dengan jelas


"Iya," Anggia tak mau kalah.


"Nggak."

__ADS_1


"Iya."


"Enggak."


"Iya."


Cup.....


Bilmar malah mengecup bibir Anggia yang sangat menggemaskan, bahkan tangannya masih melingkar di pinggang Anggia.


"Ish......apaansih," kesal Anggia.


"Kan tadi Abang bilang enggak, kamu bilang iya, jadi apa lagi?" ucap Bilmar tanpa dosa.


"Haaaa," Anggia malah melongo mendengar apa yang di katakan Bilmar, "Emang otak Abang nggak pernah bener,kotor terus," Anggia melepaskan diri dari Bilmar dan ia menjauh.


Bilmar mengangkat sebelah alisnya, ia kembali mendekati Anggia, "Otak kamu yang kotor, sini Abang bersihin," Bilmar kembali menarik Anggia kedalam pelukannya.


"Aaaaaa," Anggia terkejut karena tubuhnya terhuyung kedepan, dan sesaat kemudian ia menyadari kini sudah kembali di pelukan mesra Bilmar.


"Kalau otak nggak bener......tandanya binta di benerin," Bilmar mendorong Anggia ke atas ranjang.


BUUUKKK......


Anggia terlentang dan dengan cepat Bilmar menindihnya.

__ADS_1


TAMAT.


__ADS_2