Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 143


__ADS_3

Ke esokan harinya.


Hari ini Aran harus bekerja, sebab sedari kemarin ia tidak masuk bekerja karena permasalahan rumah tangganya dan kini pekerjaan benar-benar sudah menunggunya di kantor. Apa lagi lebaran akan segera tiba, jadi ia harus lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya agar bisa berkumpul bersama keluarga tanpa memikirkan pekerjaan.


"Veli cepat ganti baju," Aran menarik Veli yang masih berada di bawah selimut, dan membawanya masuk ke kamar mandi, "Cepat, mandi Mas tunggu," kata Aran.


"Mas, Veli ngantuk banget," Veli beberapa kali mengusap wajahnya karena masih sangat mengantuk, sementara Aran memaksanya bangun untuk menemaninya ke kantor.


"Nanti di kantor lanjut tidurnya," jawab Aran, yang menatap gemas tingkah Veli dengan rambut acak-acakan di tambah lagi dua kancing piamanya terlepas hingga dua gundukan terlihat menyembul. Namun Veli sama sekali tak menyadarinya.


"Mas," Veli kesal karena semalam ia sangat sulit tidur, sebab Aran memeluknya dan Veli tak terbiasa di peluk apa lagi yang memeluknya Aran, "Veli nggak usah ikut, lagian Veli ngapain coba di kantor?" tanya Veli kesal, sebab Aran masih terus ingin ia juga ikut.


"Ayolah, Khumaira sayang. Mas nggak bisa jauh-jauh dari kamu," kata Aran yang masih mencoba membujuk Veli.


"Uhuk.....uhuk....." Veli mendadak terbatuk-batuk mendengar panggilan manis Aran.


"Veli," Aran menatap wajah Veli dengan sedih dan penuh harap.


"Ok....tapi nanti temenin Veli ke mall ya," kata Veli tersenyum karena akan ada Aran yang membayar semua belanjaannya.


"Ke mall?" tanya Aran lagi, sambil mengingat jadwalnya yang cukup padat hari ini.


"He'um," jawab Veli manggut-mangut.


"Tapi jadwal Mas padat Khumairah," jawab Aran lagi.


"Ish....." Veli kesal dan langsung menutup pintu kamar mandi, ia mandi dan tidak berapa lama kemudian keluar hanya dengan barutan handuk kimono saja.


Aran duduk di sopa sambil memainkan ponselnya, Veli lansung melewati Aran begitu saja tanpa perduli kini Aran menatapnya dengan berulangkali mendeguk saliva. Aran menggelengkan kepala dan menepuk-nepukkannya agar tetap tersadar. Setelah Veli selesai dengan pakaiannya, ia kemudian mengambil tas tangan miliknya di lemari memilih salah satu yang ia anggap cocok dengan kemeja hitam dan jeans yang ia kenakan.


"Ayo Mas, Veli udah siap," Veli berdiri di hadapan Aran.


Aran memperhatikan penampilan Veli mulai dari bawah perlahan ke atas.


"Itu kancingnya dua ngapain di buka?" kesal Aran yang melihat dua kancing kemeja Veli sengaja tak di kancing dan itu menampakan bagian leher jenjang istrinya.

__ADS_1


"Mas, apa sih......biar keren tau Mas," kata Veli dengan bangga.


"Itu bukan biar keren, tapi kamu minta ada yang mainin. Sini Mas mainin, duduk," Aran menepuk paha nya agar Veli duduk di sana.


"Yeeee, paan coba. Iya udah iya. Veli kancing nih....." dengan cepat Veli mengancing bajunya, agar Aran tak berkata aneh lagi.


"Itu celananya di ganti, ganti sama rok yang kembang dan panjang," kata Aran lagi sebab ia tak mau Veli menampakan bentuk tubuhnya pada orang lain, terutama pria.


"Mas, nggak keren dong kalau di ganti rok, itu jadi cewek cupu yang ada," kesal Veli.


"Kalau kamu nggak mau ganti rok pakek sarung," kata Aran dengan tegas, "Apaan coba, pakek celana ketat, terus kemejanya di masukin kedalam. Kamu itu istri Mas Khumairah hanya untuk memuaskan Mas, jadi jangan memuaskan pria haus di luar sana," kata Aran, agar Veli tau ia tak rela tubuh istrinya di lihat banyak orang.


"Mas, ngomongnya di filter dikit napa?" jawab Veli dengan cemberut.


"Udah sana, ganti. Kalau nggak kamu Mas kurung," kata Aran mengeluarkan kalimat ancaman.


"Kurung? Di mana?" tanya Veli.


"Di hati Mas!" jawab Aran dengan jelas, sebab mana mungkin Aran tega mengurung istri cantiknya, "Kalau nggak Mas kurung di kamar ini mau?" tanyaAran lagi.


"Kalau di kamar di kurungnya sama Mas, loh..." jawab Aran yang tak melihat Veli lagi, namun Veli masih mendengar apa yang di katakan Aran.


"Mas!" teriak Veli dari ruang ganti baju.


"Kenapa?" tanya Aran panik.


"Cicak!!! Veli takut, geli Mas," teriak Veli lagi.


Dengan cepat Aran berlari dan langsung masuk ke ruang ganti dan benar saja di atas punggung Veli ada cicak, dengan cepat Aran mengambilnya.


"Sama cicak aja takut!" tutur Aran.


"Veli bukan takut, tapi geli," jawab Veli dengan tegas di wajah Aran.


"Emang ada dokter takut cicak?" tanya Aran lagi.

__ADS_1


"Veli nggak takut Mas, Veli geli!" tegas Veli memperjelas ucapannya, "Dokter juga manusia Mas, sama seperti manusia lainnya yang punya sisi kekurangan. Nggak ada yang sempurna!" ucap Veli menyelesaikan ucapannya.


"Yaudah....nggak usah marah-marah, nanti cantik nya hilang bidadari ku sayang," ucap Aran sambil menarik gemas dagu Veli.


DEEG.


Entah sudah berapa kali Aran memanggilnya dengan nada lembut dan juga panggilan yang begitu indah, tapi untuk kali ini Veli benar-benar tak bisa mengkondisikan jantungnya. Yang jelas Veli yang cerewet mendadak diam, Veli yang suka membantah mendadak menurut saja. Ada apa dengan jantung yang tak berhenti berdetak itu? Ada apa dengan hati yang kini selalu merasa tenang di saat bersama Aran? Ada apa dengan tubuh yang kini ingin di dekap hanyat oleh orang yang dulu ia benci itu?.


"Khumairah sayang, kenapa diam. Ayo," Aran merangkul pundak Veli dan keduanya keluar dari rumah dengan terlihat begitu dekat.


Laras saja yang tengah menyiram bunga di taman tersenyum melihat Veli dan Aran yang terlihat begitu mesra.


"Ma, Veli ikut ke kantor Mas Aran ya," pamit Veli mencium punggung tangan Laras.


"Aran juga Ma," Aran ikut mencium punggung tangan Veli.


"Iya Nak," jawab Laras tersenyum pada Aran.


"Ma....Papa mana?" tanya Veli yang sedari tadi tak melihat sang Papa.


"Papa udah ke kantor, katanya hari ini ada meeting penting," Laras menatap Aran dan menekankan kata penting, sebab Satria akan meeting dengan Aran.


"Ma, Aran berangkat sekarang," kata Aran dengan buru-buru tak lupa tangannya menarik Veli.


"Ma Veli jalan ya...." kata Veli setengah berteriak, karena Aran menariknya sudah cukup jauh. Bahkan ia berjalan sampai terhuyung-huyung karena langkah Aran yang terlalu lebar.


"Sayang masuk," Aran membuka pintu untuk Veli dengan gerakan cepat Veli masuk, dan Aran juga ikut masuk.


"Mas, kenapa di tarik. Sakit tau Mas," kesal Veli pada Aran yang sedang menyalakan mesin mobil, hingga sesaat kemudian mobil sudah melaju membelah jalanan.


"Sayang, Mas ada meeting sama Papa," kata Aran.


"Ya terus kenapa haru buru-buru, bukannya bisa lebih santai kan sama Papa doang," kata Veli yang tidak mengerti keadaan, karena Veli adalah anak manja jadi ia pikir begitu.


"Kalau dulu Papa kamu yang takut sama Mas, Mas bebas mau telat. Kalau sekarang dunia sudah berputar Sayang, Mas udah cinta banget sama anaknya."

__ADS_1


DEEG


__ADS_2