
Hay Kakak semua, ada yang bilang Anggia dan Bilmar udah end, salah Author tak pernah mengatakan demikian ya. Bagaimana mau end kebucinan Anggia belum muncul juga, kenapa Author menyelingi kisah Veli di sini itu karena Author menghindari part dewasa. Nggak ada yang bilang Anggia dan Bilmar udah tamat masih ada part di mana keduanya honeymoon dan kekocakan putra putri mereka, namun Author pikir tak ada salahnya menyelingi kisah mereka. Sementara bulan suci ini, Lagian judulnya juga sama kan? Aran juga Ceo, Veli juga dokter. Jadi sekalian aja di sini, kalau Anggia dan Bilmar end berarti tidak ada lagi lanjutan novel ini.
Happy reading.
***
"Istri ku sayang, Abang pulang......" teriak Bilmar setelah ia pulang dari kantor, sebab setelah tadi ia mengantar Ratih dan Anggia, Bilmar ada rapat penting hingga ia kembali berangkat menuju perusahaan. Namun setelah rapat selesai ia langsung pulang.
"Abang ini rumah, bukan hutan," jawab Anggi yang duduk di ranjang sambil menyusui baby Alif.
"Anak Daddy," Bilmar tak perduli dengan ocehan Anggia, ia malah mendekat dan berjongkok lalu mencium pipi gembul anaknya.
"Abang, Alif lagi minum asi," wajah Anggia memerah saat Bilmar mencium Alif saat tengah meminum asi dengan lahapnya.
"Ya....terus kenapa?" tanya Bilmar yang lagi-lagi mencium pipi Alif.
"Abang.....Anggi malu tau," kata Anggia sambil menjaukan dirinya.
"Ck....kamu bukan malu, tapi mau pura-pura malu," jawab Bilmar menggoda Anggia.
"Abang....Anggi nangis ya," kata Anggia tak kuat dengan godaan Bilmar.
"Jangan," kata Bilmar yang sedikit menjauhi Anggia, "Jangan nggak jadi," kata Bilmar lagi.
"Abang........hiks, hiks," Anggia benar-benar menangis karena Bilmar.
"Anggi kamu kenapa nangis?" tanya Ziva yang baru saja datang bersama Vano, mereka ingin melihat baby twins setelah di bawa pulang.
"Anggia minta jatah, tapi kamu tau kan Ziva? Aku lagi puasa dan ini bulan suci ramadan. Apa lagi Anggia juga masih nifas," jawab Bilmar dengan tanpa dosa, Anggia sangat kesal tentunya dengan kata-kata suaminya.
"Abang ngaco banget deh!" kesal Anggia.
"Sabar ya sayang, kamu tahan hanya sedikit lagi ya," Bilmar mengacak rambut Anggia dan mencolek hidung sang istri.
Anggia mengibaskan tangannya, tak perduli pada suami yang sangat suka menjailinya, Anggia kini menatap Ziva.
"Kalian udah lama datangnya?" tanya Anggia berbasa-basi, perlahan Ziva dan Vano mendekati baby twins.
"Barusan, aduh Alif imut banget, embul nya... Bunda Ziva," Ziva menarik gemas pipi Alif yang masih di pelukan Anggia.
__ADS_1
"Lihat dulu Daddy nya tampan begini, wajarlah anaknya juga begitu," kata Bilmar dengan bangga, "Lihat Zie, cantik kan sama seperti Ayahnya yang cantik itu," kata Bilmar menatap Vano.
"Penyakit lama lu kambuh bro?" seloroh Vano.
"Sialan lu," kesal Bilmar pada Vano.
"Bukan kambuh tapi obatnya abis, makanya kumat," jawab Ziva sambil tertawa.
"Ziva kamu bener-bener ya," kesal Bilmar.
Vano berjalan mendekati Bilmar, dan berbisik.
"Gw udah punya dua bini, dan anak gw baru satu, nah lu....udah baru nikah tapi langsung dapat dua baby, sepasang lagi. Hebat lu bro," Vano menepuk pundak Bilmar dengan bangga.
"Gw mah gercep bro," jawab Bilmar setengah berbisik.
"Hebat lu, baru kenal terus japri dan gercep, pepet tros hajar," kata Vano.
"Gampang, asal selesai libur ini gw gempur abis," jawab Bilmar.
"Mas, kalian ngomongin apasih?" tanya Ziva yang sedari tadi bingung melihat Bilmar dan Vano yang menatap mereka dan berbisik-bisik.
"Anggia aku balik ya, Zie tinggal di rumah dia lagi demam besok aku ke sini lagi," pamit Ziva.
"Ya udah, kasihan juga Zie, dah....Bunda Ziva," Anggia menirukan suara anak kecil seolah Alif yang berbicara.
"Dah.....anak Bunda," jawab Ziva, lalu ia mencium pipi Alma dan pulang.
"Abang mau buka puasa pakek apa, biar Anggi siapin," kata Anggia sambil meletakan Alif ke dalam box bayi lalu mengambil Alma untuk di beri asi.
"Abang buka puasa pakek air putih, sami kiss dari kamu aja yang, itu aja Abang udah kenyang," jawab Bilmar sambil duduk di samping Anggai.
"Abang bisa nggak, sehari aja nggak usah godain Anggi," kata Anggia tanpa menatap Bilmar.
"Nggak usah, marah-marah juga kali yang," jawab Bilmar.
"Anggi nggak marah, Anggi tanya," kata Anggia dengan jelas.
"Nah....kan, kamu marah lagi, jangan marah ya yang, tinggal menghitung hari kan Abang udah bisa tengokin kamu," kata Bilmar sambil menunjuk kalender yang sudah ia beri tandai merah dan tinggal beberapa hari lagi ia bisa berbuka dengan yang manis-manis.
__ADS_1
"Huhhhhh," Anggia membuang nafas berbicara dengan Bilmar tak pernah mendapatkan jalan keluar, yang ada hanya jalan buntu.
"Kamu frustasi yang? Sabar tinggal menghitung hari," kata Bilamar mencolek dagu Anggi, "Alma, jangan di abisin ya Nak, Daddy puasa, nanti kalau kamu abisin Daddy buka puasa pakek apa," kata Bilmar pada Alma, Anggia hanya bisa membuka mulut dengan lebar karena ucapan konyol Bilmar.
"Abang......" kesal Anggia.
"Iya sayang, sabar," seloroh Bilmar menggedipkan sebelah matanya.
"Abang......" kata Anggia menahan kesal.
"Sabar sayang, nanti Abang minum obat biar kuat," kata Bilmar lagi dengan menunjukan wajah seriusnya.
"Ck....." Anggia putus asa dan lebih memilih diam untuk kali ini.
"Sayang, abis ini bikinin Abang kopi ya buat buka puasa, Abang nggak mau kopi buatan Art," kata Bilmar membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Kenapa?" tanya Anggia sambil sebelah tangannya menyisir rambut Bilmar.
"Kalau yang buatnya kamu pasti pakek cinta yang," kata Bilmar sambil meletakan tangan Anggia di pipinya.
"Iya, Anggi buatin," Anggia bangun dari duduknya dan meletakan baby Alma di box karena sudah kenyang dan tidur dengan lelap, "Tapi buka puasa masih beberapa jam lagi, jadi nanti aja ya," kata Anggia yang kini duduk kembali di ranjang.
"Iya," jawab Bilmar dan ia ikut duduk bersampingan dengan Anggia.
"Abang," panggil Anggia.
"Iya," jawab Bilmar menatap Anggia dan menanti apa yang akan di katakan istrinya.
"Makasih udah buat hidup Anggi lebih berarti, makasih Abang udah cinta sama Anggi," Anggia tertunduk dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sayang," Bilmar mengangkat dagu Anggia, dan mengusap air mata bahagia yang membasahi pipi istrinya, "Abang yang berterima kasih sama Anggi, karena udah mengandung anak Abang. Abang minta maaf karena kamu ngandung anak Abang, kamu hampir kehilangan nyawa, terus kamu sampai sters, maaf ua sayang," Bilmar menarik Anggia dalam pelukannya, mengingat bertapa besar pergobanan Anggia untuk putra putrinya.
"Anggi seneng dan iklas, Anggi cuman pengen Abang sayang terus sama Anggi selamanya," kata Anggia memeluk Bilmar tengan erat.
"Iya sayang, yang peluknya udah ya....Abang sesak yang," kata Bilmar menunjuk jarum keramatnya.
"Abang....." Anggia menukuli Bilmar karena otak suaminya tak pernah bersih, selalu saja kotor.
"Namanya juga cowok normal yang," kata Bilmar.
__ADS_1