Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 53


__ADS_3

Buat kak Otong Wiranto makasih tips nya ya.


****


Pagi harinya.


"Hueekkkk, hhuuueekkk," sepertinya sudah menjadi rutinitas Anggia setiap pagi muntah-muntah, rasa mual di pagi hari tidak bisa lagi ia hindari.


Anggia keluar dari kamar, saat ia keluar ternyata Bilmar juga keluar. Dengan jail Bilmar yang melewati kamar Anggia langsung menyetil dahi Anggia tanpa bicara.


"Ish," gerutu Anggia sambil mengelus dahinya, Bilmar seperti tidak bersalah setelah menyentil Anggia ia berlalu begitu saja. Sementara Anggia masih berdiri dengan tatapan tajam pada Bilmar yang berjalan membelakanginya, "Nggak sopan," kata Anggia sambil mulai berjalan di belakang Bilmar.


Bilmar berbalik dan tersenyum mendengar perkataan Anggia, "Siput jalan, jangan ngesot," kata Bilmar mengejek Anggia.


"Saya bukan siput," Anggia mempercepat langkahnya untuk mengejar Bilmar.


"Kamu siput copet," kata Bilmar sambil melanjutkan langkahnya.


Anggia kini sudah mendekati Bilmar dengan cepat Bilmar berbalik memegang kepala Anggia, Anggia berusaha berjinjit demi bisa membalas sentilan Bilmar tadi di kepalanya.


"Minum susu dulu biar tumbuh tinggi," seloroh Bilmar tanpa melepas kepala Anggia.


"Saya sudah besar dan bukan siput!" teriak Anggia, dengan tangan terus berusaha menggapai kepala Bilmar tapi tidak pernah bisa.


"Nggak bisa dik sekolah dulu minum susu biar tumbuh tinggi," Bilmar terkekeh melihat usaha Anggia yang selalu gagal.


"Hiks, hiks," Anggia menyerah dan menghentakan kakinya, membuat Bilmar panik.


"Hey jangan begitu, ingat kandungan kamu!" Bilmar melepas Anggia karena khawatir takut Anggia terlalu kuat menghentakan kakinya dan bayinya yang kenapa-kenapa.


"Biarin, ejek ajah terus," kesal Anggia berjalan pergi meninggalkan Bilmar.


"Siput tunggu," teriak Bilmar sambil berjalan di belakang Anggia.


"Saya bukan siput!" teriak Anggia.


"Ck, jangan marah-marah nanti cepat tua," jawab Bilmar lagi.


Anggia menghentikan langkahnya dan berbalik sambil berkacak pinggang, tidak lupa dengan tatapan tajam Bilmar.


"Tuan mau apa?"


"Mau kamu!" jawab Bilmar sambil menatap tajam Anggia kini keduanya hanya berjarak beberapa senti saja.


"Aku nggak mau!"


"Kenapa?"


"Tuan gila!"


"Tergila-gila sama kamu!"

__ADS_1


"Oh ya," Anggia mendekatkan tubuhnya pada Bilmar, kali ini Bilmar mundur karena merasa hawa panas, "Saya nggak suka sama tuan," jawab Anggia lalu lagi meninggalkan Bilmar.


Bilmar mengikuti Anggia yang kini keduanya duduk di kursi meja makan.


"Nggak suka nggak suka saya apa-apain mau," gumam Bilmar.


"Tuan mengupat saya?"


"Nggak siput, kamu souzon mulu ngak bagus buat kesehatan ibu hamil, yuk sarapan."


Bilmar mengambil sarapan untuk Anggia, tapi Anggia banyak proters mengerjain Bilmar.


"Tuan ayamnya nggak jadi, daging ajah," kata Anggia.


"Iya sudah," Bilmar mengganti sesuai permintaan Anggia.


"Tuan saya nggak jadi daging, telor aja," kata Anggia lagi.


Bilmar menatap Anggia dengan tatapan tajam, Anggia merinding dan menangkup kedua tangannya.


"Hehehe, ampun," kata Anggia.


"Kamu mau telor?" tanya Bilmar dengan tegas.


"I-iya," jawab Anggia hati-hati.


"Telor ini atau telor keramat?" tanya Bilmar dengan wajah datarnya.


Begitu pun Bilmar ia mengisi piring dan duduk memulai sarapannya, tapi satu hal yang masih menjadi hal yang cukup menggangu pikiran Anggia dengan pertanyaan mengenai telur keramat.


"Tuan telur keramat memang ada?" tanya Anggia sambil terus menyendok nasi goreng ke mulutnya.


"Uhuk, uhuk," Bilmar tersedak dengan pertanyaan Anggia, "Memangnya kamu tidak tau tentang telur keramat?" Bilmar terkekeh mendengar pertanyaaan Anggia, ia pikir Anggia mengerti ternyata wanita di hadapannya ini masih terlalu tabu dalam hal itu.


"Hehehe," Anggia menggeleng, "Bentuknya apa sama dengan telur ayam?" tanya Anggia lagi.


"Mmmfffpp," Bilmar tidak mampu lagi melanjutkan sarapannya, bahkan untuk mengunyah nasi di mulutnya saja rasanya sangat susah.


"Tuan jawab!" tanpaknya Anggia cukup penasaran sebab ia belum pernah mendengar telur keramat.


"Bentuknya gitu lah, tapi dia dua," kata Bilmar sambil memegang perut yang terasa sakit, karena menahan tawa.


"Tuan nggak jelas, nanti Anggi tanya Mami aja," jawab Anggia merasa kesal.


Tanya Mami bisa di gorok leher gue.


"Eh, jangan," kata Bilmar dengan panik.


"Kenapa?" Anggia sudah selesai dengan sarapannya dan kini ia fokus menatap Bilmar.


"Nanti kamu tanya pas kita udah nikah, biar saya tunjukin."

__ADS_1


"Nikah?" tanya Anggia shock, sungguh di kepala Anggia tidak pernah lagi terpikir untuk menikah, entah sampai kapan yang jelas tidak saat ini.


"Me-a-i Nanti saya jawab ya saya makan dulu," tutur Bilmar dengan gelagapan dan kembali melanjutkan makannya.


Mulut keceplosan.


"Tuan nggak seru, di tanya nggak jelas!"


"Makanya jangan di tanya, praktek biar jelas," kesal Bilmar, pertanyaan Anggia justru memacing jiwa mesumnya datang di oagi hari yang cerah ini.


"Tuan maksudnya gimana sih?"


"Anggia kalau kamu berhenti menanyakan itu, hari ini kamu saya ajak ke mall jalan-jalan," tawar Bilmar.


"Ok, saya ganti baju dulu," kata Anggia dengan semangat sambil meninggalkan Bilmar untuk berganti baju.


"Selamat!" Bilmar menyandarkan tubunnya di kursi setelah terbebas dari pertanyaan-pertanyaan Anggia.


"Hai bro," Aran duduk di samping kursi yang Bilmar duduki.


"Makan juga lu?" seloroh Bilmar.


"Iyalah," jawab Aran sambil menaruh nasi di piring, "Lu bener-bener ya, ngajarin Anggia ilmu nggak bener," Aran tadi sebenarnya mau ikut bergabung makan tapi saat melihat pertengkaran Anggia dan Bilmar ia malah menjadi penonton saja.


"Gue pikir dia ngerti, ternyata?" Bilmar menarik nafas panjang, ternyata status wanita itu saja janda, otaknya masih sangat suci.


"Dia nggak pernah di ajarin sama lakinya dulu kali."


"Apaan di ajarin, orang yang ambil mahkota tu cewek aja gue," tutur Bilmar mengingat malam itu.


"Lu serius Bil?" tanya Aran shock.


"Iya gue serius, status janda tapi ya gitu lah...." Bilmar tidak mungkin menjelaskan pada Aran, Bilmar tidak rela Aran membayangkan tubuh montok Anggia yang selalu tertutup baju longgar yang ia kenakan.


"Gila, menang banyak lu," seloroh Aran mengacungkan jempol pada Bilmar.


"Tuan, saya sudah siap," Anggia yang sudah datang di hadapan Bilmar.


"Mmfffp," Aran menahan tawa mendengar panggilan Anggia, "Anggia kamu panggil dia siapa?" tangan Aran menunjuk wajah Bilmar.


"Tuan Bilmar," jelas Anggia.


"Bro itu calon bini atau calon pembantu?" bisik Aran di telinga Bilmar, "Ahahaha," Aran pun tidak jadi melanjutkan sarapannya, ia malah memilih pergi meningkalkan dua manusia aneh yang selalu berdebat.


Sememtara Bilmar kini menggaruk kepala sudah dua orang yang mengejeknya, yaitu sang Mami dan sekarang Aran. Bilmar bingung bagaimana caranya Anggia memanggilnya dengan panggilan yang lain.


"Tuan," Anggia mengibaskan tangan di wajah Bilmar yang sedang terhanyut dalam lamunan nya.


****


JANGAN LUPA VOTE YA SAYA LAGI SRMANGAT NULIS NI.

__ADS_1


__ADS_2