Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 168


__ADS_3

Entah siapa orang yang sudah membuat Veli hampir kehilangan janinnya sampai kini belum bisa di ungkap, sebab permainan orang tersebut terlihat sangat rapi. Dan Aran pun masih fokus memikirkan Veli yang baru saja sadarkan diri, menurut Aran saat ini yang terpenting adalah Veli dan calon anaknya. Sedangkan yang lainnya bisa di tunda sampai kondisi Veli membaik.


"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Aran tersenyum, saat ia melihat Veli perlahan membuka mata.


Veli mengangguk dan melihat sekitarnya, Veli sangat mengenali ruangan dan tempat di mana kini ia berada. Hingga mata Veli menatap Laras dan Ratih juga di sana, keduamya tengah menatap Veli juga dengan tersenyum.


"Kamu sudah sadar Nak?" Laras langsung memeluk Veli dan menghujaminya dengan kecupan, rasa bahagia Laras tak bisa ia tutupi saat melihat mata Veli kini terbuka.


"Ma, kepala Veli masih pusing," ucap Veli.


"Iya sayang, biar Mama pijitin," Lastri memijat kepala Veli dengan penuh kasih sayang.


*


Dua hari kemudian.


Dua hari sudah berlalu, kini Veli sudah di bawa pulang, tapi Veli pulang kerumah Anggia dan Bilmar. Sebab jika di rumah Bilmar ada Anggia yang bisa melihat keadaan Veli setiap waktunya, selain itu Bilmar dan Aran juga ingin fokus mencari tahu siapa orang yang sudah berani melakukan kejahatan pada Veli. Di rumah Bilmar juga lebih aman, karena Veli tak sendirian bila Aran pergi bekerja.


"Gimana?" tanya Anggia, di pagi hari ini Anggia langsung ke kamar Veli. Untuk melihat keadaannya.


"Aku mual Ngi," jawab Veli sambil memijat kepalanya.


"Biasalah pagi-pagi, kamu bukannya dokter?" seloroh Anggia, "Kamu ngertilah, masa belaga bodoh," lanjut Anggia lagi.


"Beda dong Ngi, dokter kandungan juga masih butuh dokter. Kamu juga lahiran butuh dokterkan? Kamu bisa operasi sendiri, terus ngeluarin baby twins sendiri?" tanya Veli kesal.


"Iya, iya Bumil, nggak usah ngegas juga. Bu dokter jangan marah-marah, kasihan yang di dalam," kata Anggia tersenyum menatap sahabatnya.


"Ngi, kira-kira siapa ya, yang udah coba buat racunin aku," tanya Veli penasaran, sebab ia pun sangat ingin tahu siapa orang itu.


"Iya sih Vel, coba kamu ingat-ingat. Apa kamu punya musuh? Atau seseorang yang kamu curigai?" Anggia sengaja bertanya demikian agar lebih mudah mendapatkan petunjuk orang tersebut.


"Kalau dulu aku cuman suka ribut sama Sasa, kamu taukan Ngi? Tapi nggak mungkin dia, soalnya dia udah baik banget sekarang. Terus kita udah sahabatan, selain itu aku nggak ada deh bermasalah sama siapa pun," kata Veli mengingat-ingat siapa yang bermasalah dengan dirinya.

__ADS_1


"Iya juga sih," Anggia sangat kenal siapa Veli, dan jika Veli bermasalah dengan orang lain ia pasti langsung di beritahu oleh Veli.


"Ngi aku mual banget deh....." Veli bergegas turun dari ranjang, ia berjalan menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Anggia juga membatu Veli dengan memijat tengkuk sahabatnya itu agar terasa lebih ringan.


"Hueekkk, huekk....." Veli terus memuntahkan isi perutnya, hingga akhirnya ia merasa lelah dan kembali ke ranjang dengan bantuan Anggia.


"Kamu duduk dulu ya, biar aku olesin minyak angin," kata Anggia sambil mencari minyak angin di laci meja nakas, "Kamu waktu tinggal di apatr juga suka mual nggak?" tanya Anggia sambil tangannya terus mengolesi minyak angin, pada tubuh Veli.


"Iya, setiap pagi. Kadang tengah malam juga," jawab Veli.


"Emmm.....minum obat mual nggak?" tanya Anggia.


"Ngga usah deh.....aku bau obat juga mual banget banget," jawab Veli, hingga tak lama berselang Aran masuk dan melihat Veli dan Anggia berada di kamarnya.


"Mas," kata Veli menatap Aran yang masih berdiri di pintu.


"Iya, masih mual?" tanya Aran.


"Aku keluar dulu ya, nanti aku suru Art buat bawain sarapan," kata Anggia lalu ia melangkah keluar.


Setelah kepergian Veli, Aran menutup pintu dan berjalan mendekati Veli.


"Sayang ponsel kamu di mana?" tanya Aran.


"Di atas meja rias, kenapa Mas?" tanya Veli, sebab tak biasanya Aran bertanya mengenai ponselnya.


"O," Aran berjalan medekati meja rias dan mengambil ponsel Veli, setelah itu ia memasukannya kedalam saku jasnya.


"Mas, ponsel Veli kenapa di kantongin?" tanya Veli semakin bingung, "Veli dari pagi juga belum lihat, apa mungkin ada yang hubungin Veli apa enggak," kata Veli ingin ponselnya kembali, sebab dari semalam ia memang belum sempai melihat ponselnya.


"Kamu nggak boleh main ponsel, soalnya kamu butuh banyak istirahat. Nanti kalau kamu udah baikan baru Mas balikin," jawab Aran, kini ia duduk di samping Veli dan menyisir rambut sang istri dengan jari-jarinya.


"Veli nggak main ponsel, cuman kalau ada yang hubungin Veli. Baru Veli pegang ponselnya," kata Veli yang masih mencari alasan.

__ADS_1


"Sayang, kamu harus istirahat. Mas nggak suka di bantah," ucap Aran dengan tegas.


"Yaudah terserah Mas aja," kata Veli, ia tak mau ambil pusing hanya karena ponsel. Mungkin apa yang di katakan Aran memang benar, "Mas Veli mau nonton televisi aja, tolong nyalain dong," kata Veli lagi.


Aran bingung harus apa, sementara di luar sana tengah heboh berita mengenai Veli yang sedang di kamar hotel bersama seorang pria. Lebih tepatnya saat satu bulan yang lalu dimana Veli bersama Farhan berada di kamar hotel, entah siapa yang menyebarkan vidio dan fhoto Veli memasuki kamar hotel itu. Aran tak mau karena berita ini Veli jadi tertekan sebab kandungan Veli masih sangat lemah, Anggia juga menyarankan agar Veli tak stres sebab mengancam janin Veli.


"Televisinya, sedang rusak. Nanti Mas beli yang baru ya," kata Aran mencoba bernegosiasi dengan Veli, karena Veli tak boleh tau tentang berita yang tengah heboh di luar sana. Aran adalah salah satu pengusaha sukses, jadi bila ada sedikit saja berita miring tentang kehidupan mereka, maka akan langsung menjadi topik trending berita.


"Gimana sih, televisi juga rusak!" kesal Veli.


Aran diam saja, ia pun sedang berusaha agar berita itu segera meredam sebelum Veli tau. Bahkan Aran meminta semua orang di rumah itu untuk tutup mulut, dengan tidak ada yang boleh menonton televisi sampai semua meredam.


TOK.....TOK......TOK......


Terdengar suara ketukan pintu.


CLEK.


Aran membuka pintu.


"Ada apa," tanya Aran pada seorang Art yang berdiri di depan kamarnya


"Tuan di bawah ada tuan Satria dan juga nyonya Laras," kata Art tersebut.


"Iya," jawab Aran setelah itu ia kembali menutup pintu.


"Ada Mama sama Papa ya Mas?" tanya Veli dengan bahagia, sebab sekarang Satria dan Laras memang sangat sering mengunjungi dirinya.


"Iya tap......" Aran berniat menghentikan langkah Veli, karena ia takut Satria akan menanyakan kebenaran mengenai di kamar hotel itu. Namun Veli sudah terlebih dahulu keluar menemui kedua orang tuanya dengan bahagia.


***


Jangan lupa LIKE, VOTE, Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2