Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 150


__ADS_3

Jika Ratih dan Rianda tengah dikamar sibuk dengan mengenang masa lalu mereka yang penuh canda dan tawa, maka bedahalnya dengan Bilmar dan Anggia. Keduanya kini berada di kamar juga, tengah di repotkan dengan kedua bayi mereka yang rewel, dan keduanya minta minum asi dengan bersamaan.


"Alif, giliran Daddy kapan?" tanya Bilmar dengan wajah sayu menatap mainannya yang tengah di nikmati oleh kedua bayinya.


"Abang......" Anggia sangat tidak suka mendengar Bilmar yang suka sekali asal bicara jika sedang bersama anak-anaknya.


"Mommy sayang, Daddy juga butuh kasih sayang," kata Bilmar pada sang istri, keduanya bila di hadapan anak-anaknya akan menggunakan panggilan Mommy dan Daddy agar anak-anaknya mengikuti panggilan itu.


"Daddy otak dan mulutnya tolong di kondisikan."


"Ck.....Abang dapat jatah nggak sih yang, buat malam ini?" tanya Bilmar lagi tanpa perduli Anggia yang kesal padanya.


"Iya nanti, sabar," jawab Anggia menatap kedua bayinya yang tengah lahap meminum asi.


"Yes....." Bilmar meloncat dari atas ranjang dan mulai berdiri di lantai.


"Abang mau ngapain?" tanya Anggia bingung.


"Olah raga, biar lebih mudah," Bilmar mulai melakukan banyak gerakan, dari berjalan di tempat, berlari kecil mengelilingi kamar dan melakukan push-up.


"Abang, ngapain sih!" Anggia lagi-lagi geleng-geleng sebab kelakuan Bilmar sangat jauh berbeda bila berhadapan dengan orang-orang di luar sana, bahkan mungkin tidak akan ada yang menyangka jika Bilmar adalah seorang pria penuh humoris saat di rumah.


"Sayang kan Abang udah bilang tadi, ini pemanasan," Bilmar kembali mengingatkan Anggia tentang apa yang tadi ia katakan.


"Terserah Abang saja," Anggia meletakan satu persatu bayi-bayinya di bok bayi.


"Sayang udah?" tanya Bilmar dengan semangat, padahal ia sudah melihat tapi masih saja bertanya.


"Udah," jawab Anggia tersenyum.


"Yes!" Bilmar dengan semangat meloncat ke atas ranjang.


BRAKKKK.


Ranjang kayu itu ambruk seketika, dan Bilmar sudah tertidih kayu di bawah sana.


"Abang," Anggia panik dan ia berusaha menolong Bilmar.


"Sayang....." Bilmar keluar dengan tubuhnya yang terasa remuk.

__ADS_1


"Kenapa ranjangnya bisa roboh begini?" tanya Bilmar kesal.


"Sial, padahal udah pasang kuda-kuda," gumam Bilmar.


TOK.....TOK.....TOK.....


Terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu.


CLEK...


Anggia membukanya dan melihat seorang pria di sana.


"Maaf nyonya muda, saya kemari cuman mau mengangkat ranjangnya. Kemarin nyonya Ratih meminta untuk mengganti ranjang milik tuan muda dengan ranjang yang baru, namun kemarin anak saya sakit hingga harus di larikan segera kerumah sakit. Saya menundanya untuk memasang ranjang yang baru malam ini saja, dan ranjang itu sudah renggang sekali karena sebagian sudah saya bongkar bagian bawahnya," ucap pria tersebut.


"Pak Herman, kenapa nggak bilang dari tadi. Saya sudah jatuh dan tertimpa ranjang," kesal Bilmar.


"Maaf tuan," Herman menunduk sambil melihat kondisi ranjang yang sudah berantakan.


"Maaf-maaf!" Bilmar memijat tengkuknya yang terasa sakit, "Cepat ganti yang baru!" lanjut Bilmar lagi dengan kesal.


"Abang udah, nanti Alma sama Alif kebangun," kata Anggia, "Sini Anggi pijitin," Anggia memegang tengkuk Bilmar dan mulai memijatnya.


"Bereskan itu ranjangnya, saya mau tidur di kamar tamu saja!" Bilmar menarik Anggia menuju kamar tamu, sedangkan Alma dan Alif tidur bersama dengan masing-masing pengasuh mereka.


"Udah, jangan marah-marah terus. Lagian Abang ngapain pakek lompat segala tadi, untuk Anggi lagi nggak di atas ranjang," Anggia tertawa lebar mengingat bertapa konyolnya Bilmar, sampai terjatuh karena ranjang ambruk.


"Sayang kamu ngejek Abang?" Bilmar bangun dan menatap Anggia dengan tajam, "Berani kamu ketawain suami," lanjut Bilmar lagi.


"Ahahahahaa, abisnya Abang lucu. Udah kayak pengantin baru aja," tutur Anggia tanp bisa menghentikan tawanya.


"Sayang," Bilmar dengan gerakan cepat langsung mendorong Anggia hingga terlentang, dan dengan cepat ia menindihnya, "Kamu harus di hukum, karena sudah nakal," kata Bilmar sambil mengkung Anggia.


"Abang yang aneh, tadi udah semangat banget pakek pemanasan," kata Anggia yang tak bisa lupa dengan kejadian barusan.


"Abang nggak aneh sayang, Abang tadi lagi semangat aja," jelas Bilmar membela diri, "Sayang kalau posisi kita gini Abang jadi inget pas kita di Vila dulu ya, Abang masih nyimpan sprei nya loh yang," kata Bilmar ia ingat saat itu Anggia dan dirinya pertama kali melakukan itu.


"Ngapain sprei nya di simpan?" Anggia bingung.


"Buat kenangan terindah dalam hidup Abang," Bilmar semakin mendekatkan wajahnya, sementara Anggia perlahan menutup mata menantikan sesuatu yang akan menyentuh bibirnya.

__ADS_1


"Sssssstttttt......." Anggia mendesah, ketika bibir merah merekahnya di lahap habis, dengan tangan nakal itu yang mulai meremas gundukannya.


Perlahan namun pasti semua terjadi, para readers bayangkan saja sendiri.


Pagi harinya, Anggia merasa cukup lelah karena permainan Bilmar.


"Sayang," Bilmar menoel-noel hidung Anggia, hingga mengusik tidur wanita cantik itu.


"Abang," Anggia memeluk Bilmar dengan cepat, dan masih menutup matanya dengan lelap.


"Sayang, kamu pagi-pagi begini cantik banget sih," Bilmar kembali mengecup bibir sang istri karena rasa gemas, "Abang sayang sama Anggi, selamanya," tutur Bilmar tepat di daun telinga Anggia.


"Emangnya selama ini Anggi nggak cantik?"


"Cantik, cuman pagi ini lebih cantik," Bilmar kembali menindih tubuh sang istri, yang semakin membuatnya candu.


"Abang mau ngapain?"


"Bikin anak!" jawab Bilmar dengan singkat dan jelas.


"Katanya udah cukup," kata Anggia yang mengingat tentang perkataan Bilmar tempo hari.


"Sayang, kata Mami kita bakalan nikah ulang terus sekalian dengan pestanya juga. Mami mau orang di luar sana semua tahu kalau Abang udah punya istri," Bilmar mengatakan apa yang di katakan Ratih tempo hati padanya.


"Anggi ikut aja," Anggia tersenyum mendengar apa yang di katakan Bilmar, sebab menikah dengan seorang pria dan mengadakan pesta walau pun sederhana itu sudah menjadi impian semua wanita begitu juga dengan Anggia.


"Abis itu kita ulang semuanya ya yang, biar seperti pengantin beneran," Bilmar yakin Anggia tahu maksudnya.


"O....kalau gitu sana jauh-jauh," Anggia mendorong tubuh Bilmar agar bangun dari atas tubuhnya.


"Kok jauh-jauh? Udah keras banget yang."


"Kan tadi Abang bilang sendiri kalau semua kita ulang lagi setelah menikah ulang, jadi jangan deket-deket Anggi dulu biar Abang kangen banget sama Anggi," jelas Anggia.


"Ya tapi nggak segitu nya juga yang."


"Mulai besok malam kita pisah kamar. Sampek kita nikah lagi, biar Abang kangen sama Anggi."


"Sayang nggak usah sampek segitunya jugakan, suntik keramat Abang nggak akan kuat kalau semalam nggak nyuntikin kamu yang."

__ADS_1


***


Authot receh bakalan lanjut nanti siang, tapi Author receh mohon berikan VOTE saya mohon sekali kepada readers yang bermurah hati pada Author receh seperti saya. Tanpa kalian apalah saya, Terima kasih banyak.


__ADS_2